
Asep, Diana dan sepuluh tujuh orang laki-laki dan dua orang perempuan sudah tiba di ruang privat tersebut.
Mpok Ina dan mama nya Ririn langsung menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk mereka.
"Mpok dan ibu, tetap disini ya."
Pinta Riko kepada dua wanita paru baya itu, yaitu mama Ririn dan mpok Ina.
Mama Ririn bersama Mpok Ina, duduk di samping Ririn.
"ini adalah bukti tambahan yang saya dapatkan, berupa disket dan dokumen. mohon di pelajari dan diberikan tanggapan."
Kedua perempuan yang masih tergolong muda, langsung mengambil berkas yang disodorkan oleh Riko.
Kemudian mengcopy di printer yang ada di meja, setelah beberapa menit. setiap orang yang di ruangan tersebut sudah mendapatkan salinan dan mulai membacanya.
"pak Riko, bukti-bukti ini sudah sangat sempurna dan inilah yang kami cari-cari selama."
Pria yang berbicara itu adalah Pak Imron, yang ketua dari para pengacara itu.
"lalu bagaimana selanjutnya?"
Asep dengan mimik wajahnya yang serius bertanya seraya menatap pak Imron.
"sudah mulai pak Sean, laporan akan permasalahan ibu Ririn dan teman-temannya dimana skripsi di jegal oleh pihak kampus.
Kita awali dari sana, perlahan kita korek semua perlakuan dari ibu Rohaya yang merugikan para mahasiswa-mahasiswi di kampus tersebut.
Lalu kita pergunakan bukti selanjutnya, yaitu rekam medisnya. kemudian kita ungkap kenapa profesor Ahmad menjadi almarhum.
Terakhir kita menggugat kembali kasus almarhumah ibu Nadia, karena kasus itu sudah lama di tutup.
Kita perlu membuktikan Nya atau bukti yang baru, dan nanti akan menjalar ke masa lalunya pak Riko dan Bu Ririn.
Di tengah-tengah itu, pasti ada peristiwa yang akan terungkap kembali dan ini adalah bagian Bu Diana dan pak Asep."
"setuju."
Dengan kompaknya mereka menjawab setuju akan strategi itu, berkaca dari malam yang lampau dimana mereka kalah telak karena kurangnya bukti.
drrrt.... drrrt.... drrrt.... drrrt... drrrt... drrrt...
handphone milik Ririn bergetar dan yang menghubungi Nya adalah Papa nya sendiri, Riko memberi isyarat kepada Ririn untuk menjawab panggilan telepon tersebut.
Tidak berapa Ririn sudah selesai menerima telepon dari Papa Nya, lalu menatap Riko dan mama Nya.
__ADS_1
"sekarang nak Riko suami mu kak, segala tindak tanduk mu. itu sudah menjadi tanggung jawab nak Riko."
Ucap mama nya terhadap Ririn, yang sudah melepaskan perwaliannya kepada Riko yang menjadi menantunya.
"Papa ingin bertemu dengan Ririn."
"hadapi aja, tapi harus tetap di awasi oleh orang kita."
"oke mas, kalau begitu Ririn pamit ya mas."
Ririn bersama tiga bodyguard berangkat ke tempat yang di janjikan Papa nya, dan tentunya tidak menggunakan mobil yang biasa di pakainya.
Melainkan mobil salah satu dari pengacara tersebut, untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.
Ternyata Papa mengajak Ririn bertemu di rumah sakit, dimana Papa sudah menunggu Ririn di rumah sakit tersebut.
Mereka berdua duduk di bangku taman kecil di rumah tersebut, ketiga bodyguard Ririn tetap mengawasi dari belakang Ririn.
"kenapa Papa ingin bertemu dengan Ririn?"
Papanya menatap Ririn dengan raut wajah yang kesal dan penuh emosi.
"kamu tega ya menghancurkan karir Papa."
"maksud Papa apa? bukannya si Nina sudah bebas dari penjara? kan laporannya sudah Ririn cabut kan."
tolong cabut laporan itu, agar Papa bisa kerja lagi. karena Papa butuh uang untuk nafkah keluarga.
Adik mu telah lahir laki-laki kak, tapi ibu nya masih koma. sementara adik mu masih di inkubator.
Terjadi komplikasi pada kandungan Nya, ketika di tendang oleh mahasiswi itu.
Papa butuh banyak uang Rin, untuk biaya adik mu dan perawatan istri Papa. jika Papa berhenti kerja maka hancur semuanya."
"itu urusan Papa, karena Ririn sudah menepati janji. Nina sudah lepas dari penjara, dan Papa serta istri yang lain sudah dapat uang banyak.
Papa cukupkanlah itu, masa Ririn lagi yang berpikir?"
"Rin....
jangan egois, Papa harus menghidupi tiga istri dan tiga anak yang sedang membutuhkan biaya besar."
"kurangi aja istri Papa, atau suruh istri-istri Papa itu bekerja, seperti yang Papa lakukan terhadap Mama, biar adil loh Pa.
Lihat, mama sanggup kok. biaya sekolah Ririn, biaya perobatan adek dan kebutuhan dapur.
__ADS_1
Mama sendiri yang berusaha, tugas Papa itu hanya mencari Istri yang baru. masalah nafkah itu urusan istri-istri Papa."
"sekarang Ririn hebat ya, sudah mengajari Papa untuk tidak bertanggungjawab."
"loh ..
emang selama ini Papa pernah bertanggungjawab? ngak kan, santai aja kali pa, Ririn dengar-dengar dari kampus ya pak.
istri Papa yang masih koma itu kan anak orang kaya, kembalikan aja ke orang tua nya lagi. seperti yang Papa lakukan terhadap mama.
jika itu Papa lakukan, istri pertama beres. selanjutnya istri papa yang dua lagi."
"kamu benar-benar saiko, sama seperti suami mu. pantas saja Bagas tidak mau menjadikan istri."
Ririn tersenyum kecut kepada Papa nya, dan papa nya hanya bisa mengelus dada.
"ada lagi mau Papa sampaikan?"
Hanya terdiam tapi tatapan mata papanya Ririn begitu tajam terhadap Nya, tapi dia tidak memperdulikan itu.
Kemudian Ririn memanggil pak Deden dan bodyguard nya, lalu mereka pergi dari rumah sakit tersebut.
Mobil sudah melaju, Ririn yang duduk di samping pak Deden supir pribadinya lalu menolehnya.
"dapat alamat nya pak?"
Pak Deden hanya mengangguk, lalu di minta nya ke alamat yang ditemukan oleh pak Deden.
Ternyata itu adalah rumah susun untuk kalangan menengah ke bawah, blok D lantai 5 nomor dua belas.
Pintu diketuk oleh pak Deden, dan keluar seorang wanita bersama anak laki-laki, ternyata dia adalah istri dari Papa Nya.
Anak laki-laki itu bernama Jack, dan mama nya bernama Mira.
Mira terkejut dengan kedatangan Ririn di kediamannya di rumah susun tersebut, tapi Ririn tidak mengindahkan nya.
"tahu dari mana saya disini? dan apa urusan mu datang kemari?"
"Papa sekarang di rumah sakit Permana, sedang menemani istrinya yang melahirkan. kemarin itu papa mendapatkan uang lima ratus juta Rupiah.
Asal kamu tahu, rumah yang kamu tempati ini akan segera beralih ke orang lain.
Rumah susun ini bermasalah, mulai dari tanahnya yang sengeketa sampai dengan kepengurusan Nya.
Papa masih punya harta lain yang belum terjual, segera rebut demi kelangsungan hidup mu dan anak mu ini."
__ADS_1
Ririn langsung melangkah mundur, kemudian pergi dari hadapan Mira. istri dari papa Nya.