CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Hampir Celaka.


__ADS_3

ngeos...... srrt..... ngeos..... sett.....


Mobil yang disetir oleh pak Deden di kejar-kejar oleh dua mobil sekaligus, hingga akhirnya kedua mobil tersebut terpeleset dan terjungkir balik serta jatuh ke tepi jalan menjauhi badan jalan.


Dengan keahlian pak Deden, sehingga mobil yang dikendarai nya mendarat atau berhenti tanpa tergores sedikitpun.


Ririn keluar dari mobil dan berusaha menolong orang yang terjepit di dalam mobil tersebut yang sudah bersimbah darah.


Sementara pak Deden terlihat menelpon, Ririn dengan bantuan penduduk sekitar berhasil menyeret orang-orang yang terjebak dalam mobil.


Mereka berjumlah 7 orang laki-laki dan satu orang perempuan, dan tidak berapa lama...


bum.....krek.... tak....


Kedua mobil tersebut terbakar, tapi orang yang di dalam mobil tersebut sudah diselamatkan terlebih dahulu.


Tidak berapa dua ambulan sudah tiba di tempat kejadian begitu juga dengan Polisi yang berjumlah 4 personil yang lengkap dengan senjatanya.


Polisi meminta Ririn dan pak Deden untuk ikut ke kantor polisi guna di mintai keterangan, sementara dua Polisi telah mengkawal ambulans tersebut.


Ririn dan pak Deden di kawal masuk ke dalam kantor polisi, ternyata mereka berdua sudah di sambut oleh Riko bersama asistennya dan dua orang yang memakai stelan jas.


"mas...."


Ririn memanggil suaminya dengan raut wajah yang ketakutan, di tambah lagi darah yang menempel di pakainya karena menolong korban tersebut.


"tenang sayang, ada mas disini. ini semua bukan salah Mu. mas sudah membawa pengacara yang terbaik di kota ini."


Riko mengatakan demikian lalu memeluk istrinya dengan erat, harapan agar istrinya bisa kembali tenang seperti yang di kenalnya.


Polisi yang mengawal mereka, menuntun Ririn beserta dengan suami nya dan rombongannya yang dibawa suaminya.


"ibu tidak perlu cemas, tenang.....


Ambil napas panjang, hembuskan perlahan dan perlahan, ayo ulangi sekali lagi Bu."


Ririn melakukannya sehingga dirinya terlihat lebih tenang, Polisi yang ada di hadapannya tersenyum setelah melihat Ririn sudah jauh lebih tenang.


"apakah ibu ada terluka?"


"tidak ada pak, hanya syok aja. peristiwa terjadi begitu saja."


"tenang ya ibu, tenang...."


Ririn kemudian menarik napas panjang Nya dan kemudian menghembuskan nya pelan, hingga terlihat sudah jauh lebih tenang.


"kita mulai aja ya, ibu tetap tenang dan jawabannya pelan-pelan aja. siap Ibu?"

__ADS_1


"iya saya siap pak."


"ibu....


kami telah memeriksa sisi tv di lingkungan tersebut, dimana peristiwa itu terjadi. kedua mobil tersebut sengaja mengejar ibu. Apakah ibu mengenal mereka? "


"tidak pak, tapi sebelum nya. saya pernah melihat mobil yang berada di belakang kami."


"dimana ibu melihat mobil tersebut?"


Ririn mencoba meyakinkan kembali ingatan nya, akan mobil yang mengejarnya. yah.....


"beberapa hari yang lalu, Tante Irma. yaitu Tante dari suami Ku, datang ke rumah dengan mengendarai mobil yang ada di belakang mobil kami. tapi plat nya beda pak, dengan yang di pakai oleh Tante Irma saat datang ke rumah."


"halaman rumah kami ada sisi tv yang aktif, nanti akan saya kirimkan file salinan nya ke bapak. untuk lebih memperjelas maksud dari istri Ku."


"baik terimakasih atas kerjasamanya Pak, ibu Ririn. apa tujuan Tante Irma itu datang ke rumah saat itu?"


"untuk meminta kartu kredit titanium yang aku pegang, kartu kredit tersebut hadiah dari Suamiku.


Tapi saya menolak untuk memberikan kartu kredit tersebut dan Tante Irma mengancam saya pak."


"seperti apa ancamannya ibu?"


"uhmmm.... awas kamu ya, kamu belum tahu siapa saya yang sebenarnya. kamu akan menyesali perbuatan mu ini, ingat itu.


Di kantor SUCI ADVERTISING juga, Tante Irma menjambak rambut ku yang akhirnya, aku banting hingga tersungkur di lantai.


Saat itu juga Tante Irma menyerang saya dan tentunya saya melakukan perlawanan pak, alhasil kondisi tante Irma babak belur."


"begitu iya Bu, apakah ibu belajar ilmu bela diri? dan apa motif Tante Irma menyerang ibu di kantor SUCI ADVERTISING tersebut?"


"saya sudah 14 tahun belajar taekwondo pak, itu saya pelajari untuk bela diri saya sendiri.


Tidak sekalipun saya pergunakan untuk menindas orang lain, itu murni untuk perlindungan terhadap diriku sendiri.


Tante Irma menyerang ku, karena tidak terima posisinya sebagai model SUCI ADVERTISING saya gantikan.


Saya tidak tahu menahu soal Tante Irma yang menjadi model SUCI ADVERTISING, saya pribadi di kontrak dengan perusahaan tersebut pak."


Berdasarkan penuturan dari Ririn, penyidik tersebut menoleh ke arah Riko, lalu menoleh kembali ke Ririn.


"SUCI advertising itu perusahaan siapa? maksud saya, perusahaan yang ibu maksud punya siapa atau siapa yang bertanggungjawab atas para modelingnya Bu?"


"itu anak perusahaan saya, SUCI ADVERTISING adalah anak dari Adi jaya group.


Istriku ini memenangkan tender brand untuk membuat iklan, dan yang menjadi model di demo iklan nya adalah Istri saya sendiri.

__ADS_1


Secara pribadi dari pihak brand menginginkan Istriku sebagai modelnya, dari situ lah istri ku ini di kontrak untuk menjadi modelnya.


Perkara Tante Irma yang di tolak menjadi model SUCI ADVERTISING adalah karena sudah habis kontrak.


SUCI advertising tidak mau memperpanjang kontraknya, sebab di awal kontrak sudah jelas-jelas dinyatakan. bahwa jika kontrak sudah berakhir maka pihak SUCI ADVERTISING, berhak mempertahankan atau mengakhiri nya.


Alasan kami menolak memperpanjang kontraknya karena Tante Irma sudah beberapa kali melanggar perjanjian kontrak."


"terimakasih pak Riko atas penjelasannya, untuk saat sekian dulu. lebih lanjutnya kami akan mendalami peristiwa ini.


Saya mohon kepada bapak dan ibu untuk kerjasama Nya.


Pak Riko, tolong tenang kan istri Bapak. beri ibu kenyamanan, istri bapak masih syok."


"terimakasih Pak, kalau begitu kami pamit dulu. saya selalu membantu bapak untuk menuntaskan kasus ini."


Riko dan istrinya berlalu, tinggal pengacara yang akan mengurus sisanya.


Kejadian begitu cepat, Ririn yang baru selesai beraktivitas di kampus hendak pergi ke rumah sakit untuk menemui Mama nya serta adik nya.


"telpon ibu, sampai kan kalau kamu baik-baik." Riko meminta istri nya untuk menelpon mama nya agar tidak kwatir.


"emangnya mama tahu akan kejadian ini?"


"tadi ibu nelpon, katanya kamu jenguk ibu dan Adit di rumah sakit. tapi kok ngak sampai juga.


Sudah telpon aja ibu, sampai kan kalau kamu dalam keadaan baik-baik saja. jangan buat ibu kwatir."


Bukannya menelpon mama nya, tapi Ririn malah menatap suaminya seraya tersenyum.


"ngak usah nyengir, telpon segera."


Ririn langsung tersadar tapi masih tetap tersenyum, lalu mencoba meraih handphone nya.


"mas....


handphone ku pecah, hancur ni handphone. ngak bisa di pakai lagi."


"pakai handphone mas saja."


Riko memberikan handphone nya, dan lagi-lagi Ririn tersenyum kepadanya.


"password mas?"


"tanggal lahir mu di balik?"


Muach.....

__ADS_1


Ririn mencium bibir suami nya, dan terlihat wajahnya merah dan tersipu malu.


__ADS_2