
Kemudian Riko terlihat lemas, lalu air matanya mengalir. kemudian melepaskan tangan Ririn dan kali ini kedua tangannya memegang sisi dari ke-dua ranjang tersebut.
Tanpa mengeluarkan suara seperti istrinya saat di hipnoterapi, tapi keringat dari keningnya itu bercucuran sehingga mengacaukan hasil dimonitor.
Alat monitor itu kemudian dilepas oleh Profesor David, dan terlihat Johan mencetak hasil diagram dari monitor yang terputus dari clien objek monitor.
Profesor David membersihkan keringat dari kening dan wajah Riko, yang sudah terlihat tenang.
Kemudian menempelkan alat tersebut di kedua sisi keningnya.
Perlahan Riko kembali bergerak dan gemetaran, kemudian memegang kedua sisi ranjang.
Mungkin ada sekitar dua puluh menit Riko seperti itu, lalu terlihat tenang. kemudian bergetar lagi dan keringat nya bercucuran lagi.
uaahhh....... ah......
Riko terbangun secara tiba-tiba dengan posisi duduk di ranjang, sorot matanya menggambarkan ketakutan yang luar biasa. setelah melihat Ririn disisi kirinya dan langsung memeluknya.
Disela pelukan nya, Riko melihat batang leher belakang istrinya, dan terlihat tenang kemudian melepaskan pelukannya.
"kamu benar-benar gadis kecil dari masa kecil Ku, kamulah orangnya."
Tatapan Riko yang sendu kepada Ririn, dan itu mengundang sejumlah pertanyaan yang ada di benak Ririn.
"apa yang kamu ingat nak Riko?"
Riko mencari suara yang bertanya itu, lalu menatap Profesor David dengan tatapan yang sedih.
"saat itu di ruang privat yang ada di rumah, Riko melihat Papa bersama tante Irma sedang ngobrol sesuatu dan tampak nya itu sangat serius.
Papa dan tante Irma beranjak dari tempat itu, dan menjadi kesempatan bagi Riko mengambil disket itu. tapi ketahuan, alhasil Papa bersama tante Irma mengejar Ku.
Berlari dan terus berlari, dan akhirnya sampai ke sebuah lorong sempit dan terkepung disana.
Tante Irma bersama beberapa laki-laki yang berbadan kekar datang menangkap Ku dan memaksa Ku masuk kedalam mobil.
di dalam mobil mereka mengeledah seluruh badanku, mereka tidak tahu kalau disket itu sudah aku selipkan di bawah jok mobil.
Karena mereka tidak menemukan disket itu, Tante Irma menampar Ku hingga kening dan bibir serta hidung ini mengeluarkan darah segar.
Tidak sampai disitu, laki-laki berbadan tegap itu mencekik leher Ku.
__ADS_1
Akhirnya mobil berhenti dan dengan sigap langsung mengambil disket itu kembali, setelah memasukkan disket itu ke dalam saku celana dan mereka mereka menyeret tubuh ini.
Di tendang dan dicekik dan akhirnya mereka semua meninggalkan ku di gudang kosong itu, semua sekeliling gelap dan goyang.
Kemudian datang seorang anak perempuan dan itu adalah Ririn istriku ini. wajahnya persis sekali.
Lalu memasukkan tubuh yang lemah ke grobak, dan Ririn kecil itu mendorong Ku hingga keluar dari gudang.
Di saat itu disket ini aku selipkan di grobak itu, samar-samar aku melihat batang leher Ririn kecil dengan tanda lahir di batang leher belakang Nya.
Hingga akhirnya kami sampai di sebuah rumah dan orang-orang mengangkat tubuh ini dan kami berdua berpisah."
Seketika itu air mata profesor David, mengalir membasahi pipinya yang sudah mulai keriput dan terus menatap Riko dengan tatapan rasa iba.
"hanya karena mempertahankan disket ini nak Riko hampir tewas."
ucap Profesor David kepada Riko, tapi Ririn sepertinya merasa ada yang janggal.
"sebentar prof, seperti ada kejanggalan. menurut saat itu Ririn masih berumur sekitar 13 tahun, dan mas Riko kemungkinan kelas 2 SMP lah.
Tapi Johan asisten profesor baru merasa kehilangan almarhum Profesor Ahmad ketika bimbingan skripsi.
Mereka berempat pun sadar akan adanya kejanggalan waktu dari penuturan Riko, karena waktu yang dituturkan Riko mengenai disket yang di selipkan Nya itu.
"iya iya, ada kejanggalan waktu. apa ada orang lain yang menggantikan hardisk ini?"
Ucap Johan asisten dari profesor David, lalu mereka kemudian menatap Johan secara bersamaan.
"jika ada orang lain yang menukar disket, berarti dia adalah orang terdekat dari mama atau orang terdekat dari mas sendiri.
Sebentar biar Ririn hubungi dulu mama ya, siapa tahu mama mengetahui sesuatu."
Kemudian Ririn meraih handphone lalu menghubungi mamanya, setelah beberapa Ririn ngobrol dengan mama nya dan kemudian menoleh Riko.
Akhirnya obrolan melalui telpon genggam tersebut berakhir, lalu Ririn menoleh suaminya.
"kata mama, itu grobak miliki kami. dulu dipinjam oleh kuli bangunan yang merenovasi gudang kosong itu, tapi tidak dikembalikan.
Grobak itu kemudian Ririn bawa ke rumah, dimana mas Riko di dalamnya. setelah itu grobak tersebut di kembalikan ke gudang belakang rumah.
mama memorgoki Papa di dalam gudang, lalu Papa berpura-pura beres-beres di gudang.
__ADS_1
Karena merasa curiga, malam harinya mama ke gudang dan mendapatkan beberapa berkas dalam map, serta disket.
Saat itu Ririn baru lulus SMA, dan saat itu Papa naik jabatan di kantor Nya.
Map dan disket yang ditemukan mama disimpan rapi, dan saat ini berada di rumah. mama tidak pernah membukanya.
Mengenai disket ini, dengan ciri-ciri yang Ririn sebutkan tadi. inilah yang diambil oleh Adit dan tidak tahu keberadaan dimana.
Karena disket inilah Adit menjadi menderita, kepalanya terbentur ke dinding karena di tendang oleh Papa.
Jadi disket ini adalah yang ambil oleh Adit dan disket yang ditemukan oleh mama kemungkinan disket yang ditemukan oleh mama bersamaan dengan disket itu.
Karena mama menemukan disket dan map itu secara terpisah."
"oh....."
Akhirnya kejanggalan itu terjawab sudah, kini mereka bisa merasa lega karena sudah mendapatkan jawaban.
Riko kemudian meraih handphone Nya, karena dihubungi oleh seseorang. ternyata itu adalah Sean.
Lalu Riko kemudian menoleh Profesor David dengan tatapan yang penuh harap.
"jika kami membutuhkan kesaksian Profesor, apakah profesor bersedia bersaksi?"
"tentu saja, karena sahabat itu membutuhkan keadilan."
Ucap profesor David dengan pasti, lalu Johan memberikan notepad yang biasa di pegang Nya kepada profesor David.
"dulu Johan mengoleksi berbagai penelitian profesor Ahmad mengenai ' Anxiety Disorder dan DID (Dissociative Identitiy Disorder).
dari semua artikel yang terbit ini, sama seperti diognoasa yang ada di rekam medis itu prof.
Artikel ini diterbitkan di website resmi Proceedings of the National Academy of Sciences, milik kemitraan salah satu rumah sakit jiwa di Swedia, bisa di cek langsung websitenya dan artikel itu masih ada di website resmi itu.
Dan ini juga pernah diterbitkan di majalah kesehatan lokal dan ini majalah prof.
Artikel ini sudah membantu seorang dokter ahli jiwa di salah rumah sakit Singapura dan ini adalah ulasan di website Proceedings of the National Academy of Sciences.
Semoga ini bisa membantu, dan saya juga siap bersaksi jika dibutuhkan sesuai dengan yang saya ketahui."
Profesor David kemudian membaca artikel itu, setelah beberapa membacanya. kini air matanya kembali mengalir di pipinya.
__ADS_1