
POV Riko.*
Riko tersenyum setelah selesai menerima telepon dari istrinya, lalu meraih kunci mobilnya.
Berjalan dan terus berjalan hingga akhirnya tiba di halaman rumahnya, taksi online yang dipesannya melalui aplikasi sudah tiba di depan rumahnya.
Hari sudah sore dan tidak berapa lama kemudian, Riko sampai di halaman sebuah rumah yang lumayan mewah.
Menunggu sebentar hingga benar-benar gelap, jam digital di handphonenya menunjukkan pukul pukul tujuh malam.
Lalu tersenyum setelah melihat mobil terparkir di depan rumah tersebut, dan terlihat lampu sudah menyela di rumah tersebut.
Masuk secara mengendapkan dari pintu belakang rumah, dan kemudian mengunci pintu rumah.
"Riko."
Itu adalah suara tante Irma, dia begitu terkejut melihat kehadiran keponakannya itu.
"kapan datangnya? kok ngak mengetuk pintu?"
Srak.... pras.....
sert....... Sert....... Sert....... sert....... Sert.......
Mulut tante Irma disekap lalu diseret ke kamar tidurnya, lalu mengikat tubuhnya di kursi meja rias yang terdapat di kamar tersebut.
"percuma berteriak, ruangan ini sudah dilengkapi dengan peredam suara. sekuat apapun kamu teriak, itu tidak akan terdengar."
"apa mau Riko? kenapa tante di ikat seperti ini?"
Tatapan Riko begitu tajam kearah tante Irma, sang tante terlihat begitu ketakutan melihat tatapan mata dari keponakannya itu.
"kenapa kamu tega mengganti obat mama?"
Kini tante Irma sudah menangis dan ketakutan, karena tidak menyangka kalau keponakannya ini akan berbuat nekad seperti itu.
"Papa dan atok mu yang menyuruhku, semua itu untuk mendapatkan harta mama mu.
Riko, tolong lepaskan ikatan ini, kita ngobrol baik-baik."
Ucapan dari tante Irma tidak ditanggapi oleh Riko, tapi malah mengambil tank dari tas nya, lalu meraih tangan kanan tante Irma.
"ah..... sakit Riko..... sakit ......
ah...... a.....h.......a........ a.........."
Tante Irma menjerit kesakitan, karena kuku ibu jari kanannya di copot oleh Riko dengan menggunakan tang.
"a........ ah....... ah...... a.....h.......a........ a.........."
Lagi-lagi tante Irma berteriak kesakitan, karena kuku tangan berikutnya di copot oleh Riko.
"dimana sertifikat rumah dan sertifikat kebun kopi milik Atok?"
"tente ngak tahu....
__ADS_1
a........ ah....... ah...... a.....h.......a........ a.........."
Berteriak lagi, kini tiga kuku tante Irma sudah copot.
"sama Papa mu, mungkin saja sudah di jualnya.
A........ ah....... ah...... a.....h.......a........ a.........."
Empat kuku sudah tercabut, tapi jawaban dari tante Irma tidak membuat Riko puas.
"sertifikat itu ada di rumah Atok mu, di Jogja. di brankas dan brangkas itu ada di kamar di gudang rumah."
Lalu Riko berhenti melakukan aktivitas Nya, kemudian menatap tajam ke arah tantenya itu.
"dari mana Papa mendapatkan uang untuk membeli rumah Istri baru nya itu?"
"Tante ngak tahu?
A........ ah....... ah...... a.....h.......a........ a.........."
seluruh kuku tangan nya tante Irma sudah copot, dan kini beralih ke tangan kiri.
"Kebun atok mu sudah di jual dan hasil penjualannya untuk membeli rumah yang ditempati oleh Papa mu dan istrinya. sisanya tante pakai untuk operasi plastik di Korea."
Air mata yang berderai dan menahan rasa sakit, tante Rina menatap keponakan itu.
"apa benar Rida meninggal?"
Riko bertanya lagi, lalu menjepitkan tang di ibu jari kiri Nya.
"iya.
A........ ah....... ah...... a.....h.......a........ a.........."
"dasar saiko, gila kamu ya. sakit Riko, anak biadab.
A........ ah....... ah...... a.....h.......a........ a.........."
Kuku jari telunjuknya kini dicopot paksa oleh Riko.
"iya mantan istri kedua mu itu masih hidup, dan sudah kembali ke suaminya. mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, yaitu kebun satu hektar dan rumah mewah serta mobil.
Jenazah itu adalah orang, semua itu ide dari Papa mu."
Tang sudah menjepit kuku jari selanjutnya, dan kemudian menatap tante Irma.
"dimana mereka tinggal?"
Kuku itu tercabut karena tante Irma memberitahukan alamat mantan istri keduanya dan juga foto copy sertifikat rumah yang ditempati oleh mantan istri keduanya tersebut.
Lalu Riko kembali duduk di hadapan tante Irma dan menjepit kuku Nya.
"siapa dokter yang mengoperasi mama?"
Ternyata alamat dokter yang mengoperasi mama nya ada di tas, dimana keberadaan foto copy sertifikat itu dan sudah ditangan Riko.
__ADS_1
"Kenapa tante dan Papa berusaha membunuh ku?"
"A........ ah....... ah...... a.....h.......a........ a.........."
Tente Irma berteriak lagi karena kuku Nya dicopot paksa, itulah adalah kuku ke empat. dan sekarang kuku jari kelingking nya yang dijepit.
"karena kamu mengetahui rencana kami untuk melenyapkan mama mu dan juga atok mu, Papa dari mama mu."
Jawab tante Irma dengan suara yang bergetar, itu dikarenakan rada sakit dari kukunya yang dicabut paksa.
"kenapa anak-anak mpok harus di kirim keluar negeri?"
"A........ ah....... ah...... a.....h.......a........ a.........."
Suara teriakan dari tante Irma, kini seluruh kuku kirinya sudah copot dan darah segar menetes ke lantai.
Kemudian beralih ke kaki kanan, kuku ibu jari kaki kanannya sudah dijepit oleh oleh Riko menggunakan tang tersebut.
"anak-anak si mpok ikut campur dan telah mengetahui rahasia kami."
Teriakan demi teriakan keluar dari mulut tante Irma, karena seluruh kuku kakinya dicabut paksa oleh Riko.
"anak gila, saiko, edan kamu."
Makian dari tante Irma tidak di indahkan oleh Riko, kemudian memutar kursinya dan menghadap ke arah meja rias tersebut.
Kemudian membakar sprei lalu berjalan ke arah dapur dan membuka instalasi kompor gas.
Dengan segera Riko keluar dari rumah tersebut.
Dari kejauhan Riko menatap rumah tersebut, dan terdengar suara ledakan.
Rumah tersebut terbakar hangus, bersama tante Irma yang berada di kamarnya dengan posisi duduk dimeja riasnya.
Seluruh kuku tangan dan kakinya sudah copot paksa oleh Riko.
Riko tersenyum puas melihat rumah terbakar, seketika itu juga para warga sekitar sudah memenuhi lokasi kejadian.
Rumah sudah sudah dilalap oleh si jago merah, dan terlihat api memenuhi rumah tersebut.
Tidak berapa lama kemudian terdengar suara dari mobil pemadam kebakaran, dan Riko meninggalkan lokasi tersebut dengan tersenyum puas.
Kali ini Riko pulang ke rumah dengan menumpang kendaraan umum.
drrrt.... drrrt..... Drrrt.... drrrt.....
Handphone Riko berbunyi, dan ternyata Ririn istrinya yang menghubungi Nya.
Ririn bertanya keberadaan Riko, dan menjawab akan segera tiba di rumah.
Sesampainya di rumah, Riko langsung disambut oleh istrinya yaitu Ririn.
Ririn menggandeng tangan Riko ke arah kamar.
"gimana mas berhasil?"
__ADS_1
Riko hanya tersenyum, kemudian mengganguk. lalu Ririn menyelakan televisi yang ada didalam kamar.
Lalu mencari chanel berita yang memberitakan kabar terkini, dan benar saja ada satu chanel berita yang menayangkan kebakaran rumah yang ditempati oleh tante Irma.