
POV Reza.*
Reza papanya Ririn kaget melihat kedatangan sepasang suami-istri yang sudah paru baya, tatapan mereka berdua begitu tajam dan penuh dengan kemarahan.
"mana Dinda putri kami?"
Ucap perempuan paru baya itu, lalu Reza menunjuk ke arah kaca suatu ruangan, dimana Dinda di rawat yang belum sadarkan diri pasca operasi Caesar.
"kamu gila ya, dasar suami yang ngak berguna. kamu kemana aja? sehingga Istrimu bisa seperti ini?"
"itu terjadi begitu saja pak, mahasiswi itu menendang Dinda, gadis itu menuduh Dinda selingkuh dengan Papa nya.
apa yang bisa aku perbuat? saya juga lagi ada masalah, tolong jangan buat keributan."
Pria paru baya itu akhirnya diam setelah dibentak oleh Reza, sorot matanya yang begitu sedih ketika melihat Dinda yang terbaring lemah di ranjang di ruangan ICU (intensif care unit).
Tiba-tiba ada kehebohan dalam rumah sakit, ternyata tiga pasien dalam kondisi kritis sedang ditangani dokter.
Sepertinya pasien sudah mendapatkan pertolongan medis dan akhirnya dibawa ke ruangan ICU, begitu terkejutnya Reza melihat tiga pasien yang hendak masuk ke ruangan ICU itu.
'Bagas, Nina, Sarah....'
Ucap Reza spontan setelah melihat ketiga pasien itu dengan bantuan alat medis yang menempel ditubuhnya.
Setelah beberapa saat kemudian, dokter dan dua perawat keluar dari ruang ICU itu.
"dok, dokter....
Pasien laki-laki itu calon suami putriku, apa yang terjadi? kenapa dia bisa seperti itu?"
Dokter itu menghela napas panjang, lalu kemudian melihat ke arah Reza.
"mereka bertiga kritis, dari hasil ronsen. kaki kanan yang pria dan kedua wanita itu patah, serta tangan kanan kedua wanita itu patah.
bagian organ dalam yaitu trakea perlu observasi lebih lanjut, kami butuh persetujuan walinya untuk melakukan tindakan operasi."
"baik Dok, akan saya hubungi sekarang keluarga mereka bertiga."
Seketika itu juga Reza langsung menelpon ibu Rohaya, mama dari Bagas serta Nina. kemudian menghubungi mama nya Sarah.
Setelah memberitahukan kabar tersebut, lalu datang dua polisi yang berjaga-jaga di area ruangan ICU tersebut.
"pak apa yang terjadi? kenapa Bapak-bapak harus berjaga di sini?"
"di kampus ketika pasien terjadi kerusuhan akan demonstrasi, dan ketiga anak itu adalah biang keroknya.
Mereka bertiga dikeroyok oleh mahasiswa lainnya, dan seperti ini jadinya, emangnya bapak ngak nonton berita di televisi?"
__ADS_1
Lalu Reza meraih handphonenya lalu terlihat sibuk dengan handphone genggam itu, tiba-tiba saja dia terlihat begitu syok.
"Ririn...."
Mertua Reza lalu mendekati nya, dengan tatapan yang tajam menatap Reza.
"Ririn itu putri mu kan?"
Reza menolah bapak mertua Nya, lalu mengganguk.
"selamat karena kehancuran mu sudah tiba, kamu akan segera hancur berikut dengan antek-antek mu."
Ucap bapak mertua Nya, lalu menarik tangan istrinya untuk pergi dari ruang ICU tersebut.
"bapak dan ibu mau kemana?"
tanya Reza yang melihat bapak ibu mertuanya hendak berlalu.
"iya mau pulang, ngapain kami disini? yang sakit itukan Istrimu."
"Dinda itu putri bapak dan ibu, kok tega ninggalin dalam keadaan seperti ini?"
Dengan tatapan tajam, bapak mertua nya mendekati Reza, lalu....
plak....
Reza ditampar oleh bapak mertuanya, tangannya besar itu terlihat gemetaran dan raut wajahnya yang penuh amarah.
Jika Dinda meninggal dunia, kamu akan saya seret ke penjara. Dinda meninggalkan kami berdua hanya karena pria bajingan seperti kau.
Sekarang putri mu sendiri yang menghancurkan mu, seperti putriku sendiri menghancurkan kebahagiaan keluarga Ku.
Pria bajingan dan bangsat seperti kau, patut masuk neraka."
Reza hanya terdiam dan kemudian menatap wajah bapak mertua nya dengan tatapan rasa kasihan.
Duduk lemas di kursi dan sorot matanya yang menggambarkan amarah, lalu seorang pria mendekati Nya.
"pak Brayan, kita langsung aja ke bagian administrasi!"
Ucap Reza kepada pria yang bernama Brayan tersebut, dia adalah Papa dari Bagas dan Nina.
"dokter... dokter...
apa yang terjadi terhadap anak-anak Ku? bagaimana keadaan nya sekarang?"
Tanya Brayan kepada salah satu dokter yang berada di bagian administrasi tersebut.
__ADS_1
Pertanyaan yang sama sama juga datang dari seorang perempuan paru baya, ternyata dia adalah Isaya. mamanya Sarah, yang tidak kalah paniknya dengan Papa nya Bagas.
"kami butuh persetujuan wali dari ketiga pasien untuk melakukan operasi besar."
"operasi apa Dok?"
Dengan berderai air mata, mama nya Sarah bertanya lagi.
"Kaki kanan ke tiga pasien mengalami patah tulang dan itu tidak bisa diselamatkan lagi, kaki kanan tersebut harus amputasi segera.
tulang paha dan persendian lutut sudah pecah, demikian juga dengan tangan kiri kedua pasien perempuan."
"amputasi dok? apa tidak ada jalan lain?"
"tidak ibu, tulang pecah dan beberapa sudah tembus ke kulit luar. amputasi jalan satu-satunya untuk pasien."
Mereka sejenak berpikir dan terlihat mama nya Sarah menghubungi seseorang dengan Isak tangisannya.
Demikian juga dengan Papa nya Bagas, setelah beberapa saat mereka berdua menandatangani surat persetujuan tersebut dan dokter langsung bertindak.
Mereka bertiga menunggu di pintu rumah operasi, tidak berapa lama mama nya Bagas sudah tiba, begitu juga dengan Papa nya Ririn.
Duduk, berdiri lalu mondar-mandir. begitulah hingga berjam-jam dan akhirnya dua dokter keluar dari ruangan operasi.
"bagaimana Dok?"
Tanya mama nya Sarah dengan berderai air matanya, demikian juga yang lainnya yang terlihat cemas menunggu jawaban dari dokter.
"operasi berjalan lancar, setelah melewati masa kritisnya. dokter ahli bagian dalam akan melakukan serangkaian pemeriksaan dan mungkin akan operasi lagi."
"apalagi itu dokter?"
lagi-lagi mamanya Sarah bertanya lagi, kini air mata itu semakin deras mengalir.
"menurut hasil ronsen, beberapa bagian organ vitalnya mengalami luka, seperti ginjal dan ususnya.
Tindakan amputasi harus didahulukan, untuk mengambil tulang-tulang yang pecah agar merambah ke area vital lainnya.
Nantinya dokter ahli bagian dalam akan menemui bapak-ibu, dan tindakan selanjutnya setelah pasien melewati masa kritisnya."
Mamanya Sarah langsung pingsan, tapi tidak dengan mama nya Bagas. dari raut wajahnya terlihat dendam yang membara.
Papanya Sarah membawa istrinya untuk ruang rawat, dan dokter langsung memberi nya pertolongan medis.
Pasein sudah kembali ke ruang rawat ICU dan mereka duduk menunggu di tempat tunggu yang telah disediakan.
Papanya Sarah kemudian menghampiri Reza, terlihat raut wajahnya yang penuh dengan amarah yang hendak menyerang Reza.
__ADS_1
Kedua Polisi yang berjaga itu langsung mengamankan mereka, dan alhasil mereka dibawa keluar dari ruang tunggu ICU.
Mereka beringirin keluar ruangan, kecuali mama Sarah yang masih berada diruang rawat, dan kemudian menuju kantin rumah sakit, mereka memilih ruang pojok untuk ngobrol.