CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Penghianat Sahabat.


__ADS_3

"Jadi itu yang membuat mu menjauhi akhir-akhir ini?"


Bastian bertanya yang tiba-tiba berada di depan mereka berdua.


"maaf Bastian, tapi itulah kenyataannya. walaupun sakit tapi harus aku biasakan untuk menghindari Mu.


Aku tidak layak untuk mu, kita seperti langit dan bumi.


Jika kita paksakan yang ada hanyalah sakit hati yang berkelanjutan yang tiada berkesudahan."


"kamu menyerah akan hubungan kita ini?"


"semua sudah berakhir Bastian, tidak ada lagi yang harus kamu pertanyakan.


Sudah berulangkali aku mencoba untuk bertahan, tapi aku terlalu rapuh.


Seperti berjalan di tengah gelapnya malam yang sunyi, tanpa seberkas cahaya. Linglung, takut, dan tiada harapan."


"kamu ngak pernah cerita Ririn, semua kamu pendam dengan sendirinya."


"kamu terlalu terlalu naif Bas, kamu hanya pura-pura tidak tahu. kamu sengaja membiarkan ku sendiri, bahkan kamu membiarkan saudara perempuan mempermalukan Ku di hadapan banyak orang.


Kamu hanya membisu dan diam seperti patung, aku memang berasal dari keluarga miskin yang tidak pantas untukmu.


Mulai sekarang kamu, tidak perlu repot-repot untuk memikirkan tentang nasib ku. semua ini adalah kehendak diriku.


Ini bukan pelampiasan atas gagalnya cintaku kepadamu, tapi ini adalah pilihan Ku.


Memilih Mu dan pilihan ku sekarang, itu sama saja. keduanya bukan pilihan terbaik."


Ririn kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu melangkah dengan pelan. seperti seseorang yang tidak mempunyai harapan akan hidup ke depannya.**


Tok.... tok...


"masuk...."


Pak Leo ketua Program Studi, mempersilahkan Ririn masuk ke ruangannya. kemudian mempersilahkan nya duduk dihadapannya.


"Ririn, bapak mintak maaf karena harus mencabut beasiswa pemko yang telah kamu terima.


Ririn harus membayar beasiswa itu mulai dari semester awal."


"kenapa bisa begitu pak? alasannya apa?"


Pak Leo terlihat menghela napas panjang dan kemudian menatap Ririn dengan tatapan merasa bersalah.


"pemko telah mencabut beasiswa itu dikarenakan kamu sudah menikah dengan konglomerat di kota ini.


Sebelum seminar skripsi mu, harap mengembalikan semua beasiswa pemko itu."

__ADS_1


"saya mau tanya pak, apakah penarikan beasiswa itu akan berpengaruh terhadap skripsi ku atau nilai akademik ku pak?"


"tidak Ririn, tapi jika kamu tidak segera melunasi nya maka kamu tidak bisa mengikuti seminar skripsi dan selanjutnya."


"baiklah kalau begitu, saya mohon pamit dulu untuk mengurus semua ini.


Ririn ingin secepatnya menyelesaikan skripsi Pak, terimakasih atas semua dukungan bapak."


Ririn kemudian bangkit dari tempat duduknya, setelah berpamitan dengan pak Leo. kemudian Ririn melangkah keluar dari ruangan tersebut.


"Ririn...."


Pak Leo memanggilnya, lalu dia berbalik badan dan menatap pak Leo.


"jangan terlalu percaya kepada orang yang kamu anggap sebagai teman baik mu. kamu paham kan maksud Bapak?"


Ririn hanya mengangguk lalu membuka pintu ruangan itu, kemudian berlalu.


Disudut ruangan Ririn kembali menghidupkan handphone nya, setelah aktif kemudian mencari kontak Diana.


Ririn meminta bantuan kepada Diana agar bisa mengembalikan beasiswa pemko itu, agar dia bisa melanjutkan skripsinya.


Tidak berapa lama Ririn mendapatkan pesan WhatsApp dari Dian, yang mengirimkan Bukti pembayaran pengembalian beasiswa pemko tersebut.


Kemudian Ririn mencetak bukti pengembalian tersebut, lalu melangkah ke bagian administrasi.


Setelah melaporkan hal tersebut, akhirnya Ririn kembali bisa melanjutkan skripsinya.


"Ririn...."


"aku belum selesai ngomong sama kamu Rin? kamu sudah bisa seminar ya?"


Seketika Ririn mengingat perkataan dari pak Leo, ' jangan terlalu percaya kepada orang yang sudah dianggap teman baik.'


"tahu dari mana kalau aku tidak bisa mengikuti seminar? atau jangan-jangan kamu yang melapor ke pemko?"


Seketika Sarah terdiam, pertanyaan dari Ririn benar-benar seperti memojokkannya.


"Ririn, aku benar-benar cemburu melihat Mu. kita berdua bekerja di tempat yang sama, tapi kamu memperoleh gaji yang lebih besar.


Kamu pintar, mendapatkan beasiswa pemko serta punya kekasih setampan Bastian. sekarang hanya dengan menelpon seseorang kamu langsung bisa mengembalikan beasiswa itu.


kamu selalu mendapatkan yang tidak bisa aku dapatkan, aku iri terhadap mu Ririn."


"Sarah.... Sarah....


Kedua orang mu lengkap, kamu ikut aku kerja hanya karena ingin mendapatkan pengalaman.


Kamu tidak perlu iri dengan hidupku yang berantakan, kamu hanya perlu belajar bersyukur.

__ADS_1


Kamu suka Bastian? silahkan ambil."


Ririn berlalu meninggalkan Sarah yang selama ini dianggapnya sebagai sahabat, seorang sahabat yang menusuk nya dari belakang.


"Rin.... tunggu Rin....


Iya, aku suka sama Bastian dan kamu yang di taksir nya."


"ya sudah ambil lagi, aku sudah menikah Sarah. kamu sepadan dengan nya, kedua orang tua Kalian sama-sama kerja di perusahaan negara dengan gaji yang fantastis.


Kalian cocok dan serasi, usaha mu sudah berhasil."


"apa maksudmu Rin?"


"aku melihat mu ketemuan dengan ke-dua saudara perempuan Bastian dan kamu menunjukkan sesuatu dari handphone Mu.


Aku juga tahu kalau kamu yang mengatakan kepada bunda Bastian kalau papa ku tukang kawin.


Saya hanya bersikap netral kepadamu, sejak kita mengenal Bastian, kamu langsung berubah sahabatku.


Mari kita sudahi kepura-puraan kita ini, tidak bagus untuk bersandiwara terlalu lama.


Membuat suatu kebohongan untuk menutupi kebohongan yang lainnya dan seterusnya, nanti kamu stress untuk menutupi semua kebohongan mu dan untuk kebohongan yang lainnya.


Sarah....


Aku pamit, semoga kalian berdua berjodoh. sehat selalu dan semoga sukses."


Berlalu sambil menyeka air matanya, Ririn kemudian menghampiri pak Deden yang sudah parkir di parkiran kampus.


"selamat siang nyonya." sapa pak Deden kepada Ririn yang sudah duduk di belakang kemudi supir.


"selamat siang pak Deden, langsung pulang ke rumah ya pak."


"baik non, tadi juga Tuan memberikan pesan untuk meminta nyonya istrihat hari ini. karena besok katanya non harus pemotretan lagi."


"lagi pak?"


"benar non, mulai besok mbak Dian akan selalu bersama non, dan tentunya bapak akan selalu bersama non dan mbak Dian."


Setelah menjelaskan demikian, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. tidak berapa lama, mereka akhirnya sampai di rumah.


Ririn langsung masuk ke dalam kamar, lalu mencari sesuatu untuk mendukung pernyataan Sarah yang menyatakan kalau Suami itu seorang Psikopat.


Tapi tidak satupun yang di dapatkan Nya, karena sudah lelah. Ririn melangkah ke arah kamar mandi dan membasuh tubuhnya yang penat.


Selesai mandi dan berpakaian kembali, Ririn duduk di meja riasnya. secara tidak sengaja Ririn menyenggol sebuah kotak yang terbuat dari plastik.


Isinya berhamburan keluar, satu persatu isi kotak itu di kutip oleh Ririn lalu memasukkan kembali ke dalam kotak.

__ADS_1


Satu kertas kecil berbentuk persegi panjang, dan ternyata itu adalah kartu nama seseorang.


Kartu nama tersebut bertuliskan, "Dr Imran Supriadi Sp.Kj (Speaslis ahli kejiwaan).


__ADS_2