
Sesampainya di dropship hotel, Riko menyuruh pak Deden untuk mengantarkan istrinya kembali ke rumah. sementara Riko tertinggal di hotel tersebut.
Sesampainya di rumah, Ririn membasuh tubuhnya di kamar mandi dan kemudian mengganti pakaiannya.
Berhubung besok Ririn akan ujian akhir semester, sehingga dirinya mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan ujian.
Ririn kembali mengerjakan animasi nya, karena itu untuk keperluan skripsinya.
Beberapa saat kemudian Ririn tersenyum, karena animasi sukses seusia keinginan nya. tapi senyuman itu langsung berakhir karena suara ribut dari ruang tamu.
Ririn keluar dari kamar, ternyata yang datang adalah ke-dua yang menggagalkan makan siangnya bersama Riko saat di restoran hotel.
"kamu istrinya baru Riko?"
Pria paru baya itu bertanya dengan ketus kepada Ririn, tapi perempuan yang bersamanya memasang raut wajah yang tidak enak di pandang.
"iya, bapak siapa? ada keperluan apa datang kemari?"
"saya Papa Riko, oh iya kamu pasti menerima kartu kredit titanium. cepat berikan kepada Ku."
"maaf Pak, saya tidak memberikan kepada bapak tanpa seijin dari mas Riko."
"eh perempuan belagu, ngak usah buat alasan. atau kamu ingin menikmati sendirian? dasar matre."
Ucap perempuan yang bersama Papa nya Andri, tapi Ririn masih tetap tenang menghadapi nya.
"terlepas apapun perkataan ibu dan bapak, saya tidak memberikan kartu kredit ini tanpa seijin dari mas Riko."
Ririn tetap tidak memberikan kartu kredit itu kepada mereka berdua, dengan alasan tanpa seijin suaminya.
"ngomong-ngomong siapa namamu?"
Papa Riko bertanya namanya Ririn, hal itu membuat Ririn sedikit kebingungan karena papa dari suaminya itu tidak mengetahui nama dari Menantunya.
"saya Ririn pak." jawab Ririn dengan singkat.
"begini Ririn, Riko sangat pelit ke Papa. sekarang ini kamu adalah andalan Papa, jika kamu memberikan kartu kredit, papa janji akan selalu membela mu. sini kartu kredit nya."
Papa nya Riko berusaha merayu Ririn untuk bisa memiliki kartu kredit titanium miliknya, kartu kredit dengan limit yang tak terhingga membuat nya berusaha memiliki kartu kredit itu.
"mas Riko pelit atau royal ke Papa, itu bukan urusan Ririn.
Ririn tidak perlu pembelaan dari siapapun, dan tanpa seijin mas Riko, aku tidak akan memberikan kartu kredit ini kepada siapapun."
"ngeyel kamu iya, dasar perempuan kampung, matre, kamu itu egois."
__ADS_1
Ujar perempuan itu, dengan raut wajah yang terlihat murka.
Ririn lagi-lagi tidak menanggapi caci makian itu, dan dia tidak gentar sedikitpun menghadapi mereka berdua yang sudah menggagalkan makan siangnya bersama suaminya.
"Ririn.....
jangan egois dong, selain kartu kredit itu. Riko juga memberi kartu debit dengan saldo yang fantastis.
Berbagai dengan Papa, ngak kasihan kamu melihat papa seperti ini?"
Ririn sudah muak dengan dengan kedua tamunya, mpok Ina yang masih berdiri di sampingnya langsung di rangkulannya.
"mpok sudah selesai masak?"
Ririn berusaha mengalihkan topik pembicaraan dengan sengaja bertanya kepada mpok Ina.
"belum nyonya, karena terlalu cepat. sekarang saja masih pukul 3 nyonya.
Nyonya lapar ya? bentar biar mpok siapkan makanan untuk nyonya."
"ngak mpok, Ririn hanya ingin belajar masak sama mpok aja."
Ririn langsung menarik tangan mpok Ina dan berlalu ke arah dapur, dengan maksud untuk menghindari papa nya Andri dan wanita itu.
Ririn berlalu bersama mpok Ina tanpa memperdulikan caci makian itu.
Ririn dan mpok Ina sudah berada di dapur, dan kemudian di susul oleh papanya Riko dan wanita yang bersama nya.
"dengar ya perempuan kampung, kamu akan menerima balasan akan perbuatan mu ini.
Saya berjanji akan membuat mu semakin menderita, tapi jika kamu mau bekerja denganku, saya bisa pastikan keamanan mu serta bagian yang akan kamu dapatkan."
tak.....trak.... tak..... Tak.....trak.... tak.....
Suara telanan yang di hujani oleh pisau yang dilakukan oleh Ririn, dengan maksud untuk menyuruh kedua manusia itu untuk pergi.
Ternyata usahanya berhasil membuat kedua manusia pergi.
Ririn berhenti beraktivitas, dan kemudian di hampiri oleh mpok Ina.
"nyonya istrihat di kamar, nanti mpok antar teh hijau."
Ririn hanya mengangguk dan berlalu menuju kamarnya, terduduk di pinggir ranjang dengan sejuta pertanyaan dalam pikiran nya.
Mpok Ina datang menghampiri Ririn dengan membawa teh untuk nya.
__ADS_1
"mpok, apa yang sebenarnya terjadi?"
"maaf nyonya, Tuan melarang ku untuk menceritakan semua tentang keluarga ini. mpok hanya bertugas melayani semua kebutuhan nyonya.
Jika nyonya tetap memaksa mpok untuk cerita, maka mpok dan keluarga mpok yang akan menerima akibatnya."
"maaf mpok sudah merepotkan mpok, kalau begitu tolong tinggalkan Ririn."
Mpok Ina langsung berlalu dari kamar itu, dan tinggal Ririn dengan semua teka-teki ini.
Tadi pagi Tante nya Riko yang datang dan menginginkan kartu kredit titanium miliknya, sekarang Papa nya Riko datang dengan tujuan yang sama.
Kemudian berakhir dengan ancaman, besok siapa lagi yang akan datang untuk meminta kartu kredit milik nya serta mengancamnya.
Pertanyaan demi pertanyaan yang belum terjawab sampai sekarang, mama nya hanya memberi tahu akan sifat dari Riko yang berbeda.
"sekarang teknologi Begitu canggih, siapa tahu saja ada petunjuk ketika browser."
Ririn bicara sendiri, kemudian dia membuka browser yang berharap mendapatkan informasi tentang keluarga suami nya.
Mencoba memasukkan kata kunci, Riko Adijaya. kemudian scroll kebawah, tapi tidak satupun informasi yang di dapatkan tentang suaminya.
Sekarang Ririn memasukkan kata kunci Adi jaya group.
Hasilnya juga sama, informasi yang di tampilkan hanya data-data tentang group perusahaan. dimana pemilik saham mayoritas yang mencapai 80 persen di pegang oleh Riko.
Ririn mencoba memasukkan kata kunci yang lain, tapi hasilnya nihil. akhirnya Ririn menyerah.
"mungkin hanya bisa dicari secara manual saja."
Lagi-lagi Ririn bicara sendiri, dan kemudian memindahkan file rekaman suara ke drive email nya.
Rekaman suara itu adalah milik dari Papanya Riko bersama wanita yang bersamanya, Ririn yakin kalau itu akan berguna suatu saat nanti.
Ririn kembali melanjutkan skripsinya, akan tetapi dia tidak bisa konsentrasi lagi. isi tas ransel di rogoh nya dan mengambil buku catatan.
"mas Riko berperilaku aneh, kadang tersenyum malu-malu, kadang kasar dan lainnya yang belum bisa aku tebak.
Mas Riko sudah dua kali menikah dan kemudian bercerai, dengan alasan yang sama yaitu kekerasan dalam rumah tangga..
Hari ini wanita yang bernama Irma mengaku sebagai Tante nya Riko dan berusaha meminta kartu kredit titanium miliknya.
Tante Irma berkata kalau kedua mantan Istrinya Riko selalu memberikan kartu kredit titanium milik mereka kepada Tante Irma."
Ririn mencatat semua kejadian yang menimpa nya, tujuan adalah untuk memecahkan teka-teki yang tidak kunjung memiliki jawaban.
__ADS_1