
Ririn tersenyum setelah melihat suaminya sudah pulang, lalu Riko mencium keningnya.
Secara bersamaan mereka berdua langsung menuju ke kamar, tanpa henti-hentinya Ririn tersenyum melihat suaminya yang sudah pulang.
"apakah sudah siap semua mas?"
Riko tersenyum lalu mengganguk, setelah itu Ririn memberikan handuk yang bersih kepadanya dan menyuruh suaminya untuk mandi.
Lalu Ririn langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian seksi yang transparan dan tanpa memakai dalaman.
Riko sudah keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Sang istri menatapnya dengan meraba dada yang tidak terlalu sixpack, dan kemudian tangan nakal itu sudah mulai menjalar ke arah bawah.
Terlihat begitu agresif kini tangan itu sudah berada diatas gundukan suaminya, lalu merabanya secara perlahan.
Riko meraih dagu istrinya, ciuman pun mendarat di bibir mungil sang istri.
Handuk yang terlilit itu sudah dilepaskan oleh Ririn, tapi ciuman suaminya masih tetap di bibirnya yang mungil.
Lalu Riko melepaskan ciumannya, dan menggendong tubuh Ririn yang mengenakan gaun seksi nan transparan ke arah ranjang.
Pakaian seksi itu sudah terlepas dari tubuh istrinya, dan tangan Riko sudah menggerayangi tubuh indah istrinya.
Ririn sudah merenggangkan kedua pahanya untuk memberikan kode kepada suaminya, lalu Riko mengarahkan batang nya yang sudah tegang sempurna ke liang istrinya.
'ah......'
Begitulah suara yang keluar dari mulut istrinya ketika batang yang tegang itu masuk ke liangnya.
Permainan itu semakin memanas dan kemudian berganti posisi, dan pada akhirnya mereka berdua mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.
Setelah terpuaskan dengan kenikmatan cinta mereka berdua, lalu bedcover itu ditariknya untuk menutupi tubuh mereka berdua yang telanjang.
Karena kelelahan akhirnya mereka berdua tertidur lelap dalam pelukan cinta yang hangat.**
Sinar matahari pagi menembus kaca jendela dan membangunkan kedua insan itu yang masih berpelukan dalam dekapan cinta.
"selamat pagi sayang."
Riko akhirnya bangun dan langsung mencium kening istrinya, dan hangat nya mentari pagi itu menjadi saksi hangat cinta mereka di ranjang itu.
Mereka bercinta dengan begitu semangat, kehadiran Riko di kamar itu, yang pertanda kalau tugasnya balas dendam sudah berakhir.
__ADS_1
Drrrt..... drrrt .....
Handphone Ririn bergetar, bersamaan dengan mereka berdua yang sedang mencapai puncak kenikmatan cinta.
Ternyata ada pesan masuk dari Diana untuk Ririn, yang meminta untuk menonton televisi.
Ririn langsung meraih gaun seksi Nya yang tergeletak di lantai dan langsung menyalakan televisi.
Mereka begitu kaget karena melihat siaran berita di televisi, bahwa ibu Tifani melakukan konferensi pers.
Dalam konferensi pers nya, dia mengaku telah membunuh orang-orang yang menghancurkan keluarga nya.
Beberapa korban diantaranya adalah, putrinya yang bernama Rohaya dan menantunya yaitu Brayan.
Otak dari semua peristiwa pembunuhan dari beberapa orang yang tidak bersalah, termasuk pembunuhan terhadap keluarganya dan juga para pegawainya yang di bakar di green house miliknya.
Tidak tanggung-tanggung nyawa yang sudah direnggutnya, yaitu para petinggi negara yang terlibat beserta keluarganya.
Termasuk Papa nya Ririn, Riko, dan yang lainnya.
Padahal Riko lah yang membunuh dari beberapa diantara mereka, Papa nya serta mama tirinya, dan keluarga dari Papa Nya.
Mantan istri kedua Riko, beserta keluarganya, Brayan dan keluarganya.
Sementara Reza, papanya Ririn, yang dibunuh bersama kedua istrinya dan itu adalah tindakan dari Ririn.
Beliau melakukannya untuk atas nama anaknya yang telah tewas di tangan Brayan dan sudah menghabiskan semua hartanya untuk menyewa pembunuh bayaran.
Hal tersebut dilakukan, karena bu Tifani kecewa terhadap hukum di negeri. sehingga dia melakukan hukum rimba juga.
Bu Tifani berkata kalau beliau tidak akan mengatakan siapapun yang disuruhnya untuk membunuh para penjahat kelas kakak itu.
Pistol diambil dari tas nya, lalu di todong nya di kepalanya. tujuannya agar beliau diam dengan semua rahasia Nya, rahasia tentang pembunuh bayaran yang profesional yang tidak akan meninggalkan jejak.
tak.....
Seketika bu Tifani meninggal dunia dengan bersimbah darah di meja konferensi pers itu, semuanya di akui olehnya.
Karena baginya sudah percuma hidup, karena semua anak-anaknya sudah tewas ditangan menantunya sendiri.
Bu Tifani akan menyusul suami, anak-anaknya serta cucunya nya yang telah tewas di tangan Brayan.
Brayan adalah menantunya, yang telah berhasil menghancurkan keluarga nya.
__ADS_1
Ririn menoleh suaminya dan seketika itu juga meraih handphonenya.
Selesai menelpon lalu menolah istrinya dengan tatapannya yang sayu.
"anak bu Tifani tinggal dua orang lagi, saat ini tinggal di luar negeri dan sudah dianggap meninggal, persis seperti Diana dan asep.
Semua aset bu Tifani sudah dialihkan ke perusahaan milik kita, lalu digunakan untuk membayar orang-orangnya secara tunai agar tidak meninggalkan jejak.
Bu Tifani sudah terlanjur kecewa dan merasa bangkit setelah kita bergerak.
bersama Sean, kami pernah menemuinya dan berkata akan menanggung semuanya tanpa melibatkan siapapun.
Asalkan kami berhasil membunuh Brayan dan keluarganya, berikut dengan anak-anaknya dari istrinya yang lain.
Brayan memiliki tiga istri, dua istrinya berada di luar negeri bersama anak-anaknya dan mereka semua sudah tewas.
Tewas dengan cara yang sama seperti para korban yang dilakukan oleh Brayan melalui orang suruhannya.
Kita lihat saja, apa yang akan dilakukan oleh pihak berwajib setelah ini."
Ririn kemudian mendekati suaminya dan menatap nya dengan tatapannya yang penuh kwatiran.
"Sarah dan keluarganya, Papa dan kedua istrinya.
itu saya dan mbak Diana memberikan mereka menjadi makanan ternak buaya, tapi kenapa ibu Tifani yang bertanggungjawab mas?"
Seketika itu juga Riko langsung memeluk istrinya dan kemudian mencium kening nya, untuk memberikan kenyamanan dan ketenangan untuk istrinya.
"karena mereka yang sudah jadi makanan buaya juga terlibat dalam hal pembunuhan berencana terhadap anak-anak, cucu serta para pegawai bu Tifani.
Sama seperti kita yang menjadi korban, mereka sudah merencanakannya secara terorganisir dan kita membalasnya."
"lalu bagaimana dengan jasadnya bu Tifani?"
Ciuman di kening itu mendarat lagi di kening istrinya.
"pegawai ibu Tifani yang akan mengurusnya, karena bagi mereka, sosok ibu Tifani adalah malaikat penolong.
Ibu Tifani tidak akan terlantarkan, kasih nya kepada para pegawainya yang akan menjadi tempat naungannya yang terakhir.
Setengah saham ibu Tifani adalah atas nama para pegawai, sementara setengahnya sudah di jual ke perusahaan kita untuk membiayai pekerjaan nya, yaitu balas dendam.
Ibu Tifani sudah mencoba jalur hukum, tapi tidak berguna, akhirnya dia memakai caranya yang terakhir.
__ADS_1
Nyawa dibalas dengan nyawa, itu semua demi keadilan."
Ririn tersenyum mendengar penjelasan dari suaminya, dan senyuman itu dibalas dengan kecupan manis dari suami Nya.