
Suasana semakin tidak terkendali, para demonstran yang terdiri dari para mahasiswa-mahasiswi kampus tersebut sudah mulai rusuh.
Mereka menuntut rektor dan jajarannya di pecat secara tidak terhormat, karena ada yang mengiringi opini bahwa rektor dan jajarannya korupsi dan juga berpolitik yang akhirnya merugikan para mahasiswa-mahasiswi.
Suasana semakin tidak terkendali, beberapa kaca jendela kantor rektor sudah pecah akibat dilempar oleh mahasiswa yang sudah terprovokasi.
Hal itu dipicu atas ketidakhadiran rektor atau jajarannya untuk menemui mahasiswa-mahasiswi yang melakukan unjuk rasa.
Ririn dan Vega sudah berada di sebuah Kafe yang tidak jauh dari kampus, Vega yang terlihat ketakutan tapi tidak dengan Ririn yang bersikap tenang.
drrrt.... drrrt... drrrt....
Handphone Ririn bergetar, ternyata yang menghubungi Nya adalah Sarah.
Ririn menjawab panggilan itu, terdengar dari percakapan tersebut bahwa Ririn meminta Sarah untuk menemui di kafe dimana dia berada sekarang bersama Vega.
Ternyata Sarah datang bersama Nina dan Bagas, mereka bertiga terlihat marah terhadap Ririn.
"kamu terlalu jauh melangkah Rin, kamu tega mengorbankan sahabat mu sendiri."
"Ririn kenal dengan perempuan ini?"
Vega bertanya kepada Ririn dengan raut wajahnya yang penasaran, dan Ririn hanya mengganguk.
"perempuan ini Rin sudah bermain gila dengan Bagas, dan perempuan ini benar-benar saiko. dia selalu merebut pacar orang lain, dan ketika di labrak. maka nasibnya akan sama seperti kita."
"sama juga dengan Nina, dia sama saiko dengan Bagas dan mama Nya."
"tutup mulutmu ******."
Ucap Nina ke Ririn, tapi Vega langsung melotot ke arah Nina.
"****** kamu bilang? bukannya kamu yang ******! kamu rela tidur dengan para lelaki hidung belang demi kepuasan sendiri."
"sudah cukup."
Ucap Bagas dengan setengah berteriak kepada Vega dan adiknya yang bersitegang, lalu perhatian mereka teralih ke Bagas.
"apanya yang cukup? kezaliman mu yang cukup! lihat betapa menderitanya kami, gara-gara kamu saya tertunda untuk mendaftar Koas.
Seharusnya saya sudah Koas Bagas, tapi semua terkendala karena ulah mu. teman-teman yang lain seharusnya sudah bekerja untuk menghasilkan uang."
Vega berkata demikian dengan meluapkan semua emosinya, tapi Bagas tidak mengindahkan Nya.
__ADS_1
Dia malah menjawab panggilan telepon genggamnya.
Wajah Bagas menjadi merah karena marah, lalu menatap Ririn dengan penuh amarah.
"gara-gara kamu Rin, mama ku mendapatkan skandal. keluarga Ku jadi terekspos dan menjadi makanan publik."
"good news, dan semoga keluarga mu hancur. Ririn kamu tenang aja, saya akan bersama Mu. masa depan sekarang sudah buram, minimal sama-sama buram dengan keluarga si Bagas anjing ini."
Mereka pun kaget tidak terbayangkan lagi, karena para awak media telah menghampiri mereka yang ada di kafe tersebut.
"Vega....
Kita mulai dari sekarang ya, inilah persembahan dari Ku. awak media yang sengaja aku undang kemari."
"good, saya suka cara mu beb."
Ucap Vega kepada Ririn seraya tersenyum dan posisi langsung di atur yang dibantu oleh pegawai cafe, sudah seperti konferensi pers aja.
'mas Bagas, apa benar anda dan ibu anda yang menjegal skripsi teman-teman mu yang lain?'
'apa benar anda menderita kepribadian ganda?'
Pertanyaan dari awak media bertubi-tubi kepada Bagas, lalu Ririn pun mengeluarkan dokumen lagi dari tas ranselnya.
"Bapak-ibu para awak media, inilah dokumen yang saya punya.
Saya juga baru dapat informasi, bahwa Bagas dan ibunya itu menderita kepribadian ganda. dokumen nya berupa rekam medis sudah ada silahkan dibaca."
Jelas Ririn kepada awak media, dan para awak media begitu sibuk membaca dokumen yang diberikan oleh Ririn.
"maaf mbak, bukannya rekam medis itu bersifat rahasia? kenapa rekam medis ini bisa sama mbak?"
"seharusnya rahasia mas, tapi psikolog yang membuat rekam medis tersebut sudah meninggal dengan cara yang tidak wajar."
Jelas Ririn kepada laki-laki itu, dan tiba-tiba saja mereka sibuk dengan handphone masing-masing yang mendapatkan notifikasi.
Ternyata itu berita kecelakaan maut yang dialami oleh almarhum Profesor Ahmad.
Ada juga broadcast message, tentang opini yang menyudutkan keluarga Bagas.
"mas Bagas, apakah benar kalau ibunya mas Bagas adalah kematian dari profesor Ahmad?
Karena berita yang kami dapatkan, mas Bagas bersama ibu anda adalah orang yang terakhir menemui almarhum Profesor Ahmad. dan dari rekaman sisi TV, ibu dari mas Bagas bersitegang dengan almarhum.
__ADS_1
mohon penjelasannya mas Bagas!"
Ucap seorang reporter laki-laki, sementara Bagas hanya terdiam.
"itu hoax dan saya akan menuntut siapa saja yang menyebarkan hoax ini. itu fitnah dan saya pastikan akan menyeret siapa saja yang menyebarkan hoax itu."
Ungkap Nina dengan penuh amarah, dan sorot kamera teralihkan terhadapnya.
'ini bukan hoax mbak, lihat ini beritanya. semua ada sumbernya.
ada juga rekaman sisi TV, dimana Bagas melakukan sesuatu terhadap mobil almarhum setelah keluar dari klinik tersebut.
Oh ya, mbak sendiri kan baru keluar dari penjara. karena memfitnah orang atau pencemaran nama baik.'
'pandangan masyarakat sekarang adalah ketidakberdayaan pihak berwajib memproses keluarga anda.
jelas-jelas kita ketahui, pak Brayan ayah kandung mbak nya. adalah wali kota yang menjabat dua periode.
Sementara ibu anda seorang direktur di bank milik pemerintah, dan beberapa keluarga dekat anda memegang kekuasaan di kota ini.
Itulah yang menyebabkan keluarga mbak tidak bisa di proses hukum atau kebal hukum, bagaimana tanggapan mbak mengenai hal ini?'
"diam...... diam....."
Nina berteriak karena pertanyaan dari para awak media yang bertubi-tubi menyerangnya.
Terlihat Ririn dan Vega hanya diam dan menikmati permainan yang sedang terlaksana sekarang.
Bagas, Nina dan Sarah akhirnya menerobos kerumunan para awak media dan akhirnya bisa keluar dari cafe.
Seketika itu kafe langsung di tutup dan itu atas perintah dari Ririn.
Sementara di luar sana, keributan dan kekacauan sedang terjadi. alhasil Bagas, Nina dan Sarah kena imbasnya.
Mereka bertiga adalah biang keroknya, dan mereka menjadi sasaran amukan massa.
Segala emosi terlupakan dan alhasil ketiga biang kerok mendapatkan pukulan fisik, pihak keamanan kampus dan area tersebut yang dibantu oleh pihak berwajib mengamankan ketiga biang kerok Nya.
Terkapar lemah dan bercucuran darah dan tidak berapa lama kemudian datang ambulan dan ketika biang kerok tersebut dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Sementara Ririn dan Vega masih terkurung di dalam Kafe dan akhirnya dibawa oleh bodyguard yang dikirimkan oleh Riko suami dari Ririn.
Ririn dan Vega kini sudah berada dalam mobil yang dikawal oleh empat bodyguard dari suami Ririn.
__ADS_1
"kita sudah aman Ga."
Ucap Ririn kepada Vega dan membalasnya dengan senyuman.