
POV Reza.*
Reza dan istrinya masih duduk di sofa mewah yang ada di ruangan VVIP tersebut sambil bermesraan.
Sepertinya Reza lupa untuk mempersiapkan bukti, kalau istrinya yang bernama Mira yang berada di penjara.
Bukti untuk menyatakan kalau istrinya itu di jebak oleh putrinya sendiri dan juga membawa bukti kalau Jack adalah adalah anaknya untuk mengambil Jack dari panti asuhan yang berada dibawah naungan dinas sosial.
Semua lupa ketika Reza bertemu Sonia yang sudah mendapatkan tiga kartu kredit dari ibu Rohaya, mama dari Bagas dan Nina.
"ma..... mama.... pa.... papa...."
Itu adalah suara Bagas, suara itu begitu pelan dan terdengar lemah.
Reza dan istrinya langsung menghampiri Bagas yang sudah siuman.
"perlu apa kau anak saiko?"
Tanya Sonia dengan kejam kepada Bagas yang sudah membuka kedua matanya, kemudian membuka penyalur oksigen dari hidung Nya.
"mama dimana?"
Tanya Bagas dengan pelan, seketika raut wajah Sonia berubah menjadi kesal.
"mama dan papa mu sekarang di penjara, karena korupsi, nepotisme dan penyalahgunaan wewenang.
Tapi kamu tenang aja, tante yang akan merawat mu."
"mama.........."
Suara teriakan yang kuat dari Bagas akhirnya membangunkan Nina, alhasil terjadi kekacauan. karena Nina tidak menerima keadaannya yang sekarang.
Sonia langsung menekan tombol merah yang berada diatas ranjang Bagas, seketika tenaga medis langsung datang.
Lagi-lagi Bagas dan Nina disuntikkan penenang, kemudian mengikat tubuh mereka yang menggunakan sabuk pengaman ranjang.
Setelah itu mereka berdua bergegas keluar dari ruangan VVIP tersebut.
"limit kartu kredit ini pasti balik lagi, yuk kita shopping."
Ucap Sonia kepada suaminya dan mereka langsung menuju pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut.
Tibalah disebuah toko perhiasan dan setelah memilih yang di inginkan oleh Sonia dan suaminya, lalu mereka memberikan kartu kredit untuk melakukan pembayaran.
Kasir kemudian menggesek kartu tersebut dan menggeseknya lagi, kemudian mencoba untuk ketika kali nya.
"security..... security......"
Kasir itu berteriak sembari menekan tombol merah yang ada di meja kasir untuk meminta bantuan kepada security.
Wajah Reza dan istrinya menjadi pucat dan ketakutan ketika lima orang berbadan tegap membekuk mereka berdua.
__ADS_1
"pak security amankan mereka, karena mereka berdua adalah pencuri kartu kredit dan kirim mereka ke kantor polisi."
Ucap kasir nya dan langsung mengamankan perhiasan yang ada ditangannya.
"apa-apaan ini? kami tidak mencuri, itu kartu kredit milikku."
Ucap Sonia yang berusaha membela diri dan terus menerus memberontak, tapi tenaganya tidak seimbang dengan tenaga security itu
"nanti ibu jelaskan di kantor polisi."
Ucap security itu sembari membawa Sonia dan suaminya.
Terlebih dahulu mereka ditahan di ruangan security, dan tidak berapa lama Polisi datang menjemput mereka berdua.
Reza dan istrinya yaitu Sonia sudah berada di kantor polisi dan itu adalah pak polisi yang kemarin yang dijanjikan Reza untuk membawa bukti kalau Mira di jebak.
"pak Reza ya? mana buktinya pak? kok malah bapak dibawa kemari sebagai pencuri."
Ucap petugas itu seperti mengoloknya, raut wajah yang malah tidak bisa disembunyikan.
Kemarin itu dengan semangat Reza berkata akan membawa bukti bahwa Mira istrinya di jebak oleh putrinya sendiri.
Kemudian datang seorang perempuan paru baya, bersama dua orang laki-laki yang berpakaian elegan.
"selamat siang ibu Tifani, dan saya ucapkan terimakasih atas kerjasamanya."
Sapa petugas tersebut seraya mempersilahkannya duduk.
"iya seperti yang ibu lihat, mereka berdua hendak melakukan transaksi di toko perhiasan dan kemarin mereka sudah berhasil melakukan Nya."
"terimakasih ya pak, karena sudah bertindak cepat.
Mereka berdua juga sudah membeberkan rahasia perusahaan yang bersifat rahasia, alhasil mereka di pecat dan mereka berdua sekarang ini menjadi buronan.
Makanya jadi orang jangan tamak, saya tahu kalian berdua bekerjasama dengan menantuku si Bryan berengsek itu.
Kalian berdua tergoda dengan kesenangan sesaat, asal kalian berdua ketahui. uang yang kalian pergunakan untuk berpoya-poya adalah uang negara.
Masyarakat lain menyetorkan dana pajak mereka, dan kalian berdua malah memakai nya untuk berpoya-poya.
kalian berdua akan menginap di hotel di penjara untuk selamanya."
"ngak usah banyak bacot nenek peot, anak dan menantu mu juga terlibat dan mereka adalah biang kerok utamanya."
Ucap Reza dengan lantang, tapi lawan bicaranya hanya tersenyum.
"benar, dan ibu sudah berulangkali menasehati Nya. tapi mereka tetap melakukan Nya.
Ibu itu punya usaha sendiri, dan mereka sudah saya minta untuk segera mengambil alih perusahaan ibu dan berhenti menjadi tikus negara.
Ibu menyerah untuk menasehati mereka berdua, dan inilah balasan karena durhaka kepada orang tua."
__ADS_1
Ucap ibu Tifani kepada Reza, kemudian menoleh petugas yang ada dihadapan mereka.
"saya percayakan sepenuhnya kepada bapak, dan ibu akan bersedia menjadi saksi apabila diperlukan."
"terimakasih ibu untuk kerjasama nya."
"sama-sama nak, selamat bertugas dan ibu mohon pamit."
Akhirnya ibu Tifani bersama pria yang bersamanya meninggalkan mereka di ruangan tersebut.
"pak tolong hubungi putriku, hanya dia yang bisa membantu kami."
Pinta Reza kepada petugas tersebut, lalu memberikan nomor telpon putrinya kepada petugas.
Petugas memenuhi permintaan dari Reza dan kemudian menghubungi nomor telepon yang diberikan oleh Reza.
Terlihat petugas sedang ngobrol dengan sambungan telepon, dan tidak berapa lama obrolan tersebut berakhir dengan ucapan terimakasih.
Lalu petugas tersebut menoleh Reza dengan tatapan kecewa.
"putrimu akan segera datang, kamu tunggu aja dulu ya."
Ucap petugas tersebut, dan mereka berdua di pindahkan ke meja lainnya dengan tangan yang sudah di borgol dengan pengawasan petugas lainnya.
"mas untuk apa sih meminta pertolongan kepada Ririn? anak itu saiko alias gila."
Ucap Sonia kepada suaminya dan Reza terlihat berpikir.
"apalagi yang harus kita perbuat, hanya Ririn yang bisa membantu kita."
"iya, membantu kita untuk memberatkan hukuman kita disini.
dengar ya mas, gara-gara putri mu yang saiko itu, kita terjebak dan memberikan rahasia perusahaan tersebut.
mas lupa ya? atau mas sudah kehilangan akal sehat?"
"tidak. putriku tidak seperti yang ada dalam pikiran mu."
"halo mas Reza, mas sudah lupa semua perlakuan mu terhadap Ririn putrimu itu?
Putrimu menjadi saiko karena kamu mas, karena kamu."
"kamu jangan asal ngomong, lagi pula dari kamu dapat fitnah seperti ini."
"mas Reza, kita sudah lama kerja sama. tentunya sepak terjang mu sudah beredar di kantor.
Semua cerita tentang hidup mu sudah menjadi bahan gosip di kantor, perlakuan terhadap keluarga sendiri yang tidak manusiawi."
Mendengar ucapan istrinya, Reza langsung terdiam.
Terlihat dia termenung dan entah apa yang di pikiran nya saat ini.
__ADS_1