
Ririn tersenyum lega setelah keluar dari ruangan dosen, hanya tinggal satu tahapan untuk menyandang gelar Sarjana terapan Animasi.
Baru aja tersenyum lega, kini wajah yang yang tersenyum tersebut berubah menjadi kesal, kini Ririn harus kembali berurusan dengan Bagas yang menghadap nya bersama seorang wanita yang tidak lain adalah mama nya Bagas.
"kita bicara di taman aja."
Ujar Bagas kepada Ririn, tapi Ririn malah berjalan ke arah meja belajar yang ada disudut ruangan yang tidak jauh dari ruang dosen.
"kita ngobrol disini aja." ucap Ririn kepada Bagas dan mama Nya.
Mama nya Bagas terlihat sudah dipenuhi dengan aura kemarahan, karena permintaan anak untuk bicara di taman di tolak oleh Ririn.
"Ririn, tolong cabut laporan mu itu. karena sebentar lagi kita akan menjadi suami-istri, apa kamu tega melihat adik ipar mu di penjara?"
"suami-istri? sadar Bas, aku ini sudah jadi istri orang."
Terlihat jelas dari raut wajah mamanya Bagas yang menahan emosi, saat mendengar sanggahan dari Ririn.
"nak Ririn, kami sudah memberikan mahar yang berjumlah fantastis kepada Papa Mu."
"yang menerima mahar kan Papa, jadi nikahkan aja Bagas dengan Papa, selesai urusan kan!"
jawab Ririn dengan santai, dan hal membuat mamanya Bagas semakin geram.
"nak Ririn, jika menolak maka ibu akan menggugat mu atas tuduhan penipuan."
"silahkan bu, tapi yang harus ibu ingat adalah bahwa yang menerima mahar itu adalah Papa tanpa sepengetahuan saya.
Papa sudah memutuskan hubungan dengan Ririn, mama dan Adikku. itu sudah diumumkan di koran ibu.
Jadi gugatan ibu tidak berimbas kepada saya, seharusnya ibu mengatakan hal tersebut kepada yang menerima mahar dari ibu.
Ibu kan direktur Bank, yang tentunya berpendidikan tinggi. masa hal seperti ini harus saya jelaskan kepada ibu, malu dong dengan gelar pendidikan tinggi yang ibu sandang."
Semakin jelas raut wajah yang penuh amarah itu dari sorot matanya yang penuh dengan kebencian.
"hati-hati kalau bicara ya Ririn, kamu tidak tahu berhadapan dengan siapa. jika kamu masih tetap seperti ini, maka Papa mu akan saya pecat."
"terserah ibu aja ya, saya tidak perduli. toh juga Papa tidak pernah memberikan nafkah kepada kami.
Lakukan yang terbaik menurut ibu, tanpa ibu ancam pun, hidup kami sudah terancam. Ririn dan mama serta adik Ku sudah terbiasa menderita.
Penderitaan serta ancaman sudah menjadi makanan pokok kami sebagai pengganti nasi, lakukan apa yang hendak ibu lakukan."
__ADS_1
Ririn meninggalkan Bagas dan mama nya dalam keadaan emosi, tapi Ririn terus melangkahkan kakinya.
Drrt.... drrrt... drrrt... drrrt....
handphone milik Ririn bergetar, dan setelah handphone tersebut di raih nya dan yang menghubungi adalah ibu Lita. dosen pembimbing utama skripsinya.
'halo Bu,...
'nak Ririn masih di kampus?'
'masih bu.'
'ke ruangan ibu sekarang.'
Sambungan telepon berakhir, dengan penasaran Ririn terus mempercepat langkahnya menuju ruangan Bu Lita.
Sesampai di ruangan Bu Lita, dan dosen pembimbing utama itu menggelengkan kepalanya ke arah Ririn dengan wajah yang cemburut.
"kenapa Bu? apa ada masalah?"
Bu Lita menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nya, kemudian menatap Ririn dengan tatapan penuh kasihan.
"asal nak Ririn tahu, ibu sangat kagum dengan skripsi mu ini. tapi ini semua di luar kendali ibu, seharusnya dunia pendidikan tidak tersangkut paut dengan politik."
"nak Ririn kenal dengan ibu Royaha?"
Mendengar nama Rohaya, Ririn langsung teringat dengan percakapan nya barusan di meja pojok kampus.
"iya Bu, ibu Rohaya adalah mama nya Bagas. emangnya apa yang dia lakukan?"
"dia menjegal skripsi Mu nak, pak Irfan sebagai pembimbing ke-dua mu telah komplin dan pak Leo selaku ketua Program Studi sedang berdebat dengan pak rektor."
"begitu ya bu, sebentar biar Ririn hubungi dulu suami Ririn ya bu."
Bu Lita kemudian tersenyum setelah Ririn berkata demikian, Ririn hanya sebentar menelpon suaminya lalu kemudian menatap Bu Lita.
"biar suami Ririn yang membereskan ini semua Bu."
"terimakasih, nak Ririn. bisa ibu mintak tolong?"
"apa itu Bu? ibu cerita aja, siapa tau Ririn bisa bantu?"
Bu Lita kemudian menarik napas Nya dengan panjang seperti yang dilakukan ketika Ririn hadir di hadapannya.
__ADS_1
"nak Ririn kenal sama Vega? yang kemarin buat keributan dengan Bagas?"
"iya Bu, dan Ririn sudah bertukar nomor handphone dengannya. karena nasib kami berdua yang sama."
"memang benar, nasib kalian berdua sama. skripsi kalian berdua di jegal oleh mamanya bagas.
bukan hanya Vega nak Ririn, tapi juga beberapa mahasiswa bimbingan ibu terancam skripsinya karena ulah dari mama nya bagas.
Kasihan mereka semua, tolong nak gugat rektor untuk melepaskan jeratan politik di kampus ini.
Semua anak bimbingan ibu memiliki skripsi yang luar biasa, seperti skripsi nak Ririn. tapi mereka terhalang karena ulah mama nya Bagas.
Mereka yang jegal skripsinya adalah yang bermasalah secara pribadi dengan Bagas, ibu harap nak Ririn mau mengangkat ini semua. supaya tidak terjadi lagi ke adik-adik junior mu nantinya."
"luar biasa sekali ya bu, mulai dari beasiswa pemko Ririn yang dicabut secara sepihak sampai skripsi Ririn dan teman-teman yang lainnya juga di jegal.
baik Bu, Ririn paham maksud ibu. bisakah ibu mengumpulkan mereka semua disini?"
"sebentar ya nak, biar ibu mereka semua."
Bu Lita kemudian meraih handphone, lalu mengetik pesan di handphone tersebut. kemudian menatap Ririn dengan tatapan Sendu.
Kemudian pesan yang Bu Lita kirim langsung mendapatkan balasan, setelah membaca pesan tersebut lalu menoleh Ririn.
"kita tunggu bentar ya nak, mereka semua ada di kampus ini kok."
"baik Bu, sebentar lagi juga pengacara dari Ririn akan tiba di ruangan ini."
ujar Ririn kepada dosen pembimbing nya tersebut, dan mereka berdua hanya terdiam sambil menunggu.
Tidak berapa lama kemudian mahasiswa yang bermasalah dengan skripsinya sudah hadir di hadapan Bu Lita yang berjumlah 5 orang perempuan dan 7 orang laki-laki dan mereka dipersilahkan duduk sembari menunggu kedatangan pengacara dari Ririn.
Ternyata Diana yang datang bersama dengan empat orang laki-laki yang berpakaian rapi.
"Bu Lita.....
Saya Imron Bu, keponakan ibu. sekarang ibu ingat-ingat dulu deh."
"ya Tuhanku, ibu masih ingat. kemana aja kamu nak? kok ngak ngabarin ibu?"
Bu Lita langsung memeluk Imron, pria yang datang bersama Diana.
Pertemuan yang tidak terduga begitu haru, dan mereka semua hanya terdiam melihat pertemuan yang tanpa pemberitahuan.
__ADS_1
Pertemuan karena masalah politik yang di campur aduk dengan dunia pendidikan yang menyebabkan anak bimbingan Bu Lita terancam tidak bisa lulus tepat waktu.