
Sorot mata yang dendam dari Vega terhadap Bagas masih menjadi pertanyaan bagi Ririn, sepertinya mereka berdua ada hubungan yang tidak beres.
"laki-laki si mulut lemes ini mengatakan kalau aku memeras Nya, sehingga aku menjadi bulan-bulanan keluarga nya dan juga Nina adik perempuannya.
si mulut lemes ini adalah mantan pacar Ku, entah kapan dan dimana saya meminta uang nya tapi keluarga nya bisa-bisa menuduhku telah memeras nya.
Parahnya lagi, tanpa sepengetahuan ku. meminang ku kepada Papa dan memberikan hantaran pernikahan berupa uang yang sudah di habis kan oleh Papa."
"kok sama denganku.
Si Nina itu sudah aku laporkan ke polisi atas pencemaran nama baik, Nina menuduhku seperti yang Vega katakan barusan dan menghina di hadapan umum.
itu bukan hanya sekali tapi berulangkali, membuatku geram melihat nya. saya memang berasal dari keluarga miskin, tapi saya masih sanggup untuk membiayai diri sendiri tanpa jual diri seperti yang di katakan oleh Nina.
Omongan nya yang saya rekam dan juga Video yang direkam oleh teman-teman lainnya dan pernyataan dari teman-teman yang menguatkan Ku untuk melaporkan Nya."
"saya juga punya video dimana si Nina itu menghina Ku, ini saya akan kirimkan. siapa tahu berguna untuk Mu.
Jika perlu, aku bersedia menjadi saksi di pengadilan.
Niat nya ingin melaporkan Nina, tapi aku terkendala di finansial dan waktu. karena saat aku harus menyusun skripsi."
"tenang aja, Nina akan mendekam sampai busuk di sel itu."
Ririn tersenyum kecut ke arah Bagas, demikian juga dengan Vega. Mereka berdua terlihat puas akan apa yang telah terjadi.
"Ririn saya mohon kepadamu, tolong cabut gugatan mu. asal kamu tahu, aku masih mencintaimu dan sudah melamar mu kepada Papa Mu."
"oh iya, terus Papa nya Ririn menerima uang seserahan gitu?"
Ujar Vega yang menyanggah omongan dari Bagas, dan terlihat Bagas kesal dengan sanggahan tersebut.
"saya ngak ada urusan dengan mu Vega, kamu sakit hati karena pernikahan saya batalkan. tolong jangan bawa-bawa urusan sakit hati mu kepada calon istriku."
"percaya dirimu terlalu tinggi Bagas, kamu ingin menikahi Ku tapi kamu pacaran dengan wanita lain."
"Kok bisa sama ya Vega? Bagas pacaran dengan Ku tapi dia juga pacaran dengan teman ku sendiri. kenapa bisa samaan gini ya?"
Ucap Ririn yang menanggapi perkataan Vega, akan tetapi Bagas seperti nya tidak memperdulikan hal itu.
"entahlah Rin, tapi bentar lagi Bagas akan meminta ganti rugi akan hantaran. mari kita dengarkan sama-sama."
Jawab Vega seraya tersenyum ke arah Bagas dan lagi-lagi sindiran itu tidak di indahkan oleh Bagas.
__ADS_1
"Ririn, saya tidak hubungan apapun terhadap Sarah. aku hanya mencintaimu dan perjuangan ku telah di tercapai, mama dan papa telah merestui hubungan kita."
"Dejavu banget, dulu juga seperti itu penjelasannya kepadaKu."
Bagas terlihat kesal kepada Vega atas sanggahan nya, tapi gadis cantik hanya tersenyum kecut menanggapi Bagas.
"Ririn, keluarga ku telah melamar mu dan sudah memberikan hantaran."
"gila kamu ya, kamu jelas-jelas tahu kalau aku sudah nikah."
"saya ngak mau tahu Rin, yang penting kamu jadi istriku. karena keluarga ku sudah melamar mu."
"kamu kan melamarnya ke Papa, jadi kamu nikahi aja papa ya. permisi aku mau pulang."
Ririn melangkah dari ruangan tersebut, lalu di ikuti oleh Bagas namun di tahan oleh ke enam saudara sepupu nya Vega.
"mau kemana brooo, ngak usah buru-buru. santai broo...."
prak....plak..... prak ..prak... bram....
Bagas di keroyok oleh ke enam sepupu Vega dengan brutal hingga babak belur, darah segar mengalir dari hidungnya serta bibirnya yang pecah.
Beginilah kalau mempermainkan perempuan, ingat bro, kamu juga mempunyai saudara perempuan. bagaimana jika orang lain melakukan hal sama terhadap saudara perempuan mu."
Ucap Agus salah satu sepupu nya Vega kepada Bagas lalu menendang Bagas tepat di perutnya.**
"Rin.... Ririn...."
Ririn menoleh ke belakang dan yang memanggilnya adalah Sarah, sahabat nya yang sudah menusuknya dari belakangnya.
"Kenapa kamu sudah di hubungi? kamu menjauh ya dariKu?"
"seharusnya pertanyaan mu tidak perlu aku jawab, kamu sudah tahu sendiri jawaban nya."
Kik.... Kik ....
Suara klekson mobil yang di kendarai oleh pak Deden supir pribadinya, lalu pak Deden turun menghampiri Ririn.
"maaf ya non agak telat menjemput nya, tadi ada demo yang membuat bapak harus berputar arah untuk mencari jalan alternatif."
"ngak apa-apa pak, lagian Ririn baru selesai urusan kok."
Ririn mengabaikan Sarah yang terus-menerus memanggil namanya, dan Ririn terus berlalu dengan menaiki mobil yang di kendarai oleh pak Deden.
__ADS_1
"Tadi pesan tuan langsung mengantar non pulang ke rumah, agar ibu ada temannya non."
"iya pak, lagian juga Ririn sudah capek. kita langsung pulang aja. kita makan di rumah aja."
"baik non."
jawab pak Deden singkat dan mobil terus melaju dengan kecepatan sedang.
Melalui jalan alternatif pak Deden menyetir dengan kecepatan sedang karena agak macet.
Perjalanan memakan waktu yang lumayan karena kondisi jalanan yang macet dan pada akhirnya sampai juga di rumah.
Ririn langsung di sambut oleh adiknya dengan ocehannya yang masih cadel.
Semangat Ririn kembali terisi penuh ketika melihat Adit yang menyambut nya dengan wajah ceria.
Adit menarik tangan kakaknya untuk mengajaknya masuk ke rumah, dan ternyata Adit membawa ke ruang makan.
Mereka berdua makan siang yang ditemani oleh mama nya serta mpok Ina.
Selesai makan pak Deden datang menghampiri mereka yang berada dimeja makan.
"Adit, om tadi beli bola, mau ngak main bola sama om?"
"mau om."
Ujar Adit dengan semangatnya dan mereka berdua langsung langsung bergerak.
"non curhat aja sama ibu, biar Adit bapak yang jaga di luar."
Setelah mengatakan demikian, pak Deden menggenggam tangan kanan Adit lalu pergi beranjak dengan ocehan Adit karena bahagia akan bermain bola.
"Papa mu lagi kak?"
Ririn hanya mengganguk dan mama nya langsung memeluk Ririn.
Air mata keduanya langsung mengalir, dan mpok Ina yang melihat nya terasa terharu dan beliau juga menetaskan air matanya.
Pelukan itu begitu erat, dan air mata yang mengalir di pipi menjadi pengantar akan perasaan Ririn dan mama nya akan perilaku dari papa nya.
"mama sudah mendapatkan salinan keputusan Cerai dari pengadilan."
"cepat itu ma?"
__ADS_1
Sanggah Ririn kepada mama nya dan mereka kembali berpelukan.
Mereka berdua saling menguatkan dan saling menghapus air yang mengalir di pipinya.