
Riko menepati janjinya untuk menemani istrinya berbelanja, setelah mendapatkan semua yang di butuhkan oleh Ririn. akhirnya mereka pulang ke rumah.
Ririn terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mandi, setelah Ririn keluar dari kamar mandi kemudian yang hanya mengenakan kimono.
Lalu suaminya pun berlalu ke kamar mandi, Ririn sudah berpakaian tidur yang transparan alias seksi tujuannya adalah untuk menggoda suaminya.
"mas....."
Ririn mengelus dada suami yang baru keluar dari kamar dan hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya.
Tangan kanan Ririn sudah mulai nakal, dan kini bergeliat di area pusar suami nya. seketika itu juga tangan nakal itu di tangkap oleh Riko karena hendak merogoh senjata miliknya yang tersembunyi di balik handuk itu.
"mas butuh waktu, mohon sabar."
Hanya itu di ucapkan oleh Riko, lalu mengambil pakaian dari lemari kemudian mengenakan lalu rebahan di sofa.
Walaupun sedikit kesel karena di tolak suaminya, Ririn menyelimuti suaminya dengan selimut dan memberikan bantal di kepalanya.
Ririn kemudian berbaring di ranjang, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya.**
Pagi-pagi sekali Riko terbangun seraya tersenyum karena dirinya di peluk oleh istrinya di sofa tempat nya tidur.
"kamu ngapain sih? kan sudah mas katakan butuh waktu."
"iya pengen aja berpelukan dengan mas."
Jawab Ririn kepada suaminya lalu bangkit dan menuju kamar mandi.
Ririn dan suaminya sudah berada di meja makan, dan lagi-lagi Mpok Ina hanya tersenyum sumringah menyambut sepasang suami istri itu.
Selesai sarapan pak Deden mengantarkan Ririn ke kampus, dan baru saja sampai sudah disambut oleh Sarah dan Nina adik perempuan bagas.
"kamu sungguh sangat kejam Ririn, tega-teganya kamu memecat om ku."
"Sarah.....
bukan aku yang memecat om kamu, aku ngak punya kuasa untuk memecatnya.
Saya disana hanya kerja Part time, lagi pula itu semua karena ulah mu.
Untuk apalah kamu mengadu mengenai kehidupan percintaan mu terhadap om kamu? kan aneh gitu.
Sedekat apapun kita terhadap Om, tidak etis curhat mengenai percintaan. ingat kita ini hidup Indonesia yang kental dengan nilai-nilai kesopanan."
"saya ngak butuh ceramah Mu, kembalikan om ku bekerja lagi di Adijaya group."
"Sarah....
jika kamu merasa terima, gugat aja ke Pangadilan. saya ngak punya kuasa untuk mengembalikan om kamu ke Adi jaya group."
__ADS_1
"kamu benar-benar egois Ririn, dimana persahabatan mu?"
"sudahlah Sarah, kamu ngak perlu menggurui ku tentang persahabatan.
Kamu yang memulai, aku pikir kamu tulus bersahabat dengan ku yang malang ini. tapi nyata kamu menusuk ku dari belakang.
Maaf sekali lagi, aku harus pergi. karena ada urusan yang harus aku selesaikan."
"Ririn....."
Nina Adi perempuan Bagas, berteriak memanggil Ririn yang hampir melangkah kakinya.
"kenapa Nina?"
Ririn menyahut nya dan menghentikan langkahnya, terlihat dari wajah lawan bicara menunjukkan raut wajah yang kesal.
"aku ngak mau di keluarkan dari kampus ini, sudah semester 6 ini. masa aku harus mencari kampus swasta lain untuk lanjut.
Dari kampus negeri turun menjadi kampus swasta, aku ngak mau ya.
Cabut pengaduan mu, aku ngak mau berurusan dengan Mu."
"mau pindah kampus, dan kamu semester 100 pun. aku ngak peduli Nina.
kesabaran ku sudah habis, ntah berapa kali kamu menghina Ku. selesai sendiri masalah Mu dan pertanggungjawaban hinaan mu terhadap Ku."
Nina berteriak dengan mengatai Ririn sedemikian, tapi Ririn pura-pura tidak mendengarkan Nya.
'aneh ya, bukan mintak maaf tapi malah memaki lagi.'
'mangnya apa masalahnya?'
'itu loh, yang memaki itu menuduh yang nggak-nggak kepada yang di maki tadi. dan akhirnya di laporkan ke polisi.'
Begitu sekilas obrolan dua orang mahasiswi yang kebetulan mendengar teriakan Nina yang memaki Ririn.
Ririn kini sudah berhadapan dengan dua pembimbing skripsinya, Bu Sari sebagai ketua disipliner kampus datang hendak memberikan laporan tentang penilaian secara non akademik yaitu perilaku selama perkuliahan kepada dosen pembimbing Ririn.
"menurut catatan saya, Ririn tidak pernah berbuat hal yang mempermalukan nama baik kampus, dan tidak seorang pengajar atau pegawai administrasi yang mengeluh akan sifat dari saudara Ririn.
untuk ini Ririn, saya nyatakan layak untuk melanjutkan skripsinya guna memenuhi persyaratan untuk keperluan memperoleh gelar S.Tr.Anim atau Sarjana terapan Animasi.
Tapi ada satu hal yang ingin saya pertanyakan kepada saudari Ririn.
Apakah saudari Ririn bersedia untuk tidak melibatkan kampus dalam hal perkara penghinaan yang dilakukan saudari Nina terhadap Anda?"
"terimakasih Bu Sari atas semua penuturan ibu. selama ini saya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk diriku sendiri, dan keluarga.
Dengan cara menjaga sikap, tindakan dan juga lisan. baik di area kampus ataupun di lingkungan sosial saya.
__ADS_1
Masalah saya dengan Nina, murni masalah pribadi. itu tidak berkaitan dengan kampus, dan saya berjanji tidak akan melibatkan kampus dalam masalah saya ini."
"baik Nina, apakah kamu tidak mencoba untuk memaafkan nya?"
"maaf Ibu, saya juga manusia biasa. yang mempunyai perasaan.
Ini bukan yang pertama kali nya Nina menghina ku di hadapan Umum, sudah berulangkali.
Tadi Nina menemui saya, dan Nina tidak niat untuk memperbaiki kesalahannya.
Dia membentak ku dan mengatai Ku perempuan ****** di hadapan teman-teman yang lainnya.
Bu....
Saya perempuan, sakit hati ini yang selalu di permalukan di hadapan umum, saya tidak pernah meminta apapun kepada Nya, tapi kenapa Nina selalu merendahkan Ku?
Saya memang berasal dari keluarga miskin, tapi bukan berarti Nina berhak merendahkan diri ku di hadapan umum.
Saya berani bersumpah demi apapun, saya bukan perempuan seperti yang di sampaikan oleh Nina.
Mama ku telah mengajarkan kepadaKu untuk menjadi perempuan yang baik, menjaga akhlak dan menjaga diri. ngak apa-apa menjadi miskin, asalkan jangan miskin akhlak."
Ririn menangis saat mengutarakan nya, kemudian Bu Sari memberikan tissue untuk menghapus air matanya.
"baiklah Ririn, semuanya ibu serahkan kepada Mu. hati yang terluka tidak baik untuk di pendam."
Bu Sari meninggal ruangan tersebut sembari memberikan laporan kepada dosen pembimbing.
Dosen pembimbing yang terdiri dari dua wanita paru baya seketika merasa iba melihat Ririn.
"Ririn tenangkan dirimu ya, atau mau kita tunda dulu?"
"ngak perlu Bu, jangan di tunda Bu. Ririn juga ingin cepat-cepat lulus."
"baiklah kalau begitu, bisa kita lanjutkan?"
Ujar salah satu dosen pembimbing tersebut, dan Ririn menyanggupi Nya.
Ririn menjelaskan detail dari desain nya, berupa iklan suatu produk yang di kemas secara animasi dengan perpaduan Video.
Ririn menjelaskan teori secara lugas dan jelas, terlihat kedua dosen pembimbing tersebut menyukai cara Ririn menyampaikan penjelasan Nya.
Demikian juga dengan rancangan program desain, dijelaskan secara rinci dan jelas.
"baik, setelah kami berdua berdiskusi dan menetapkan proposal kamu ini layak untuk di lanjutkan. Kami menunggu proses selanjutnya."
"terimakasih ibu."
Ririn terlihat begitu bahagia, karena proposal nya sudah lulus dan mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing Nya.
__ADS_1