CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Rencana yang Berhasil.


__ADS_3

Beberapa meter dari area demonstrasi, mobil yang kendari pak Deden yang digiring oleh bodyguard, lalu Ririn menoleh Vega.


"jika seandainya kamu dapat wawancara televisi, kamu jangan mau ya.


Karena orang-orang di belakang Bagas dan keluarganya adalah yang menyeramkan, takutnya jika kamu terekspos maka kamu akan dalam bahaya.


Seperti almarhum Profesor Ahmad dan yang lainnya, saya tidak ada korban lagi. tapi kita harus segera menyelesaikan ini semua."


"Terimakasih ya Rin, lalu bagaimana dengan teman-teman kita? apa yang akan terjadi dengan mereka?"


"Sisi TV area kafe tadi sudah dimatikan, jika tidak ada yang ketahuan siapa oknum yang menghajar ketiga manusia brengsek itu.


Jika pun nanti ada yang tertangkap, mbak Diana dan pengacaranya akan berusaha melepaskan nya."


"terimakasih ya Rin, tapi sih kita ngak menyuruh mereka untuk membuat keributan apalagi kekerasan."


"aduh Ga, siap coba ngak geram? ya wajar mereka berbuat anarkis. coba tadi rektor atau jajarannya mendatangi kita, kemudian kita dialog. pasti akan aman dan tidak ada kekerasan."


"iya juga ya, saya yang mengumpulkan masa yang dibantu oleh ketua BEM (badan eksekutif mahasiswa).


Karena kasus dijegal nya skripsi kita teman-teman yang lain, dana untuk pembangunan fakultas kedokteran dan fakultas MIPA dan juga dana bantuan mahasiswa yang berprestasi.


tapi saya tetap akan mendukung mu Rin, saya tidak akan kabur dari masalah kampus kita ini. saya dan teman-teman sudah sepakat."


Mereka berdua saling tersenyum satu sama lainnya, dan tiba-tiba Vega mintak berhenti.


"kenapa Ga?"


"saya dan mama membuka toko bunga disini, nah itu lihat Vega Flower. itu usaha kami berdua, untuk mencukupi biaya hidup kami."


"waouuuuu....


Besar juga toko mu, nanti aja saya singgah ya. nanti saya usahakan singgah bersama suamiku, sekalian silaturahmi dengan mama kamu.


Agak ribet ni sekarang keadaan kita, saya harus diskusi lagi dengan mbak Diana."


"ngak apa-apa Rin, saya juga ngerti kok."


"baiklah kalau begitu, kalau ada apa-apa, telpon Ririn aja. ngak usah segan-segan."


Vega memeluk Ririn, lalu mereka saling tersenyum dan akhirnya mereka pun berpisah.


Ririn terus lanjut dan tidak berapa lama sampai juga di rumah, ternyata Diana sudah berada di rumah nya.


"syukurlah mbak Ririn dah pulang, saya kwatir karena menonton televisi tadi. kami disini was-was menunggu mbak Ririn."


"saya baik-baik aja mbak, tadi kan sudah Ririn kabarin."

__ADS_1


"iya emang, tapi kalau orang nya belum nyampe kemari, kami was-was juga. ya sudah da kita masuk. Adit juga sudah menunggu kita."


Diana menggandeng tangan Ririn, lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah yang di sambut oleh Adit.


"kak, di kontlak itu apa ?"


Ririn menolah Diana, karena pertanyaan cadel dari adiknya.


"jadi mbak Ririn, tadi Adit menunjukkan hasil karya ke aku. benar-benar luar biasa, tadi sudah ku kirim ke kantor dan mereka benar-benar menyukainya dan hendak di kontrak untuk pembuatan iklan dan juga komik.


Tadi aku ngomong sama Adit, katanya nungguin kakak Nya."


Barulah Ririn mengerti, dan kemudian memangku adiknya itu.


"hasil gambar Adit itu mau dibeli sama mbak Diana, karena kakak juga menjual gambar kakak ke mbak Diana."


"jual ya, belalti ada uang Nya?"


"ada dong dek, bahkan jika laku keras di pasaran. Adit nanti punya uang banyak."


"kalau gitu kakak setujui aja ya, nanti kalau uang Adit banyak, akan Adit gunakan untuk membeli lumah buat mama."


"okey, sekarang biar kakak tandatangani ya. nanti kakak bantu untuk beli rumahnya."


"baik kak, ya udah. tolong kakak ulus ya, karena Adit mau gambal lagi."


laptopnya kan mau di pakai untuk mengirimkan gambar nya, kalau Adit pakai gimana kakak mau ngirimnya?"


"oh itu, Adit sudah punya dua laptop. dibelikan sama mas Liko, kakak pakai aja ya, nanti kalau dah selesai balu Adit ambil."


"iya dek, jangan lupa makan ya. istrihat yang cukup dan...."


"iya kakak ku celewet."


mucah.....


Adit mencium kakak lalu beranjak, dan ternyata Riko dan Asep sudah berada dihadapan mereka.


"kamu kok di cium Adit?"


Ucap Riko yang terlihat kesal, karena memang suara ciuman dari Adit terdengar.


"iiiiih mas Riko, aneh deh.


itu Adit loh yang cium, terkecuali tadi Asep yang mencium mbak Ririn. baru mas Riko layak untuk cemburu."


Riko malah menatap tajam ke arah Asep, tapi Istrinya malah tersenyum dan kemudian bersandar di lengan Riko.

__ADS_1


"ya dah mas, nanti Ririn yang mencium Adit ya."


"itu juga ngak boleh ya, mas ngak suka."


Ririn hanya tersenyum menanggapi suaminya, tapi Asep dan Diana malah geleng-geleng kepala.


muach.....


Akhirnya Riko tersenyum setelah pipinya di cium oleh Istrinya dihadapan Diana dan Asep.


"bucin."


Ucap Asep ke arah Riko dan istrinya, tapi Riko malah menjulurkan lidah ke Asep. ya persis seperti anak kecil.


"kamu baik-baik aja kan sayang? tadi mas kwatir setelah menonton televisi, kerusuhan di kampus itu sangat membuat mas kwatir."


"iya mas, kan ada pak Deden dan tiga bodyguard dari mas.


semua aman, teman-teman Ririn juga aman kok. dan si brengsek itu sudah babak belur di hajar oleh mahasiswa lainnya."


"bagus, kalau bisa cacat seumur hidupnya. biar dia ngak bisa semena-mena terhadap orang lain."


Ujar Diana yang menyahut omongan dari ririn, terlihat Diana begitu puas mendengar berita itu dari Ririn.


"pihak berwajib akhirnya memanggil Papa, mbak Ririn. apa perlu kita dampingi?"


"ngak usah mbak, itu yang Ririn harapkan. karena Papa, aku dan Adit harus menderita. semoga Papa mendapatkan balasan yang setimpal akan perbuatannya."


jawab Ririn dengan tatapan yang penuh dendam, setiap kali membahas Papa nya. amarah nya terlihat mencuat dan itu tersampaikan lewat sorot matanya.


"Papa ku kapan di panggil?"


Tanya Riko yang bertanya tiba-tiba, lalu Diana menatapnya.


"ngak lama lagi pak, karena semua ini berhubungan."


Jelas Diana, dan suami Ririn itu terlihat tersenyum puas.


"rencana kita berjalan sempurna."


Ucap Diana lagi, ternyata kejadian hari ini di kampus Ririn adalah rencana dari Diana yang tidak disusun secara matang.


Karena musuh mereka begitu tangguh, mereka mempunyai benteng-benteng pertahanan yang kuat.


Alhasil mereka harus membuat cara yang berbeda untuk melumpuhkan lawan, yaitu dengan melibatkan mahasiswa dan masyarakat lainnya.


Peran media dalam hal sangatlah penting, karena dapat menyampaikan informasi kepada masyarakat luas.

__ADS_1


Dengan rasa simpatik dari masyarakat, hal ini dapat mendorong pihak berwajib untuk menuntaskan kasus kejahatan dari Bagas, papa Ririn serta keluarga Papa Riko.


__ADS_2