CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Nekat.


__ADS_3

POV Reza.**


Kali ini lahar panas miliknya berhamburan di ra**m istrinya, setelah agak lemas lalu barang miliknya di cabut.


Terlihat ada becak darah di spray, bercak darah itu ada karena penetrasi yang dilakukan Reza di lobang lain dan Sonia masih meringis kesakitan, karena area matahari nya di jebol oleh sang suaminya.


Reza sudah duduk di ranjang dalam keadaan telanjang, dan dia tersenyum ke arah istrinya yang menangis karena kesakitan.


"dasar saiko, bapak sama anak sama-sama saiko. sekarang ceraikan saya mas. kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan biadab."


"tidak akan Sonia sayang, hanya kamu yang menjadi istriku saat ini. jika mas menceraikan mu, kemana mas melampiaskan nya?"


"mas berbohong, dasar biadab."


"terserah kamu sayang, toh juga selama ini kamu berbohong kepadaKu. kamu selalu beralasan halangan ketika aku ajak bermain, kenapa kamu melakukan itu?"


Tanya Reza lagi, tapi Istrinya tidak menjawabnya, karena istrinya terdiam lalu Reza meraih dagu istrinya dengan kasar.


"hei....


kalau suami nanya, kamu jawab. punya mulut itu dipakai untuk ngomong."


Terlihat Reza emosi, dan istrinya berusaha melepaskan dagunya dari gemgaman Reza. kemudian Sonia menatap tajam ke arah suaminya itu.


"aku ngak sanggup mengimbangi punya yang besar itu mas, itu sangat sakit karena terlalu besar bagiKu.


Mas mainnya terlalu lama, sehingga membuat pedih dan sakit."


"kamu seharusnya ngomong sayang, biar mas bisa sesuaikan."


Sanggah Reza kepada istrinya, lalu kemudian berdiri dan membuka pintu.


"terserah kamu mau kemana jika tidak ingin tinggal di rumah ini, tapi aku akan mencari mu, karena kamu masih istriku."


Ucap Reza dan kemudian pergi ke kamar mandi, setelah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi.


Reza tersenyum karena melihat istrinya masih duduk di ranjang.


"baik, saya akan tetap menjadi istrimu. kita sama-sama melawan Ririn dan juga kebijakan kantor yang memecat kita secara sepihak."


"baik sayang, pertama kita jual dulu rumah yang kamu tempati untuk modal kita melawan Ririn dan keluarganya Brayan dan kantor."

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua sepakat untuk melawan Ririn dan keluarga Brayan, ayah dari Bagas dan Nina.


"kamu kan sekretaris nya bu Rohaya, jadi pergunakan kesempatan ini."


Sonia tersenyum kecut kepada suaminya atas saran itu, lalu Sonia beranjak dari tempat tidur dan kemudian pergi ke kamar mandi.


Tidak lama kemudian Sonia sudah berpakaian rapi dan memakai riasan yang tebal untuk menutupi wajahnya yang memar karena ditampar oleh suaminya.


"ayo mas kita mulai dari rumah pak Brayan."


Ucapnya kepada suaminya dan mereka secara bersama-sama pergi ke rumah kediaman keluarga Bagas.


Sesampai di rumah Brayan, mereka berdua di sambut oleh asisten rumah tangga.


"Kalian semua tahu kan kalau saya adalah sekretaris bu Rohaya, ibu memberikan kuasa kepada saya untuk mengurus keuangan keluarga.


Saya yang akan bertindak mengurus semuanya, dan itu adalah perintah dari ibu Rohaya."


Ujar Sonia kepada para asisten rumah tangga itu, dan mereka semua hanya mengangguk. sebab Sonia sudah sering ke rumah mewah itu dan bertindak jauh atas perintah dari ibu Rohaya sebagai bos nya di kantor.


Sonia mengambil kartu kredit serta uang tunai yang banyak dari laci meja di kamar pribadi Rohaya bersama suaminya, kemudian pergi, alasan mau ke rumah untuk mengurus Bagas dan Nina.


Sesampai di rumah sakit dan menghadap ke administrasi, Sonia mengaku sebagai sekretaris ibu Rohaya dan akan bertindak sepenuhnya.


"baik Dokter, tolong lakukan yang terbaik."


Jawab Sonia ke dokter laki-laki yang menjadi lawan bicaranya, lalu Sonia kemudian membubuhkan tandatangannya ke formulir persetujuan.


Kemudian melakukan pembayaran dengan cara menggesek kartu kredit yang diambil dari laci meja kamar Rohaya.


Setelah urusan administrasi seleksi, dokter tersebut dan beberapa dokter lain dan juga perawat langsung beranjak pergi.


Sonia dan suaminya mengikuti arah langkah petugas medis tersebut, ternyata mereka menuju kamar ICU dimana Bagas dan Nina di rawat secara intensif.


Lalu Bagas dan Nina dibawa ke ruang operasi, dan Sonia serta suaminya menunggu di pintu ruang operasi.


Mungkin tiga jam mereka berdua menunggu dan akhirnya dua dokter keluar dari ruangan tersebut.


"operasi berjalan lancar dan semoga pasien bisa segera melewati masa kritisnya."


Ucap salah dokter tersebut, lalu mereka pergi. kemudian Bagas dan Nina dikeluarkan dari ruang operasi yang masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


Kemudian mengikuti tenaga medis itu, lagi-lagi Bagas dan Nina dibawa ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif pasca operasi.


Sonia dan suaminya hanya menunggu di depan pintu, lalu Sonia melirik suaminya.


"jalan-jalan yuk mas, kita kan sudah punya kartu kredit ini."


Reza hanya tersenyum lalu mengganguk setuju dan mereka pun langsung berlalu.


Ternyata mereka berdua menuju pusat perbelanjaan elit, dan langsung menuju toko perhiasan yang di pusat perbelanjaan tersebut.


Sonia berbelanja perhiasan hingga satu kartu kredit over limit, dan kemudian menuju tas branded.


Kartu kredit kedua sudah over limit, lalu pergi ke toko pakaian branded dan akhirnya kartu kredit ketika over limit.


Sekarang sisa uang tunai yang bisa digunakan, dan mereka berdua kemudian menuju klub malam.


Semalam suntuk mereka menghabiskan uang tunai yang ambil dari kamar pribadinya Rohaya.


Setelah uang tersebut habis barulah mereka pulang ke rumah.**


Sonia terbangun karena handphone di hubungi seseorang, dan ternyata itu dari rumah sakit.


Pihak rumah memberitahu kalau Bagas dan Nina sudah sadar dan mereka berdua pun langsung bergegas.


Sesampainya di rumah sakit, ternyata Bagas dan Nina sudah ditempatkan di ruang rawat biasa tentunya ruangan VVIP.


Ternyata Bagas dan Nina masih belum sadarkan diri, lalu Sonia menghampiri perawat yang bertugas di ruangan tersebut.


"mbak, Kenapa Bagas dan Nina masih belum sadar?"


Tanya Sonia kepada perawat tersebut, lalu perawat itu berhenti melakukan aktivitas nya dan menoleh ke arah Sonia.


"tadi dokter sudah menyuntikkan penenang kepada kedua pasien, karena mereka berdua memberontak.


Hal disebabkan karena tidak menerima kondisi fisik mereka yang cacat, dimana kaki dari keduanya sudah amputasi dan tangan kanan pasien yang bernama Nina, ikut di amputasi juga."


"berapa lama itu bertahan mbak?"


"perkiraan sekitar tiga jam ibu, tapi bisa lebih cepat sadar atau lebih lambat. itu tergantung dari kekuatan imun mereka berdua.


Saya pamit dulu ya bu, jika pasien sudah sadar atau ibu dan bapak butuh bantuan medis atau bantuan lainnya. tolong tekan tombol merah itu dan kami akan segera datang kemari."

__ADS_1


Tutur perawat tersebut, lalu beranjak pergi setelah pekerjaan nya selesai.


__ADS_2