CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Ririn seperti Penjahat


__ADS_3

Riko menatap pelaku yang merupakan seorang laki-laki paruh baya dan bertubuh besar dan perawatan seram.


"saya akan melepaskan Mu, setelah kamu mengatakan siapa yang menyuruhmu?"


Riko bertanya dengan raut wajahnya yang tenang, tapi nada suara yang tinggi. pelaku yang sudah babak belur karena di hajar oleh pengunjung taman, pelaku hanya bisa terdiam dan meringis kesakitan.


"saya hanya menjalankan perintah bos Ku?"


ujar pria itu dengan nada yang ketakutan, Riko meminta handphone dan meminta nomor kontak mana yang menyeluruh nya bertindak.


Tapi Riko seperti melakukan scanning terhadap handphone tersebut, lalu melemparkannya ke arah pria itu.


"pak security, tolong lapor polisi. karena mereka telah membuat pengunjung taman ini kwatir."


Ujar Riko dan security yang membawa mereka kemari hanya mengangguk lalu bergerak cepat.


"ayo pulang disini sudah tidak aman."


Tangan istrinya di raih olehnya, lalu pergi meninggalkan pos security tersebut.


Sesampai di rumah, Riko terlihat sibuk dengan handphone genggam nya. setelah beberapa saat Riko kemudian menghampiri istrinya yang duduk termenung di sofa ruang tamu.


"mas mau pergi dulu, kamu disini dan jangan kemana-mana, paham?"


"paham mas."


Ririn hanya bisa mematuhi perintah suami nya, dan seketika itu juga Riko langsung bergerak meninggalkan rumah. sementara Ririn kembali ke kamarnya.


sesampainya di kamar Ririn kembali membuka catatan nya, urutan peristiwa yang di catat nya membuat semakin bingung.


disela-sela kebingungan nya, handphone Ririn berbunyi. ada nomor baru yang masuk, dan Ririn menjawab panggilan itu dengan ragu.


' Ririn... ini papa.'


'papa tahu dari mana nomor handphone Ririn'


' Sarah yang memberikan, sekarang kamu sudah hebat ya.


Setelah kamu menikah dengan pria kaya raya, kamu bertindak dengan merugikan banyak orang.


Perceraian papa dan mama, papa setujui. sebentar lagi pengadilan akan mengeluarkan akte perceraian nya.'


'bagus kalau begitu pa, hanya ini yang papa beritahukan ke Ririn?'


'cepat cabut gugatan mu terhadap Nina, kamu ini apaan sih?


Ibu nya Nina itu bos Papa di kantor, jika Ririn tidak mencabut gugatan itu maka Papa akan di pecat nya.'


'terus Pa.'


'sarah kan sahabat mu, kenapa kamu tega-teganya menjebaknya?

__ADS_1


benar-benar kamu ini, kamu harus berbaikan dengan Sarah dan kembali kan om nya ke tempat kerjanya semula.


Segera cabut laporan mu terhadap Nina, Papa ngak mau di pecat dari kantor gara-gara hal sepele seperti ini.


Adik mu sebentar lagi mau lahir, nanti biaya hidupnya papa dapat dari mana jika papa di pecat.'


' itu urusan Papa, kenapa Ririn harus berpikir keras?'


'kamu jangan egois Rin, ingat adik mu sebentar lagi mau lahir. Papa minta tolong, segera cabut tuntutan terhadap nina.'


'halo pa... halo....'


yups hal itu sengaja di lakukan oleh Ririn, karena seolah-olah dia yang menjadi jahat. Ririn memutuskan hubungan sepihak dengan Papa nya.


Ririn kemudian mencari kontak suami nya di handphone nya, hanya menekan tombol angka 1 pada layar sentuh itu. kontak suami nya langsung muncul dan terhubung otomatis.


'mas lagi sibuk?'


'ngak cuman ngobrol aja, ada apa?'


'seperti nya Papa Ririn ada di balik semua ini mas, Ririn mintak tolong.


Tolong mas selidiki nomor handphone Papa, kalau bisa semua keluarga ku dan teman-teman ku di kampus yang nomor handphone Ririn simpan.


Apa bisa memblokir nomor handphone seluruh keluarga Ku, kecuali mama, serta teman-teman ku.'


'bisa sayang.'


Hubungan telpon seluler tersebut berakhir, dan baru selesai bicara dengan Riko, handphone Ririn kembali berdering dan itu nomor Papa nya yang baru saja menghubungi nya.


Ririn menunggu panggilan itu tersebut berakhir, setelah berakhir Ririn menyimpan kontak tersebut lalu memberikannya dengan suami nya.


Kali ini mama nya yang menelpon nya, sapaan mama nya begitu lembut dan jelas terdengar suara yang bahagia.


'kak....


Mama dan Adit sudah keluar dari rumah sakit ya, tapi kami berdua sekarang sudah berada disebuah apartemen.'


'loh kok di apartemen mah? kenapa ngak pulang ke rumah kita aja?'


'tadi papa mu datang ke rumah sakit, dia marah-marah karena kakak melaporkan Nina ke polisi atas pencemaran nama baik.


papa mu mengancam mama, jika tidak berhasil membujuk kakak untuk mencabut laporan itu maka mama dan Adit dalam bahaya.


Langsung mama adukan ke nak Riko, lalu nak Asep menjemput kami ke rumah sakit ini dan membawa kami ke apartemen ini kak.


Untuk sementara sampai keadaan kondusif, mama dan Adit akan tinggal disini. nak Riko sudah melengkapi semua keperluan kami.


Apartemen ini full pengawasan dan sisi TV yang aktif, hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke apartemen ini.


Untuk sementara kita jangan terlalu sering berhubungan ya kak, mama kwatir akan keselamatan kakak.

__ADS_1


kakak jaga diri baik-baik ya, semoga semua terkendali agar kita bisa bertemu lagi.'


'iya mah, papa ada bicara hal lain mah?"


'iya kak, Papa mu menyetujui perceraian, seperti proses perceraian akan berjalan dengan cepat.


Terimakasih ya kak karena sudah membantu mama.


Mama sudah merasa muak dengan Papa mu, selalu menuntut mama untuk berpenampilan sempurna, sementara nafkah dari nya nihil.


Mama mau aja setiap hari ke salon, Klinik kecantikan untuk mempercantik diri. tapi semua butuh uang kak.


Jangan kan membeli skincare, biaya makan kita sehari-hari aja mama, harus menjadi pembantu.


Hanya papa mu yang bernampilan modis, sementara kita hidup ala kadarnya.


Mama rela meninggalkan maskapai penerbangan sebagai pramugari demi keluarga, papa mu dulu berjanji akan memenuhi semua kebutuhan keluarga, tapi itu janji tinggal janji.'


'sudah ya mah, lupakanlah semua. kita harus melihat kedepannya.'


'iya sayang, jaga dirimu baik-baik ya kak.?'


Berpikir sejenak dan Ririn kemudian menghembuskan nafasnya dalam-dalam, hidup yang rumit dan penuh dengan misteri.


Ting nong.... Ting nong....


Itu adalah panggilan telepon rumah dari pos security, setelah melihat dari tampilan layar ternyata Papa nya menghampiri Ririn di rumah ini.


"halo Bu, ini ada tamu. ngakunya sebagai papa nya ibu.


Sementara bapak tadi melarang kami untuk menerima tamu.


Gimana ini Bu?"


"bisa saya bicara sebentar dengan tamu itu pak?"


"mohon tunggu sebentar ya bu.'


Hanya beberapa saat, suara Papa nya terdengar dengan nada yang marah.


"papa tahu darimana kalau Ririn tinggal disini?"


"dari Sarah."


Ririn langsung memutuskan hubungan telepon tersebut, dan tidak berapa lama telepon tersebut berbunyi lagi.


"usir dia pak, dia itu sudah orang lain bagiKu. jika perlu panggil polisi."


"baik Bu, segera kami laksanakan."


Ririn lagi-lagi menghela nafas panjang nan berat, tarik napas dalam-dalam dan buang.

__ADS_1


Itulah yang dilakukannya secara berulang-ulang, hingga akhirnya bisa tenang.


__ADS_2