CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Semakin Ada Kejelasan.


__ADS_3

Akhirnya mpok Ina sudah tenang, setelah menarik napas dalam-dalam kemudian menatap Profesor David.


"pak Herman yang melakukan yang menyebabkan semua ini, kerakusannya dan ketamakan yang membuat semuanya menjadi kacau.


manusia Iblis berusaha keras untuk melenyapkan keluarga nya sendiri demi kepuasan nya yang tidak jelas."


Mpok Ina kemudian terdiam, lalu Riko menyerahkan salinan dokumen kepada Profesor David dari koper yang diterimanya dari Mpok Ina.


"prof, ini adalah bukti kejatahan yang telah Papa lakukan untuk melenyapkan Atok, mama dan Riko.


Ternyata korban yang tidak bersalah menjadi sasaran nya, telah banyak korban jiwa yang berjatuhan karena keinginannya yang di luar nalar manusia."


Profesor David dan Johan asisten nya melihat dokumen tersebut, setelah membaca beberapa saat. mereka berdua secara bersamaan menarik napas dalam-dalam lalu menoleh Riko dan istrinya secara bergantian.


"saya rasa wawancara sudah cukup, semuanya sudah terjawab. nantinya akan saya informasikan jadwal tahap kedua."


"kenapa secapat itu prof?"


Tanya Ririn dengan penasaran, lalu Profesor David menatap nya dengan tatapan iba.


"Penuturan nak Ririn, demikian juga dengan penjelasan dan rekam medis nak Ririn ini, dan rekam medis dari nak Riko yang saya peroleh dari dokter Imran.


Diperkuat dengan wawancara ini serta bukti dari dokumen ini sudah menjawab semuanya. ini sudah lebih dari cukup.


Pengalaman sebagai psikolog, kami tidak bisa terlalu dalam menggali ingatan seseorang karena itu bisa mempengaruhi variabel lainnya.


Kita lakukan secara bertahap dan perlahan bersama dokter Imran dari segi medis, kita akan melakukan tahap kedua.


tahap kedua ini akan menentukan sebagai mana cepat kita bisa menangani pasien, dan berharap tidak variabel lain yang mempengaruhi.


Jadi kita sudahi saja sesi wawancara kali ini, dan berhubung saya sudah memperoleh data yang saya butuhkan untuk proses tahap kedua."


Riko dan istrinya mengangguk tanda setuju dan akhirnya sesi wawancara tersebut berakhir.


Kedatangan Profesor David dan asistennya bersifat rahasia yang di kawal ketat oleh orang-orang kepercayaannya Riko.


Profesor psikolog dan asisten tersebut di antar pulang dengan pengawalan ketat dari orang-orang kepercayaannya Riko.**


Riko menatap istrinya yang berbaring di ranjang dan berusaha menggoda nya, tapi sepertinya dia masih berusaha menahan godaan dari istrinya.


"mas, bisa ngak kita memulai dari sekarang?"


Perlahan Riko mendekati istrinya, tatapan mereka saling bertemu. tapi ada sesuatu yang mengganjal.

__ADS_1


"seiring berjalannya waktu, mas semakin mencintai Mu. tapi mas takut melukaimu, mas berharap kita menunggu untuk beberapa waktu."


"baiklah mas, Ririn paham. tapi setidaknya mas tidur disini ya, jangan tidur di sofa lagi. temani Ririn tidur disini.


kita itu suami-istri dan sudah selayaknya kita tidur satu ranjang.


Ririn akan sabar kok menunggu waktu yang tepat, tapi Ririn mohon untuk mas tidur disini untuk menemani Ririn tidur disini."


Walaupun terasa agak janggal, Riko berbaring di samping istrinya.


Ririn tersenyum melihat suaminya yang terlihat kaku di samping, dan Ririn tanpa rasa canggung langsung mencium Riko.**


Pagi sudah tiba dan Ririn sudah bangun terlebih dahulu, Ia menatap wajah suami nya yang masih tidur terlelap.


"apaan sih? buat kaget aja."


Ujar Riko yang akhirnya terbangun, dan berusaha untuk bangkit dari ranjang tersebut tapi di tahan oleh istrinya.


"bentar lagi kenapa mas? "


Pinta Ririn yang mencoba membujuk suaminya.


"mas harus kerja."


Drrrt.... drrrt.... drrrt.....


Handphone Riko berbunyi, lalu Ririn mengambilnya Lalu menjawab panggilan dari Asep.


Raut wajah Ririn seketika berubah menjadi raut wajah yang penasaran, dan itu menjadi perhatian Riko.


"Kenapa sayang?"


Tanya Riko yang penasaran melihat perubahan raut wajah istrinya yang tiba-tiba berubah.


"bukti transaksi rekening yang Papa buat atas Ririn, dan itu benar-benar di luar nalar mas.


Papa berapa mentransfer uang dengan jumlah uang yang banyak ke rekening beberapa perempuan yang menjadi selingkuhan Papa.


Ririn pusing mas ngejelasinnya, ntar aja biar Asep yang menjelaskan lebih rinci. Ntar lagi Asep dan Diana akan kemari."


"ngak apa-apa sayang, perlahan-lahan semua itu akan terungkap. kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat sembari melakukan yang terbaik sebisa kita kita."


Riko dan istrinya langsung bersiap, dan langsung menuju meja makan. disana sudah ada mama nya Ririn dan Adit serta Mpok Ina yang menunggu di meja makan.

__ADS_1


tidak berapa lama, Asep dan Diana sudah tiba di meja makan dan mereka semua makan bersama sebelum memulai aktivitas.


Adit kemudian di ajak pak Deden untuk bermain bola di taman belakang rumah, sehingga Riko dan istrinya serta, Asep, Diana dan mpok Ina bisa dengan tenang ngobrol di ruang privat tersebut.


"ibu, Asep harus bicara, mohon pengertian ibu ya."


"iya nak Asep, jika nak Asep mau bertanya atau butuh penjelasan. ibu akan menjawab sebisa mungkin."


"terimakasih atas pengertian ibu, jadi begini bu. kemarin itu mbak Ririn memberikan Asep nomor rekening atas nama mbak Ririn berikut dengan bukti-bukti transaksi nya.


Dana yang mengalir ke beberapa perempuan Muda, dan sejumlah bukti atas perselingkuhan bapak."


"benar itu nak Asep, ibu sudah mengetahui Nya. ibu juga ada bukti-bukti perselingkuhan Papa nya Ririn dengan wanita lainnya.


Ibu sering menemukan bukti transfer berupa kertas print dari ATM di saku bajunya serta bau parfum perempuan di jas Nya.


Ibu juga pernah melabrak perempuan muda yang menjadi simpanannya, dan ini semua bukti-bukti yang ibu kumpulkan atas semua perselingkuhan dan beberapa aktivitas nya yang lain yang ibu kurang paham, dan semoga ini bisa membantu."


Asep dan Diana membaca dan mengamati bukti-bukti yang disodorkan oleh mamanya Ririn lalu mencocokkan dengan beberapa dokumen.


"seharusnya bukti ini sudah cukup menyeret mereka semua ke neraka jahanam."


Ujar Diana yang terlihat geram setelah melihat semua bukti-bukti yang tersedia.


"sabar dulu Diana, kita butuh ingatan masa kecil mas Riko dan mbak Ririn.


Kita harus tetap hati-hati dan jangan gegabah, Diana.....


ingat kita sudah pernah gagal melakukan hal ini karena kita tidak sabaran, kita harus menyelesaikan ini semuanya."


Ririn kemudian menoleh ke arah Asep, dari raut wajahnya jelas-jelas terlihat rasa penasaran.


"apa maksudmu Asep? mbak ngak ngerti."


Mendengar pertanyaan dari kakak iparnya itu, Asep menoleh nya dengan genangan air di pipinya.


"Kedua orang tua Asep dan Bude yaitu almarhumah mama nya mas Riko tewas di tangan Om Herman.


Papa mertua mu mbak, dan banyak orang-orang yang tidak bersalah menjadi korbannya.


termasuk kedua orangtuanya Diana dan adik laki-lakinya yang tewas saat itu."


Ririn hanya bisa terdiam atas penurutan Asep, dia tahu kalau ayahnya juga terlibat dalam hal ini tapi buktinya belum kuat untuk membuat Papa nya mengakui semua itu.

__ADS_1


__ADS_2