CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Ririn Beraksi.


__ADS_3

Ririn perlahan membuka kedua matanya dan melihat suaminya yang tersenyum, lalu mereka melakukan morning kiss.


"mas, mandi bareng yuk."


Riko langsung mengiyakan permintaan istrinya, dan langsung menggendongnya ke arah kamar mandi.


Ternyata Riko membawa istrinya ke arah bathub, sebelum air terisi penuh. Ririn menggoda suami nya untuk mengulangi kenikmatan seperti yang mereka lakukan semalam.


Setelah berdua terpuaskan, barulah mereka mandi. selesai mandi lalu berpakaian.


Ririn menggandeng tangan suaminya menuju ruang makan, ucapan selamat dari Adit. menambah semangat untuk Ririn dan suaminya.


"Mpok bahagia banget melihat kalian berdua seperti ini, inilah yang mpok ingin lihat dan tentunya almarhumah ibu Nadia.


Semoga pernikahan kalian berdua bahagia sampai kakek nenek, dan semoga kemesraan di pagi terus menerus berulang setiap hari."


Ujar mpok Ina, lalu menyajikan makanan dan minuman untuk Riko dan istrinya yang dibantu oleh mamanya Ririn.


"ibu, mpok. makan bareng yuk."


Pinta Riko terhadap kedua wanita paru baya itu, dan mpok Ina dan mertua nya tersenyum bahagia.


"kami berdua nanti makannya, ibu sama mpok sudah terbiasa makan berdua. melihat nak Riko dan kak Ririn tersenyum seperti ini membuat ibu kenyang."


"ibu ini ada-ada aja deh."


"benar kata mertua mu, kami berdua sudah terbiasa makan berdua. itu sudah sejak dulu, bahkan dulu almarhumah malah ikut makan dengan kami berdua di dapur."


ucap mpok Ina, dan Riko hanya tersenyum. kemudian lanjut makan.


"Adit kapan sekolah Bu?"


"Adit itu sudah lulus TK mas, Adit juga sudah bisa membaca dan belhitung.


Tapi pendaftalan untuk masuk SD belum di buka, Adit tellambat masuk Nya. iya kan ma?"


Ucap Adit dengan cadel Nya, dan Riko berhenti mengunyah lalu tersenyum ke arah Adit.


"buka terlambat dek, tapi Adit belum cukup umur. umur Adit belum genap enam tahun. sementara untuk masuk kelas satu SD harus minimal enam tahun enam bulan.


Adit ngak terlambat, tapi Adit menunggu bertambah usia agar masuk sekolah Dasar."

__ADS_1


"oh iya kak, Adit lupa. oh iya kak, Adit sudah mengirimkan gambal ke email kakak ya."


"gambar apa dek?"


"kakak buka aja dulu, nanti kakak kasih komentar ya."


Ririn hanya mengangguk dan mereka lanjut makan, selesai makan. Riko dan istrinya berangkat bersama.


Riko memegang tangan istrinya lalu mencium punggung tangan tersebut, kemudian menatap istrinya.


"Adit tahu cara mengirimkan sesuatu melalui email?"


"oh iya, Ririn lupa mas. pernah sih Ririn ajarkan, tapi ngak tahu bisa apa ngak nya. tar ya mas biar Ririn cek dulu."


Setelah membuka pesan email masuk melalui handphone Nya, Ririn begitu kaget melihat file animasi yang di kirimkan oleh adiknya.


"mas, bagus ngak animasi yang dibuat oleh Adit ini?"


Riko berulang kali menggosok matanya dan kemudian tersenyum bangga melihat karya animasi yang dikirim oleh adik iparnya yang masih kecil itu.


"sempurna, Adit jago membuat seperti ini. kok bisa? siapa yang mengajari nya?"


Ririn tersenyum seraya menunjuk dirinya sendiri, dan lagi-lagi Riko mencium keningnya.


Setelah Ririn keluar dan mobil itu berlalu, Ririn langsung di datangi oleh Vega dan teman-temannya yang lain.


Berjumlah hampir empat puluh orang, dan mereka adalah mahasiswa-mahasiswi yang bermasalah dengan skripsi oleh ulah mama nya Bagas dan Sarah sahabat dari Ririn.


"syukurlah kamu sudah tiba Rin, rencananya kami akan demo di depan kantor rektor dan kami sedang menunggu media untuk datang kemari.


katanya mereka sedang menuju kemari, kami semua sudah membuat persiapan. jika Ririn ingin bergabung dengan kami silahkan."


"tentu saya akan gabung, kan nasib kita sama. gara-gara mereka nasib kita jadi terkatung-katung seperti ini."


Jawab Ririn kepada Vega, mahasiswa kedokteran yang berada dalam satu naungan universitas.


Para awak media sudah berdatangan, Vega dan teman-temannya yang kaget karena melihat awal media yang hadir.


Jumlah mereka jauh lebih banyak dari perkiraan, lalu Vega menatap Ririn dengan sejumlah pertanyaan dalam benaknya.


"Rin, kok bisa banyak banget?"

__ADS_1


"kita harus totalitas, bayangkan betapa senangnya ketika skripsi kita di ACC, tapi pada akhirnya kita tidak bisa lanjut karena kecurangan yang terjadi.


Ini kampus Vega, bukan panggung politik. tempat ini untuk belajar dan menghasilkan generasi muda yang terdidik yang akan membangun bangsa ini."


"saya setuju Rin, teman-teman yang lain sudah hampir setahun menunggu yang tidak jelas. kasihan Rin."


Rombongan Ririn berjalan ke arah kantor rektor, dan para awak media mulai melakukan siaran langsung.


Tapi rektor maupun wakilnya atau siapapun itu tidak kunjung menemui mereka, yang sedang melakukan unjuk rasa.


Ririn langsung menangis lalu di ikuti oleh Vega dan mahasiswi lainnya, dan itu menjadi perhatian beberapa reporter untuk mewawancarainya secara langsung.


"kami telah mengikuti perkembangan informasi nya, tapi semua simpang siur. nyata bukan hanya kalian ada disini yang pernah mengalami skripsi di jegal oleh rektor secara langsung.


Angkatan kalian sebelumnya sudah ada dan akhirnya memilih kampus swasta untuk melanjutkan studinya, apa yang sebenarnya terjadi?"


"begini kakak, ibu Rohaya. direktur Bank pemilik pemerintah itu yang melakukan ini semua.


Anaknya yang bernama Bagas adalah mantan pacarnya, dan setelah saya tahu Bagas itu memiliki kelainan jiwa sehingga saya memilih putus dengannya.


Lalu Bagas melamar saya dan memberikan mahar kepada Papa ku secara sepihak, dan tentunya aku menolaknya.


Siapa yang mau punya suami sakit jiwa seperti Bagas, alhasil atas perintah dan kuasa dari mama nya Bagas. skripsi saya di jegal kak."


Ucap Ririn dengan menangis tersedu-sedu, dihadapan reporter perempuan yang bertanya kepadanya.


"jadi Bagas itu memiliki kelainan jiwa, maksudnya kelainan jiwa disini apa mbak? tolong jelaskan."


Ririn kemudian memberikan dokumen kepada reporter tersebut, yaitu salinan rekam medis Bagas dan mama nya.


Rekam medis yang didapatkan Ririn bersama suaminya di grobak.


"bukan hanya Bagas yang sakit jiwa, tapi mama nya juga. ini rekam medis keduanya, silahkan baca dan perhatikan."


"mbak rekam medis ini persis tahun dimana direktur utama Bank milik pemerintah itu disahkan, jika ibu Royaha menderita DID atau Dissociative Identitiy Disorder.


Inilah yang biasa disebut berkepribadian ganda, masa orang seperti ini bisa jadi di rekrut bank."


Mereka semakin bingung dengan pertanyaan Ririn, dan beberapa mahasiswa lain juga ikut berdemo dan entah dapat mereka informasi tentang masa lalu keluarga Bagas.


Ririn meninggalkan area demonstran yang semakin membludak, dan menarik tangan Vega serta teman-teman yang lain.

__ADS_1


Tapi hanya Vega yang bersedia keluar dari kerumunan para demonstran tersebut.


__ADS_2