
Pesaing yang pertama sudah selesai persentase dan sekarang giliran pesaing kedua, tapi Ririn masih tetap berpikir untuk memberikan ide yang cemerlang agar menang tender tersebut.
Seketika Ririn tersenyum, dia mengingat pernah membuat proyek untuk tugas mandiri dari kampus nya.
Ririn langsung membuka layanan browser di laptop tersebut dan mengakses email nya, Ririn bernapas lega karena file yang disimpan nya dalam drive email bisa diakses dan kemudian di unduh secara lengkap.
Kemudian mengedit sedikit proyek itu agar sesuai dengan tema yang di inginkan terhadap tas yang mewah dari brand ternama tersebut.
Kini tiba giliran SUCI ADVERTISING, anak perusahaan dari grup jaya yang merupakan usaha dari Riko.
Ririn berdiri dengan penuh percaya diri dan kemudian menyambung laptop tersebut ke proyektor.
Tampilan yang muncul di layar hanya warna pink, dan kemudian Ririn menatap satu persatu peserta nya.
"terimakasih atas kesempatan yang berharga ini, tentunya ini adalah kesempatan emas untuk SUCI ADVERTISING, yaitu perusahaan pembuat iklan yang ternama di kota ini.
Nama saya Ririn dan saya adalah perwakilan dari SUCI ADVERTISING.
Bapak-Ibu, tujuan iklan adalah untuk menyampaikan detail produk secara lengkap dalam kemasan yang simpel.
Bermakna dan mudah diingat, inilah yang motto kami dalam mengembangkan iklan."
Ririn berhenti bicara sejenak dan kemudian meneken enter dalam keyboard laptop tersebut.
"Pertama sekali adalah berupa kalimat, berikut gambar dari berbagai sisi produk.
' Dirimu Begitu spesial bagi kami, kini kami menghadirkan tas spesial untuk dirimu yang spesial, melengkapi hari-hari mu yang spesial'
Kalimat ini di ucapkan dengan begitu lembut, lantang dan jelas. seperti seorang penyanyi yang menyampaikan isi lagunya ke fansnya.
tampilan berikutnya bapak-ibu adalah, tampilan dari produk nya berikut dengan detailnya.
Tampilkan ini dibarengi dengan instrumen musik kekinian yang lebih syahdu, berikut pilihan lagu.'"
Pilihan instrumen musik adalah lagu dari Gita Gutawa yang berjudul ' kau begitu sempurna'.
"bapak-ibu tampilan berikutnya adalah model ternama yang memamerkan setiap detail produk, yang akan di iringi oleh instrumen musik slow rock."
Tampilkan ketiga adalah model yang mengenakan tas, tapi modelnya Ririn sendiri dengan memakai pakaian ala kadarnya dengan iringan instrumen yang membuat mereka terhanyut akan tampilan ketiga.
"Mohon maaf Bapak-ibu, modelnya belum ketemu. jadi diri saya sendiri saja. maaf walaupun hanya ala kadarnya."
'hahaha.... hahahaha..... hahahaha...
Suara tertawa dari seorang pria sangat berwibawa, karena ucapan dari Ririn.
"sekarang mari kita satukan dari ketiga output videonya."
Ririn memutarkan video tersebut, mulai dari suara pertama video dan model nya adalah usaha dari Ririn seorang.
Pria yang berwibawa itu terlihat menikmati setiap detail tampilan video yang berdurasi 40 detik tersebut.
__ADS_1
Prok...... prok..... prok.....
Pria yang berwibawa itu tepuk yang disambut yang lainnya.
"mbak Ririn, saya kagum dengan ide dari mbak Ririn. saya Rian, CEO untuk Kantor pusat Indonesia untuk brand ini.
Saya menyatakan ide proyek ini di menangkan oleh SUCI ADVERTISING."
Suara tepuk tangan kembali terdengar riuh di ruangan mewah itu.
"saya mau bertanya, tampilan pertama itu suara siapa?"
"pengisi suara itu adalah saya pak, semua itu demi menghemat bajet. kalau sekiranya sudah di terima baru mencari pengisi suara yang sesuai dan juga model ternama."
"mbak Ririn, itu sudah sangat sempurna. tidak perlu di ganti, untuk modelnya juga tidak perlu diganti, hanya perlu tambahan model saja.
Artinya pengisi suara tetap mbak Ririn, dan modelnya juga mbak Ririn yang nantinya akan berkolaborasi dengan model ternama.
Pak Riko........
bapak memang selalu memberi ku kejutan. ngomong-ngomong mbak Ririn ini pegawai baru Bapak?"
"tidak pak, Ririn Istriku."
Riko menjawab dengan begitu singkat, tapi dia tidak menatap istrinya saat berkata demikian.
"suami-istri yang luar biasa, perpaduan yang sempurna.
Oh iya pak Riko, apakah bapak setuju jika mbak Ririn yang menjadi pengisi suaranya dan modelnya?"
Seketika itu pak Rian langsung menoleh Ririn yang masih berdiri.
"kalau untuk pengisi suaranya tidak masalah bagiKu, tapi untuk jadi modelnya apabila berkalaborasi dengan model ternama. jujur saya tidak percaya diri pak.
Saya pribadi membuat model itu di kamar pak, tidak seorang pun yang melihatnya. nanti takut nya mengecewakan ketika saya tampil sebagai modelnya.
Saya belum pernah menjadi model apapun, atau belajar model."
"ngak usah merendah gitu mbak Ririn, tidak pernah belajar model tapi hasilnya luar biasa."
"sayang.....
kalau memang mau jadi modelnya ngak apa-apa, ntar di ajari oleh ahlinya. semua itu kantor yang urus.
Asal kamu mau menjadi modelnya, pokoknya mas jamin kamu akan menjadi model yang terbaik."
Dengan raut wajah yang bahagia, Riko membujuk istrinya untuk menjadi model. Ririn hanya mengangguk, untuk memberi persetujuan kepada suaminya.
"baik, dengan ini saya putuskan. tender ini di menenangkan oleh SUCI ADVERTISING.
Mbak Ririn, secara keseluruhan saya suka dengan ide mbak Ririn. Ku tunggu video persentase selanjutnya di kantor saya.
__ADS_1
Selamat siang dan terimakasih."
Pak Rian langsung berlalu bersama Tim-nya, terlihat dari wajahnya Ririn terpancar rasa lega dan bahagia, karena tantangan dari suaminya bisa di lalui dengan hasil yang sempurna.
Tim dari SUCI ADVERTISING kemudian memberikan selamat kepada Ririn yang telah berhasil memenangkan tender.
"Dian dan Eko, selesai semuanya dan buat daftar model yang kita perlukan serta siapkan pelatih model profesional."
"siap pak."
Dengan serentak Dian dan Eko menjawab bos nya, kemudian Riko menarik tangan istrinya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Riko membawa istrinya ke salah restoran di hotel itu, setelah mendapatkan meja. mereka berdua duduk berhadapan.
Riko yang memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua tanpa bertanya kepada istrinya perihal makanan apa yang mau di makan.
"tidak perlu berbangga diri, dasar kampungan."
Ririn hanya menanggapi perkataan suaminya dengan tersenyum, walaupun senyuman tidak di pahami oleh suaminya.
"kamu ngak kuliah?"
"besok mas, karena besok akan mulai ujian akhir semester."
Riko tidak menanggapi jawaban dari istrinya, beliau terlihat fokus melihat handphonenya.
"mulai besok, Dian akan mengatur jadwal mu. jangan melawan atau membantah, paham?"
Ririn tersenyum sambil mengangguk pertanda dia paham akan perintah suaminya, tapi Riko tidak mengacuhkannya.
'prok... prok.... prok...
"istri baru, cantik lagi. dapat dimana?"
Ujar seorang pria paru baya yang ditemani seorang wanita yang terlihat agak kuda dan modis.
Mereka berdua duduk di kursi kosong dekat Riko tanpa dipersilahkan.
Riko kemudian berdiri sembari menarik tangan istrinya, hal membuat Ririn menjadi bingung.
"mas, kita mau kemana? pesanan kita belum ada yang keluar mas."
"mas ngak sudi makan satu meja dengan pengemis."
Riko berkata demikian seraya berjalan dengan menarik tangan istrinya. kemudian berhenti ketika berpapasan dengan pelayan restoran.
"ini uang untuk membayar pengemis yang di meja itu, jika masih sisanya berikan kepada pengemis itu."
Riko memberikan segepok uang dengan nominal 100 ribu Rupiah ke tangan pelayan laki-laki yang berpapasan dengannya seraya menunjuk ke arah meja tempat kedua tamu yang tidak di undang itu.
"Riko....
__ADS_1
Riko di panggil pria paru baya itu dengan berteriak, sehingga mereka menjadi perhatian pengunjung restoran itu.
Tapi Riko tidak memperdulikan hal itu, dia berlalu bersama istrinya keluar dari hotel.