
Ririn berjalan menelusuri lorong kampus yang akhirnya sampai di pintu gerbang kampus, seperti tiada arah dan terus berlalu mengikuti langkah kakinya.
Ririn singgah di sebuah Kafe yang terlalu jauh dari kampus, meja di sudut ruangan dimana pengunjung Kafe tidak terlalu banyak.
"Ririn..."
Seseorang memanggil namanya, dan itu adalah ayah mertua nya bersama seorang perempuan yang datang ke rumah nya saat meminta kartu kredit titanium miliknya.
"Papa, silahkan duduk."
Ririn mempersilahkan ayah mertua nya untuk duduk di antara bangku kosong itu, sementara wanita yang bersama nya memasang wajah jutek.
"ini harus papa sampai kepada Mu, kamu harus tahu kalau Riko bukan manusia. dia itu adalah Iblis yang mengambil tubuh manusia.
Kamu harus berhati-hati terhadap nya, Riko itu sangat berbahaya."
"Kenapa Papa mengatakan demikian?"
Papa dari suaminya Ririn terlihat menarik napas panjang, lalu menatap Ririn dengan tatapan rasa penyesalan.
"bersama mama nya, kami pernah membawa Riko ke dokter Ahli jiwa. dan Riko diagnosa menderita gangguan psikotik.
Riko selalu berhalusinasi, sulit membedakan mana yang nyata dan mana halusinasi.
Tapi juga terkadang Riko menyakiti dirinya dan juga orang-orang yang bersamanya. itulah sebabnya Riko sudah dua kali bercerai dengan istrinya."
"apa yang harus Ririn lakukan pa?"
Seketika Ayah mertua nya itu mengangkat alis kanannya, sama seperti yang biasa dilakukan oleh Riko.
"pertama berikan kepada Papa kartu kredit titanium milik mu itu, dengan kartu itu papa akan membantu Mu.
Ke-dua kamu harus menyetor uang bulanan yang di berikan Riko kepadamu, papa butuh biaya untuk membantu Mu."
"apa menantu papa sebelumnya memberikan kartu kredit titanium dan menyetorkan uang kepada Papa?"
"tentu"
"terus kenapa papa tidak bisa melindungi mereka? kenapa mereka bisa bercerai dengan dengan mas Riko?"
Seperti nya ayah mertua Ririn terjebak dengan kata-kata sendiri, terlihat beliau berpikir untuk menjawab pertanyaan dari Ririn.
"itu di luar kendali Papa." jawab beliau dengan ragu.
"kartu kredit kredit dan uang dalam rekening Ririn adalah kendali dari mas Riko, itu semua bukan kuasa Ku.
Kalau papa menginginkan nya silahkan ijin dulu dengan mas Riko."
"loh batu banget sih, loh itu mau dibantu bego. apa susah Nya memberikan kartu kredit itu, dasar bego."
Wanita itu berkata dengan begitu cetus nya kepada Ririn, lebih tepatnya mengatai Ririn yang nggak-nggak.
__ADS_1
"apa susah Nya sih Bu mintak ijin dari mas Riko? tinggal telpon atau temui dia, kan gampang?"
"dengar ya Ririn, kamu tidak tahu siapa saya. sebaiknya kamu nurut.
Kalau tidak kamu akan tahu akibatnya, sebaiknya kamu nurut apa kata saya. paham?"
"Mohon maaf, saya juga tidak ada apa-apanya. jadi papa ngak perlu khawatir kalau hendak menyingkirkan hidup ku.
Toh juga saya hanya pelengkap skenario kehidupan keluarga Papa.
Papa tahu kan kalau hanya bertindak sebagai pelengkap? pelengkap itu seperti piguran pah, yang kapan saja bisa di ganti dengan yang baru.
Saya ngak punya koneksi hebat seperti yang papa miliki, saya hanya rakyat jelata yang terpilih sebagai piguran keluarga konglomerat kota ini."
"bacot....
Liat saja nanti, kamu akan menyesali perbuatan mu."
Ujar perempuan yang bersama papa nya Riko, lalu mereka berdua meninggalkan Ririn di meja kafe itu.
"cepat atau lambat toh juga nantinya akan berakhir. semoga saja semua ini cepat berlalu.
ahaaa....haaa......
Ririn bicara dengan dirinya sendiri, semuanya seperti di tutupi. ada rahasia dibalik semua ini?
Ririn baru saja menikmati spaghetti terbaik sajian Kafe, dan dia melihat suaminya datang menghampiri nya.
"duduk mas, mau di pesan apa?"
"Ririn sudah pesan beef spaghetti untuk mas, nanti Ririn mintak dikit ya."
Suaminya hanya mengganguk, lalu menoleh nya dengan raut wajah yang penasaran.
"ngak nanya kenapa mas bisa tahu, kalau kamu berada disini?"
"ngak mas, kan mas sudah membuat pelacak di handphone Ririn. dengan aplikasi dari handphone mas. pasti tahu keberadaan ku dimana?"
"terus kenapa ngak kamu buang handphone itu? kamu ngak curiga?"
"ngak, iya wajarlah mas kalau seorang suami wajib tahu kemanapun istrinya pergi. berhubung mas Riko susah di ajak ngobrol, solusinya adalah meletakkan pelacak di handphone Ririn.
Terimakasih mas karena sudah perhatian sama aku."
Riko hanya tersenyum kecut melihat ekspresi dari istrinya.
"sini handphone Mu."
Ujar Riko terhadap istrinya, tanpa rasa ragu Ririn langsung memberikan handphone itu kepada suaminya.
Riko seketika mengotak Atik handphone milik istrinya lalu mencopot benda kecil yang menempel di pinggir bawah handphone tersebut.
__ADS_1
Istrinya fokus makan Sembari melihat suaminya mengotak Atik handphone miliknya tanpa bertanya.
"kamu tahu ini apa?" Riko bertanya kepada istrinya sembari menunjukkan benda kecil dari handphone nya.
"alat perekam suara, emangnya kenapa mas?"
"ngak merasa terganggu dengan semua ini? handphone mu di sadap, ada pelacak serta perekam suara ini."
"ngak mas, itu artinya mas merindukan suara Ku. iya kan?"
Lagi-lagi Riko hanya tersenyum kecut terhadap istrinya.
"perekam suara serta sadap handphone nya sudah mas hapus."
"pelacak nya jangan ya mas, biar mas tahu dimana saja Ririn berada."
Riko hanya mengangguk dan hal membuat istrinya berhenti makan.
"terimakasih ya mas, karena sudah perduli dengan Ririn. love you."
Pelayan cafe yang datang menghantarkan makanan dan minuman tersenyum ketika Ririn mengucapkan kata Love you.
"pak balas dong, masa diam aja."
Riko menoleh pelayan kafe tersebut, lalu menoleh istrinya.
"I love to".
"dengan senyum dong, masa kecut gitu."
Pelayan gadis muda itu seolah-olah memaksanya Riko untuk mengulangi nya dengan tersenyum manis.
"I love you sayangku.."
Akhirnya Riko tersenyum lebar Sembari mengucapkan kata I love you.
Muach....
Seketika itu juga Ririn langsung mencium tepat di bibir suami nya, dan seketika itu Riko terlihat tersipu malu.
"terimakasih kasih mbak."
Ujar Ririn kepada pelayan gadis muda itu sembari memberikan tips kepada-nya, karena merasa berjasa membuat suami nya bisa mengatakan I love you dengan tersenyum.
Ririn kemudian mendekati suaminya, kemudian membuka mulutnya dengan harapan supaya di suapi oleh suaminya.
Entah apa yang terjadi, Riko dengan sabar menyupai istri nya makan.
Riko terlihat tersenyum saat menyupai istrinya, hari ini Riko terlihat berbeda.
Seketika berubah menjadi pria yang romantis, menyupai makan istrinya di tempat umum.
__ADS_1
Senyuman dari Riko dibalas senyuman manis dari istrinya dan itu membuat Riko tersipu malu.
Seperti dua sejoli yang baru merasakan cinta, mereka berdua hanyut dalam kemesraan disudut kafe itu.