
Ririn langsung berselancar di browser untuk mencari tahu informasi tentang Dokter yang tertera di kartu nama tersebut.
Berdasarkan penelusuran di browser, ternyata Dr Imran Supriadi Sp.Kj. adalah dokter Ahli jiwa yang sangat berpengalaman yang merupakan lulusan dari luar negeri dan juga dalam negeri.
Ririn kemudian membuka catatan nya kembali, dan mencoba mengingat peristiwa atau kejadian yang di alaminya ketika bersama dengan Riko.
Begitu banyak artikel yang di tulis oleh Dr Imran Supriadi Sp.Kj, dan itu semua berarah ke sifat suami nya.
Disini Ririn belum sepenuhnya meyakini kalau suami nya adalah seorang Psikopat seperti yang dikatakan oleh Sarah.
"Sifat-sifat dari Riko persis seperti yang di beberkan di berbagai artikel ini.
Apa iya Riko seorang Psikopat? tapi tidak baik berprasangka buruk, lebih baik secara pelan-pelan untuk mengetahui semua ini.
Sekarang yang terpenting adalah untuk mengejar skripsi supaya lebih cepat selesai."
Ririn bicara dengan dirinya sendiri, lalu membereskan semua yang berantakan itu. kemudian membuka kembali laptopnya untuk menyelesaikan skripsinya.
"akhirnya siap juga, tinggal cetak deh untuk teori Nya. mudah-mudahan tidak halangan saat persentase nanti nya."
lagi-lagi Ririn bicara dengan dirinya sendiri, dari tampilan layar TV yang menampilkan keadaan di luar hasil rekaman sisi tv.
Riko Suami nya sudah tiba, dengan segera Ia membereskan semua peralatan nya dan akan bersiap untuk menyambut suaminya.
"selamat sore mas."
Ririn menyapa suaminya dan hendak salim kepadanya tapi Riko seperti mengelak, dengan setengah memaksa Ririn akhirnya bisa salin tangan suami nya.
"mas langsung mandi ya, habis itu kita makan malam."
Ririn meraih handuk bersih dari lemari lalu memberikan nya kepada suaminya, tanpa obrolan Riko langsung menuju kamar mandi.
Berselang kemudian Riko keluar dari kamar mandi dan hanya melilit kan handuk di pinggangnya, dengan sigap Ririn mengambil pakaian untuk nya.
"makan malam yuk."
Riko tidak menjawabnya, tapi istrinya itu seolah-olah memaksanya dan akhirnya mereka berdua bisa makan malam bersama.
Mpok Ina yang menyambut di meja makan hanya bisa tersenyum saat menyambut mereka berdua.
Selesai makan malam, Riko langsung menuju ruang tamu, dan kemudian di ikuti oleh Ririn lalu bersandar di bahunya.
"mas....
Besok temani Ririn ke toko buku ya, aku ingin berduaan dengan mas, setelah kita makan di restoran.
__ADS_1
Ririn juga nonton di bioskop, karena selama ini Ririn tidak pernah nonton di bioskop mas."
Riko tidak menjawabnya tapi malah pergi ke arah kamar. yang di ikuti oleh istrinya masuk ke kamar.
Riko kemudian mengambil bantal dan selimut dari lemari, lalu rebahan di sofa yang besar yang terdapat di sudut kamar.
"mas kok tidur disitu, Ririn bau ya mas?"
Riko menoleh Ririn sejenak, lalu meletakkan bantal di ujung sofa.
"mas tidak mau menyakiti Mu, untuk sementara waktu kita tidur seperti ini dulu. ngak usah protes."
"tapi mas, kita kan suami-isteri. masa...
"ngak usah banyak bacot, sudah kamu diam aja. tidur sana, besok jadwal mu padat."
Riko langsung berbalik badan agar bisa menghindari istrinya.
Dengan kesal Ririn mencoba untuk tidur, tapi dia masih kepikiran akan perkataan suaminya barusan yang tidak mau menyakiti nya.
Mencoba untuk berpikir, tapi semakin berpikir keras semakin sulit untuk di pahami nya.
' kamu mau kemana? jangan pergi '
Riko mengigau lagi, seketika itu juga Ririn langsung turun dari ranjangnya kemudian melihat keadaan Riko.
Melakukan hal sama seperti kemarin malam, yakni memberikan parasetamol dan mengompres nya. beberapa saat kemudian Riko berhenti mengigau, dan perlahan-lahan demamnya sudah turun.
Setelah merasa aman, Ririn memeluk suaminya lalu tertidur.***
"ha....... kamu ngapain sih?"
Saat Riko terbangun dia melihat istrinya memeluknya, dan hal itu membuatnya terkejut.
"ya tidur sambil memeluk mu mas, kan aku istrimu. mas kenapa sih?"
Riko langsung beranjak dari ranjang lalu terduduk di di lantai yang bersandar ke dinding, untuk ke-dua kalinya Riko bersikap seperti seorang anak yang dianiaya seseorang tanpa perlawanan.
Ririn dengan segera turun dari ranjangnya, lalu perlahan mendekati suaminya.
Riko menatap istrinya dengan sorot mata ketakutan, lalu Ririn perlahan menarik tangan nya dengan lembut.
"ngak apa-apa mas, semua baik-baik aja. tenang ya."
Riko kemudian memeluk istrinya dengan begitu erat hingga membuat nya sesak karena terlalu kuat di peluk oleh Riko.
__ADS_1
Perlahan-lahan Ririn melepaskan pelukan suami nya, lalu menuntunnya ke arah pinggir ranjang.
"tenang ya mas, semua baik-baik aja. yuk mandi, habis itu kita sarapan."
Ririn hendak berdiri untuk mengambil handuk tapi tangannya di pegang kuat oleh suaminya yang bertingkah seperti anak kecil yang ketakutan.
"jangan tinggalin Aku, jangan pergi." ujar Riko yang merengek.
"aku ngak akan ninggalin kamu mas, hanya mau ambil handuk."
Riko tetap memegang tangan nya, lalu mereka berdua secara bersamaan meraih handuk lalu melangkah ke arah kamar mandi.
"ngapain ikut ke kamar mandi? mau mandi bareng? edan kamu ya jadi perempuan?"
Ririn sudah mulai hapal akan perubahan perilaku dari suami, tapi perkataan itu dibalasnya dengan senyuman.
"lah.... kan Ririn istri mu mas, apa salahnya kalau kita mandi bareng?"
"kamu keluar, mas ngak mau menyakitimu lagi. keluar sekarang."
Riko mengeluarkan istrinya dari kamar mandi, tapi Istrinya tetap menunggu nya di depan pintu kamar mandi tersebut.
Riko keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk di pinggangnya, istrinya menyambut nya dengan tersenyum.
"mas.....
Ririn mengelus dada bidang suaminya, terlihat Riko seperti menikmati sentuhan dari istrinya.
Tangan nakal milik istrinya seperti hendak merayap ke arah milik suaminya yang tersembunyi di balik handuk tersebut.
"lebih baik kamu mandi, kita harus bersiap-siap untuk berangkat ke kantor."
Riko menangkap tangan nakal itu, lalu berusaha menarik tangan istrinya masuk ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar, suami sudah tidak berada dalam kamar lagi.
Ririn melangkah keluar dari kamar, dan ternyata suaminya menunggu dirinya di meja makan untuk sarapan bersama.
"selamat Pak, selamat pagi mbak Ririn."
Dian sudah tiba di ruang makan makan bersama Asep asisten pribadi nya Riko.
"Selamat pagi juga mbak Dian."
Hanya Ririn yang menjawab salam itu lalu berdiri menghampiri Dian dan Asep yang berdiri.
__ADS_1
"berhubung mbak Dian dan pak Asep sudah tiba disini, lebih baik kita sarapan."
Dian dan Asep sudah menolaknya, tapi Ririn yang bersikeras mengajaknya untuk sarapan bersama, dengan kedipan mata dari Riko akhirnya Dian dan Asep mau makan bersama dengan mereka.