
Ririn tersenyum seraya menatap tajam ke arah Sarah yang berada dihadapannya, dari sorot matanya jelas terlihat dendam yang membara dan wajah ketakutan dari Sarah yang membuat Diana dan Ririn terlihat puas.
"Sarah, ketakutan itulah yang aku rasakan ketika kamu hendak mengorbankan aku untuk di perkosa manusia biadab itu.
Kamu sudah pernah diperkosa apa belum? pastinya ngak, tapi kalau jual diri seringkali."
Air mata Ririn seketika mengalir di pipinya setelah bertanya kepada Sarah.
"kamu sengaja mengajakku ke luar tenda, karena kamu ingin ditemani ke kamar mandi dengan alasan kamu takut.
tapi kamu mengurung Ku di kamar mandi dan memasukkan pria bajingan itu untuk memperkosaku."
Ujar Ririn lalu menatap Diana seraya meneteskan air matanya.
"pria itu bajingan itu adalah senior kami mbak, yang merupakan sahabat dari wanita murahan ini."
Plak.....
ucap Ririn seraya menampar pipi Nya Sarah, tangan Ririn gemetaran dan air matanya mengalir di pipinya.
"wanita murahan ini ingin menumbalkan Ririn ke pria bejat itu.
Sarah, kenapa kamu melakukannya? apa salah ku kepadamu?"
Sarah menatap tajam ke arah Ririn, dengan derai air matanya yang mengalir dan mencoba untuk berbicara.
"supaya mama bisa naik jabatan Rin, jika aku memenuhi permintaan kakak senior itu, maka dia akan membujuk mama nya untuk menaikkan jabatan mama di kantor."
"kenapa bukan dirimu aja bangsat?"
Sarah kemudian menunduk tapi suara tangisannya semakin redup.
"sudah Rin, ntah berapa kali aku di pakainya. itu semua demi mama, agar mama naik jabatan."
Jawaban dari Sarah membuat Ririn semakin geram, dan kemudian menoleh Diana.
"bisakah manusia-manusia sampah ini dibakar?"
Diana tersenyum tapi itu adalah senyuman palsu.
"sayang kalau dibakar, lebih baik menjadi makanan ternak ku aja.
Kita berada di pinggiran kota, dan mbak ada ternak buaya yang sudah lama tidak makan."
"pakaian mereka dilepas dulu ya, kasihan buaya jika memakan pakaian mereka."
__ADS_1
"tenang aja Rin, nanti ada petugasnya. yuk balik."
Diana menuntun Ririn keluar dari ruangan tersebut, sementara Sarah berteriak-teriak memanggil nama Ririn.***
Dihadapan Sarah kini sudah berdiri dua orang laki-laki dengan raut wajahnya yang penuh dendam dan amarah.
"kamu ingat Friska? anak perempuan Ku yang di perkosa oleh Bagas dan sepupu nya itu.
Selamat kamu berhasil membunuh putriku dan Vera sepupuku putriku, putri dari Adikku ini.
Sekarang kami berdua akan melakukan hal sama terhadap kalian bertiga, sebelum kalian bertiga menjadi makanan ternak."
Ujar pria itu, dan mereka berdua menyeret Sarah ke arah meja dan mengingat tangan dengan posisi nungging.
Begitu juga dengan adiknya serta mama Nya, kemudian membuka pakaian ketiganya.
Secara bergantian kedua pria itu memperkosa Sarah, adiknya serta mama nya dengan pergantian.
Tentunya dengan di barengi kekerasan, berupa tendang dan tamparan keras kepada mereka bertiga.
"keluarga hancur berantakan gara-gara kalian, dasar manusia biadab."
ucap pria sembari melakukan penetrasi kepada Sarah.
Setelah puas memperkosa ketiganya, lalu menyeret tubuh ke-tiga orang itu ke kandang buaya milik Diana.
Tubuh lemah itu tidak sanggup lagi melawan dan akhirnya menjadi santapan buaya-buaya yang yang kelaparan.**
Diana dan Ririn sudah berada disebuah pusat perbelanjaan yang besar dan mereka berdua ternyata menuju salon kecantikan yang lumayan besar.
"enak juga ke salon ya Rin?"
Diana bertanya disela-sela dirinya yang sedang di pijat kepalanya saat creambath di salon tersebut.
"iya mbak, Jujur Ririn juga tidak pernah ke salon sebelumnya. untuk pangkas rambut andalannya ya mama.
Maklumlah mbak, kuliah dan kerja. untuk menyambung hidup dan biaya perkuliahan."
Obrolan santai antara Ririn dan Diana di salon dan itu dilakukan setelah mereka mengeksekusi Sarah, adiknya serta mama nya Sarah.
Hampir tiga jam mereka berada di salon tersebut, kini saatnya shopping kebutuhan sehari-hari.
Setelah satu harian berada di luar dan akhirnya pulang ke rumah, dan mereka berdua duduk di sofa.
"mbak nginap disini ya."
__ADS_1
Pinta Ririn kepada Diana, dan hanya mengangguk setuju.
Ririn langsung membawa Diana ke kamar tamu, dan mereka berdua duduk di kursi sofa yang di kamar tersebut.
"kenapa mbak bisa terlibat? dan kenapa keluarga mbak bisa dibantai habis oleh mereka?"
Diana menatap Ririn dengan tatapan yang terpancar kesedihan, terlihat matanya yang berkaca-kaca dan akhirnya air mata itu mengalir juga di pipinya.
"ngak apa-apa kalau ngak mau cerita, itu pasti sakit jika diceritakan ulang."
Ucap Ririn seraya memeluk Diana, dan kemudian pelukan itu dilepas oleh Diana, lalu beliau menghapus air mata dari pipinya.
"dulu mbak bercita-cita menjadi seorang polisi, sejak SMP mbak sudah rajin olahraga. persiapan untuk masuk akademi kepolisian.
Olahraga itu semakin intensif dan pelatihan yang lainnya, hingga akhirnya mbak lulus SMA dan mengikuti seleksi masuk Akpol.
Saat itu hanya 100 wanita yang direkrut dari satu provinsi, mbak merasa bangga sekali karena berada di urutan nomor tiga dan alhasil mbak bisa masuk ke Akpol.
Menempuh pendidikan dan pelatihan kurang lebih empat tahun dan mbak akhirnya bisa menjadi seorang polwan.
Dua tahun penempatan dan mbak naik jabatan di investigasi kriminal, dan semua berawal dari sana.
Bersama tim kami menyelediki tewasnya pegawai PT the food, yang tidak wajar.
Seolah-olah seperti kecelakaan kerja, namun nyatanya pegawai itu di bunuh oleh orang suruhan Brayan, ayah dari Bagas.
Kelompok Brayan merasa terusik, dan keluarga kami satu persatu di teror nya.
Pertama adalah adik perempuan Ku yang menjadi korban, saat dia kuliah dan Sarah seperti germonya, dan dia memberikan adikku kepada pria jahanam itu.
Setelah diperkosa dan kemudian depresi berat dan pada akhirnya adikku bunuh diri, kemudian adik laki-laki di bunuh oleh orang-orang suruhan Brayan.
terakhir adalah kedua orang tua ku, mereka begitu keji melakukannya, demi kepuasan mereka dan harta yang mereka inginkan.
Amat teramat pedih, kami sudah mengumpulkan bukti-bukti yang bisa menyeret mereka ke penjara.
Tapi bukti kami itu dianggap tidak valid, dan kasus di tutup dengan alasan kurangnya bukti.
Semuanya diam dan tidak satu orang pun yang bersuara, karena jika bersuara mereka akan senasib dengan keluarga Ku.
Bahkan rumah keluarga ku dibakar oleh orang yang tidak bertanggungjawab, sementara aku berada di dalam.
Asep yang mengetahui langsung menyelematkan aku, alhasil kami berdua dinyatakan meninggal karena kebakaran.
Diana adalah nama kedua Ku, demikian dengan Asep.
__ADS_1
Kami berdua sudah meninggal di administrasi negara, dan kini saatnya untuk membungkam mereka semua."
Ririn memberikan tissue kepada Diana untuk menghapus air matanya, Diana berhenti bicara karena suara tangisannya yang semakin kuat terdengar.