CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Gelang dari Masa Lalu


__ADS_3

POV Riko.**


Riko hanya bisa memalingkan wajahnya dari dokter Luqman, tapi dokter tersebut tidak melepaskan pandangannya dari Riko.


"apa yang dilakukan istrimu terhadap Mu?"


dokter luqman bertanya dengan nada suara yang curiga, Riko kemudian menoleh ke arah dokter Luqman, seraya duduk di pinggir ranjang.


"dia membanting tubuhku secara berulang-ulang hingga aku tidak sadarkan diri, karena dalam perjanjian pra nikah, Ririn menabahkan klausa kalau dia bisa membela dirinya sendiri ketika terjadi kekerasan.


Terlepas bagaimana caranya dan asalkan dia selamat dari kekerasan."


"good, ternyata kamu bisa bertemu pawang juga ya.


Wanita yang hebat dan inilah yang kamu butuhkan."


Demikian ujar dokter Luqman dengan berdecak kagum seraya melihat ke arah Riko.


"dokter, apa yang terjadi dengan Istriku?"


"saya bukan ahli kejiwaan, tapi dari pemeriksaan fisik istrimu, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa Istrimu kelelahan saja.


Hanya butuh infus untuk menguatkan tenaganya kembali, apa kegiatan istri mu akhir-akhir ini?"


"banyak dok. menyusun skripsinya, syuting, photo shoot dan menjadi pengisi suara iklan. bahkan Ririn berhasil memenangkan tender yang luar biasa dan dia di dapuk menjadi model brand tersebut."


"luar biasa, selamat ya. karena akhirnya kamu mendapatkan pawang mu juga. pawang yang lihai, pintar dan juga cantik."


Lagi-lagi Riko hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan dari dokter Luqman. dan senyuman kecut dibalas lagi olehnya.


"sebaiknya kalian berdua berkonsultasi dengan dokter Imran, saya yakin kalau Istrimu juga menyimpan kenangan buruk di masa lalunya."


"kenapa dokter bisa menyimpulkan hal demikian?"


Dokter Luqman kemudian mengambil berkas dalam map dari tasnya, lalu menyerahkan berkas tersebut ke Riko.


"pak Riko, saat pertama anda saya tangani. gejalanya sama dengan istri anda. berdasarkan rekam medis ini, saat itu anda masih berumur 13 tahun.


almarhumah ibu Nadia, berkata kalau kamu sering mengigau dan demam.


Saat melihat gelang ini, anda tiba-tiba pingsan. itulah ibu Nadia menyimpan gelang tersebut, dan berharap suatu saat nanti kamu mendapatkan jawaban akan gelang ini, tapi lama-kelamaan kondisi mu seperti ini.


oleh karena itu saya menyerankan kalian berdua bersama-sama konsultasi kepada dokter Imran.


Saya memang tidak bisa memastikan lebih tepatnya, tapi keadaan istri anda saat ini persis seperti yang dulu kamu alami.


apa yang telah kamu alami ini, akan berkelanjutan yang akan membahayakan Dirimu sendiri, keluarga serta rekan-rekan mu."


"maksud dokter, saya dan Istriku bisa bernasib sama?"

__ADS_1


"Sekali lagi saya jelaskan, saya bukan ahli kejiwaan. ini hanya asumsi, saya berkata demikian karena berdasarkan rekam medis mu pak Riko.


Saya memilih dokter Imran, karena beliau sangat profesional dalam segala hal dan saya yakini bahwa beliau bisa membantu kalian berdua.


Almarhumah ibu Nadia, ibu kandung mu selalu kepikiran tentang Mu, sehingga beliau gagal fokus saat berkendara. katanya seperti itu."


"baik, saya paham maksud dokter."


seketika mereka berdua langsung terdiam, kemudian dokter Luqman menoleh ke arah infus Ririn.


"okey, infus nya sudah habis. sekarang saya menyuntikkan vitamin ke tubuh istrimu."


Infus di cabut dan dokter Luqman kemudian menyuntikkan vitamin melalui lengan kanan Ririn.


"sudah selesai, jika ada hal lain hubungi saya segera.


Saya harap kamu nak, segera menemui dokter Imran.


Almarhumah ibu kamu menginginkan kamu nak seperti anak pada umumnya. Bapak pamit dulu ."


Dokter Luqman berkata dengan lembut dan itu beda dari sebelumnya, kemudian berlalu dari kamar itu.


Setelah dokter luqman pergi, Riko menemui Asep sepepu nya itu yang sekaligus menjadi asisten pribadinya yang duduk di sofa dekat pintu kamar Riko.


"apa kata dokter Luqman mas?"


Riko hanya menoleh Asep, lalu kemudian menghela nafas panjang.


"maksudnya mas?"


"kemungkinan besar Ririn juga mengalami apa yang aku alami waktu kecil, yang menyebabkan mas seperti ini."


"solusinya gimana?"


"ke Dokter Imran."


Asep langsung melotot ke arah Riko, lalu menghela napas nya.


"dokter spesialis kejiwaan itu?"


Riko hanya mengangguk, lalu Asep meraih handphone gemgam miliki nya. terlihat Asep sedang mencari file di handphone miliknya.


"Asep setuju, oh iya mas. semua riwayat konsultasi mas, masih Asep simpan dengan rapi.


Tanpa satupun yang terlewat kan, Asep benar-benar setuju atas saran dari dokter Luqman, mas harus berdamai dengan diri sendiri.


Kapan Asep menjadwal konsultasi nya? karena ini tidak boleh ke publik."


"tunggu mbak mu sadar dulu, nanti kamu sampaikan aja seperti yang dulu, paham kan?"

__ADS_1


"paham mas."


Riko dan sepupu nya itu terdiam, mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"mas..... mas....."


Riko dan Asep serentak tersadar, karena Ririn seperti nya sudah bangun alias sadar. dengan segera mereka berdua langsung menuju kamar tersebut.


"syukurlah kalau mbak akhirnya sudah siuman, apa mbak Ririn merasa sakit?"


"ngak Asep, oh iya berapa lama aku tertidur?"


"ngak lama kok mbak, hanya 4 jam aja. mbak dah lapar? makan yuk."


Seketika Ririn langsung bangkit dari ranjang lalu menggandeng tangan Riko dan Asep, hal ini menjadi perhatian dari Riko.


"Ririn, lepaskan tangan Asep. tangan laki-laki yang bisa kamu rangkul hanya tangan ku saja paham!."


pinta Riko dengan raut wajah marah, tapi Istrinya itu menanggapi dengan senyuman.


"maaf mas, hilaf."


Sanggah Ririn, tersenyum lagi, kemudian merangkul pinggang Riko.


Mereka bertiga langsung menuju meja makan dan Mpok Ina tersenyum menyambut mereka bertiga.


"napa mpok? bahagia benar."


"iya mas Asep, karena keajaiban sudah terjadi di rumah ini. Mpok sudah bertahun-tahun kerja disini dan ....


"Mpok......


Riko memanggil Mpok Ina dan menghardiknya, seketika Mpok Ina langsung terdiam. tapi ekspresi tidak menunjukkan rasa ketakutan seperti sediakala.


Riko tersipu malu karena ocehan dari Mpok Ina, serta ekspresi mpok Ina yang sudah bersikap biasa, dan sepupu Riko seolah-olah mengoloknya dengan ekspresi yang di buat-buat.


Selesai makan mereka bertiga kembali ke ruangan privat itu, Riko merasa di polototi oleh istrinya. tatapan istrinya terhadapnya yang seolah-olah ingin menagih sesuatu dari Riko.


"baik, sekarang mas akan menjawab pertanyaan mu, silahkan jika kau bertanya."


"gitu dong mas, pertanyaan pertama, kenapa mas memilih ku menjadi istri mu mas?"


"karena mas menyukai Mu, mas selalu curi-curi pandang setiap kamu menjemput ibu kemari.


mas merasa ada suatu ikatan dengan mu, hal itu yang membuat mas merasa kamu harus menjadi istriku."


"uhmmm.... sekarang sudah panggil ibu ya, dulu panggilan nya apa mas?"


"Asep.....

__ADS_1


Riko kemudian menghardiknya, tapi Asep hanya tersenyum kecut menghadapi senyuman kecut itu.


__ADS_2