
Riko bersama istrinya duduk di belakang kemudi, sementara Dian duduk disamping Asep.
"mbak Dian, ntar jam berapa selesai pemotretan nya?"
"kurang tahu mbak Ririn, semua tergantung mbaknya. kalau performa mbak Ririn nanti bagus, pasti cepat selesai. emangnya ada apa mbak? apa yang bisa aku bantu?"
"gini mbak Dian, aku mau beli sepatu dan pakaian untuk seminar proposal skripsi serta untuk persiapan pas mau sidang skripsi.
pengennya ada menemani untuk pergi belanja, Tapi mas Riko sibuk banget."
"okey mbak, lagian hari jadwal ku adalah untuk monitoring dan evaluasi penjualan di pusat perbelanjaan yang terkenal itu.
Sambil kerja sambil shoping, aku juga mau beli sepatu baru. sepatu ku sudah model lama, yang lain di sambar sama adek ku."
Seketika itu Riko langsung menoleh dengan tatapan tajam ke arah Dian melalui kaca spion diatas kemudi. seolah-olah memberikan isyarat untuk menolak ajakan istrinya.
"maaf mbak Ririn, lupa deh. setelah pemotretan nanti. aku juga harus monitoring tim 3 untuk desain produk iklan."
Dian berkata demikian lalu menunduk, seketika itu Ririn langsung melotot ke arah suaminya.
"kalau begitu mas harus menemani Ririn untuk belanja."
"iya bawel."
Ririn hanya tersenyum mendengar jawaban dari suaminya lalu menyenderkan kepalanya di bahu kanannya.
"terimakasih mas ganteng Ku."
Riko tersipu malu dan hal itu menjadi perhatian dari Asep yang memperhatikan sikap yang baru dari bos nya itu.
"Asep.... fokus."
Riko menegur asisten pribadinya itu dan seketika suasana menjadi hening, beberapa kemudian mereka sampai juga di kantor.
Ririn langsung di bawa oleh Dian ke ruang makeup, setelah baru sesi pemotretan. hanya butuh waktu satu jam pemotretan itu sukses terlaksana.
"dengan Bu Ririn ya?"
Seorang Pria yang berumur sekitar 35 tahunan menyapa Ririn yang berada di ruang makeup.
"iya benar pak, apa yang bisa aku bantu?"
Seketika pria itu langsung menoleh nya dengan tatapan aneh, dan hal itu membuat Ririn menjadi risih.
"saya Irfan, om nya Sarah. bisa kita ngobrol sebentar?"
"silahkan pak, disini aja kita ngobrol."
__ADS_1
Seketika pria yang bernama Irfan memperhatikan sekitar, kemudian menatap Ririn dengan tatapan aneh.
"Bu....
apa salah keponakan saya, kenapa ibu melakukan perundungan terhadapnya?
Sarah seperti orang yang tidak berdaya, dia kehilangan semangat hidupnya."
"emangnya apa cerita Sarah ke bapak?"
"Sarah cerita, katanya ibu menuduh nya merebut pacar ibu yang bernama Bastian. dan ibu menuduhnya yang melaporkan beasiswa pemko itu.
ibu kok kejam banget ya! itu sahabat ibu sendiri. apa karena ibu sudah menjadi istri dari seorang konglomerat kota ini? sehingga ibu sesuka hati untuk merundung keponakan saya?"
Ririn hanya tersenyum kecut, dia tidak menyangka kalau Sarah yang dianggapnya sebagai sahabat berkata sedemikian rupa.
"oh jadi bapak Om nya Sarah yang memberi tahukan kepada Sarah kalau suami ku seorang Psikopat.
Apa dasar bapak mengatai suamiku seorang Psikopat? bapak tahu dari mana kalau suami itu Psikopat?"
prak..... Bram......
Riko menendang pintu masuk ke ruang makeup itu, wajahnya terlihat penuh dengan amarah. Asep yang bersamanya berusaha menenangkannya.
"Asep....
Mendengarkan hal itu Irfan langsung bertekuk lutut di hadapan Riko, untuk memohon ampunan.
"bukan yang mengatakan itu Pak, tapi itu semua di sampaikan oleh pak Herman. beliau yang menyebarkan berita itu."
"apa hubungan mu ke Herman?" Riko bertanya dengan penuh rasa curiga terhadap Irfan.
"istri pak Herman yang baru adalah keponakan dari ayah Ku."
Mendengar jawaban dari Irfan, seketika itu Asep membisikkan sesuatu ke telinga Riko. kemudian Ririn mendekati Irfan lagi.
"kenapa Bastian juga tahu akan hal ini? apa hubungan mu dengan Bastian."
Irfan masih bertekuk lutut di hadapan Riko, lalu menatap Ririn dengan tatapan rasa takut.
"Bastian itu masih keponakan dari Istriku, dan semua berita ini kami ketahui dari pak Herman."
"kamu berbohong pak, Sarah mengatakan kalau informasi ini di peroleh nya dari pak Irfan karena posisi bapak disini sebagai staf legal yang begitu mudah memperoleh informasi."
"tidak Bu, pak Herman sendiri yang datang berkunjung ke rumah dan menceritakan semua nya. beliau juga mengatakan kalau ibu sudah hamil duluan karena di paksa oleh orang tua ibu."
"tolong jangan pecat saya pak, tolong pak. anak istriku nanti aku kasih makan apa? tolong jangan pecat saya pak."
__ADS_1
Asep langsung memanggil security dan seketika itu juga pak Irfan diseret keluar dari ruangan makeup itu.
Kini tinggal lah Ririn bersama suaminya di ruangan itu.
"selain informasi menyesatkan tadi, apalagi yang kamu ketahui tentang mas?"
"ngak banyak mas, Sarah juga mengatakan kalau Ibunda mas itu pasti di celakai oleh pak Herman ayah kandungnya mas sendiri.
hanya itu mas, tidak banyak hal yang saya ketahui yang membuat ku dalam kebimbangan.
Semuanya seperti misteri yang belum terungkap, bahkan aku bingung. sebenarnya fungsi mas nikahi untuk apa?"
Riko kemudian menarik tangan istrinya dan berlalu meninggalkan ruangan itu. kemudian membawa istrinya ke ruangan Nya.
"duduklah."
Perintah Riko terhadap istrinya, dia hanya bisa menuruti perintah dari suaminya.
"mas butuh waktu."
Hanya itu yang di ucapkan oleh Riko dan istrinya itu hanya bengong ketika mendengarkan tiga kalimat yang keluar dari mulut suaminya itu.
"mas, Ririn mau ke kampus. untuk menyerahkan proposal skripsi."
"biar mas antar."
"ngak perlu mas."
Ririn berlalu begitu saja meninggalkan suaminya yang terdiam di ruangan itu, sikapnya aneh di mata istrinya membuat serba salah.
Demikian juga dengan Ririn, posisinya saat ini serba salah. dia berada ditempat sekarang ini bukan karena kemauan Nya, tapi karena terjebak keadaan yang mengharuskan menikah dengan Riko, sang konglomerat yang bersikap aneh.
Ririn berangkat ke kampus dengan menaiki ojek online, sebagai dia biasanya sebelum menjadi seorang istri konglomerat.
Ojek online tentunya lebih cepat tiba di kampus, karena lebih lihai di jalanan. Ririn langsung ke ruangan prodi untuk menemui dosen pembimbing Nya.
Setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing Nya, Ririn kemudian keluar dari ruangan itu.
"eh perempuan, berhenti.!
Suara perempuan yang memanggil itu begitu akrab di telinga nya, setelah menoleh ke belakang. ternyata itu adalah saudara perempuan Bastian.
"benar-benar kamu ya jadi perempuan ya, setelah mendapatkan pria kaya lalu loh mencampakkan Bastian.
Bastian sudah seperti seorang suami yang harus memenuhi kebutuhan hidup mu, dasar perempuan ******."
Suara perempuan itu begitu kuat hingga di dengar oleh mahasiswa lainnya.
__ADS_1
Pada akhirnya menjadi pusat tontonan bagi mereka yang seolah-olah sedang menyaksikan pertunjukan drama kolosal.