CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Apa yang Di rencanakan oleh Riko?


__ADS_3

Tatapan dari Sarah begitu sayu, matanya yang masih berair dan semakin deras mengalir di pipinya.


"setelah kamu menikah dengan si saiko itu, kamu jauh lebih buruk."


"ucapan mu seperti motivator ulung, tapi aslinya kamu adalah serigala berbulu domba. kamu berteman dengan Ku untuk merebut apa yang telah aku miliki, saya hanya punya adik dan mama, sementara kamu memiliki segalanya.


Seharusnya dirimu lebih bersyukur atas apa yang sudah kamu miliki.


Semoga kamu cepat sembuh, terimakasih karena sudah pernah menjadi sahabat Ku."


Ujar Ririn kemudian meninggalkan tempat tersebut, kemudian ruangan itu didatangi oleh Vega dan teman-temannya, setelah mendapatkan informasi dari Ririn.


Vega dan teman-temannya melakukan hal sama juga seperti mereka memperlakukan Bagas dan Nina.


Setelah Sarah berteriak, akhirnya mereka keluar dari ruang rawat tersebut.***


Ririn sudah berada di dalam mobil, lalu tersenyum puas setelah melihat apa yang telah terjadi kepada Bagas, Nina dan Sarah.


Selanjutnya Ririn menuju sebuah kafe dan akhirnya sampai juga, ternyata Ririn bertemu dengan Herman, papa dari Riko.


Herman bersama istrinya yang bernama Karmila, yang sudah memasang raut wajahnya yang murka.


"maaf pa, macet soalnya."


"ngak apa-apa, lagipula Papa yang datang terlalu cepat."


Papa nya Riko menanggapi perkataan Ririn dengan santai.


"Riko ngak tahu kan kalau Ririn bertemu dengan Papa?"


"ngak pah, aman itu pak."


"syukurlah kalau begitu, oh iya mana kartu kredit titanium itu. karena Papa sangat membutuhkannya."


Ririn kemudian memberikan kartu kredit milik nya, dengan wajah tersenyum sumiringah, papa mertunya itu menerima nya.


"kartu kreditnya memakai pin ya pah, pin nya dua digit dari belakang tanggal lahir mas Riko."


"ah, maaf tapi Papa lupa tanggal lahir lahir Riko."


Dengan wajah kecewa, Ririn menuliskan pin nya di sebuah kertas lalu diberikannya kepada Papa mertunya.


"kenapa sih Lo payah banget memberikan kartu kredit itu? Riko anaknya mas Herman, kenapa pula kamu yang berhak."


"maaf, saya tidak mengenal anda. jadi saya tidak berkewajiban untuk menjawab pertanyaan kamu."


Papa mertunya langsung melerai mereka berdua dan kemudian Herman mengajak istrinya untuk pulang, untuk menghindari pertengkaran Ririn dengan istrinya.

__ADS_1


Setelah kepergian Papa mertunya, selanjutnya adalah pertemuannya dengan Tante Irma.


"tumben ngajak ketemuan? kamu merencanakan sesuatu ya?"


Ucap Tante Irma yang memberikan pertanyaan kepada Ririn.


"hadehhh, dasar wanita bermulut pedas. kalau bukan karena di mintak mas Riko, saya juga ogah bertemu dengan Mu."


Sanggah Ririn lalu melemparkan kartu kredit titanium dan juga kunci.


"itu kartu kredit titanium dan kunci rumah, itu kan yang kamu incar?"


Tanpa menanggapi perkataan Ririn, lalu tante Irma langsung mengambil kartu kredit dan kunci rumah kemudian pergi begitu saja.


Ririn kemudian meraih handphone gemgam Nya, terlihat menghubungi seseorang.


'sudah ya mas, Ririn pamit ke kampus ya mas.'


Hanya mengatakan seperti itu, lalu telpon berakhir. setelah membayar bill makanan dan minuman Papa mertuanya, Ririn langsung beranjak pergi.


Sesampainya di kampus, Ririn langsung menuju ruangan bu Lita. dosen pembimbing utamanya.


"nak Ririn, duduk sayang."


Sapa bu Lita kepada Ririn seraya tersenyum lebar.


"sama-sama ibu, tapi kasihan juga ya bu teman-teman yang lain. sampai dua tahun tertunda, mereka harus membayar uang semester lagi.


Seharusnya sudah wisuda dan bisa cari kerja, tapi semua tertunda.


Ngak bisa Ririn bayangkan, dulu rasanya untuk membeli buku panduan aja harus menabung dulu, dan harus ditambah lagi membayar semester."


"iya nak Ririn, tapi begitulah keadaannya. seharusnya juga ibu dan suami sudah kembali ke kampung untuk menghabiskan masa tua kami.


Semua tertunda dengan banyaknya permasalahan, seharusnya ibu dan suami sudah menikmati indahnya pagi alam pedesaan yang jauh polusi udara."


Ririn dan dosen pembimbing utama yaitu bu Lita saling tersenyum satu sama lainnya.


"benar-benar lega rasanya nak, anak-anak didik ibu sudah selesai sidang skripsi dan dinyatakan lulus semua.


ada juga beberapa dosen pembimbing yang senasib dengan ibu, tertunda pensiun karena anak-anak didiknya.


Sekarang lega jadinya, setelah kalian nanti wisuda. ibu dan suami akan berangkat ke tanah kelahiran suami ibu, untuk menikmati masa tuan nanti, di sana juga ada anak kami.


Setelah selesai kuliah pertanian, dia balik ke kampung suamiku dan bertani disana."


"Ririn juga mengungkapkan terimakasih kepada ibu karena sudah mendukung kami, terimakasih juga atas semua jasa ibu yang dengan tulus dan ikhlas membimbing kami selama perkuliahan.

__ADS_1


Semoga ibu dan bapak bisa menikmati masa tua di desa nantinya."


"amin."


Ucap bu Lita sembari memeluk Ririn yang duduk di kursinya.


"cie yang berpelukan."


Itu adalah pak Arif dosen pembimbing kedua Ririn, yang datang menghampiri bu Lita di ruangan.


"pak Arif, iya ni pak. karena bahagia aja, akhirnya Ririn bisa menyelesaikan perkuliahan dengan tepat waktu."


"itu karena kamu sangat giat dan tekun nak, usaha tidak akan mengkhianati hasil."


"ibu........"


Segerombolan mahasiswa-mahasiswi mendatangi ruangan ibu Lita, yang membuat pak Arif berhenti bicara.


Satu persatu mereka semua salin ke ibu Lita, lalu ke pak Arif. lalu tersenyum manis ke arah Ririn.


"terimakasih banyak ya Rin atas bantuan Mu, kalau ngak. mungkin Devi ngak bakalan bisa sarjana.


Begitu selesai sidang skripsi dan dinyatakan lulus, Devi di terima kerja dan tidak jadi beban keluarga.


Terimakasih ya ibu, karena sudah membujuk Ririn untuk membantu kami."


Ujar Devi, salah satu mahasiswi yang datang dengan teman-temannya.


Mereka tiada henti-hentinya berterimakasih kepada Ririn, karena pada akhirnya mereka bisa sidang skripsi dan lulus.


Bu Lita tersenyum dan matanya berkaca-kaca menatap satu persatu anak-anak didiknya yang akhirnya berhasil sidang skripsi dan lulus.


"ibu kok nangis?"


Devi bertanya kepada bu Lita lalu memeluknya dengan erat, dan kemudian melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata ibu Lita.


"ibu hanya bahagia aja nak, akhirnya kalian anak-anak didik ibu bisa lulus.


ibu akan tenang pulang kampung dan bisa bersama dengan suami ibu menikmati masa tua nanti.


Ibu bahagia karena semua beban ibu sudah lepas, anak-anak ibu sudah lulus."


Rasa haru bergema di ruangan itu, dan mereka saling tersenyum dan juga meneteskan air mata.


Hanya karena keegoisan yang punya kuasa dan uang, masa depan orang lain menjadi terhambat.


Kebahagiaan orang lain yang mendekam karena keegoisan mereka yang berkuasa, walaupun penuh tantangan dan rintangan akhirnya mereka mencapai apa mereka kehendaki karena bersatu melawan ketidakadilan.

__ADS_1


__ADS_2