
POV Reza.*
Lamunan Reza berakhir ketika melihat putrinya yaitu Ririn Dwi Ariyanti yang datang bersama dua orang pria yang memakai stelan jas.
"Ririn akhirnya kamu datang juga nak, tolong bantu Papa dan Tante Sonia.".
Pinta Reza kepada Ririn, tapi putrinya itu tidak menanggapi perkataan Papa nya, malah menuntun Papa nya untuk berhadapan kembali dengan petugas.
"saya sebagai kuasa hukum dari Ririn, dengan ini melaporkan saudara Reza."
Ucap salah satu dari kuasa hukum Ririn dan hal itu membuat Reza dan Istrinya yaitu Sonia begitu kaget.
"apa salah Papa nak, kenapa kamu melaporkan Papa?"
Ririn menatap Papanya dengan tatapan tajam, dan matanya berkaca-kaca.
"kaki kanan mama menjadi cacat, Adit mengalami geger otak hingga tumbuh tumor di kepalanya, sementara Ririn menderita psikologis hingga trauma."
"apa buktinya kalau Papa melakukan nya?"
Pernyataan Ririn dibalas pertanyaan oleh papanya, alhasil mata yang berkaca-kaca tadi sudah berubah menjadi air mata yang mengalir di pipinya.
"Papa ingat ngak, kalau dulu Ririn punya video kamera hadiah dari menang lomba Ririn?
nah dengan kamera jadul itu, Ririn merekam aksi Papa yang menganiaya mama hingga kaki patah dan sekarang kaki mama sengklak.
Waktu Papa menghajar Ririn, ada beberapa tetangga yang melihatnya dan mereka siap bersaksi. demikian juga dengan Adit dimana kepalanya Papa bentur kan ke dinding karena mengambil disket yang dikiranya mainan.
Semua ada buktinya, jadi Papa ngak bisa mengelak lagi. dulu Papa aman, karena mama ngak berani melaporkan Papa."
Ucap Ririn seraya menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"kamu kan yang menjebak Papa dan Tante Mira serta tante Sonia?"
Belum juga Ririn menjawab pertanyaan dari Papa Nya, ternyata sudah turun perintah untuk menahan Reza dan Sonia istrinya alhasil pertemuan harus di akhiri.
Tapi Ririn belum puas untuk bicara dengan Papa nya, dengan usaha kuasa hukumnya. Ririn akhirnya Ririn bisa ngobrol dengan Papa nya di ruang khusus.
"kenapa lagi? belum puas kamu melihat Papa menderita seperti ini?"
Ririn tersenyum ketika papa nya berkata demikian.
__ADS_1
"Ririn hanya bahagia aja pak, anak bapak yang bernama Jack dan juga anak dari istri yang tabung inkubator itu akhirnya terbuang.
Kini anak-anak Papa yang lain sudah sama seperti Ririn dan Adit, yang Papa buang begitu aja."
"apa maksudmu?"
"anak dalam inkubator itu adalah anak kandung papa sendiri, tes DNA itu sudah di palsu.
Selamat karena Papa sudah berhasil membuang semua anak-anak Papa."
Seketika itu Reza terdiam, sementara Ririn pergi dengan wajah yang tersenyum puas.
Setelah kepergian Ririn, lalu Reza dimasukkan kembali ke dalam sel.
Baru aja Reza bertemu dengan putrinya yang membuat sedih kini, bapak-ibu mertuanya yaitu orang tua dari almarhumah Dinda datang menghampiri Reza di ruang khusus tadi.
"anak mu sudah dikeluarkan dari inkubator, bayi laki-laki itu sudah berhasil melewati masa kritisnya dan sudah dinyatakan sehat.
Berat badan sudah mencapai tiga kilogram lebih dan perkembangan sangat jauh lebih baik
Anak mu sekarang sudah di luar negeri, diadopsi oleh orang luar negeri yang menginginkan anak karena pasangan suami istri sudah lama merindukan anak.
Kami berdua sudah tua dan tidak akan sanggup merawat anak mu itu, saudara-saudari Dinda tidak mau mengadopsi Nya.
Hasil tes DNA itu palsu, kamu berhasil membuat putriku dalam jurang kegelapan dan kamu sudah membunuhnya."
"saya tidak membunuh Dinda, dia terjatuh ketika di dorong oleh mahasiswi itu."
"biadab kamu ya, luka-luka di tubuh putriku karena perilaku seperti yang hendak kawin, kekerasan terhadap putriku disaat nafsu mu ingin disalurkan."
Papa mertunya Reza akhirnya menangis, tangisan yang di tahannya kini tertumpah juga di hadapan Reza. sementara ibu mertuanya berusaha menguatkan.
"akan ku buat kau membayar semua perbuatan mu ini, semoga kau mendekam selamanya di penjara ini.
Saya sudah melaporkan kamu sebagai kasus kekerasan dalam rumah tangga, sehingga menyebabkan putriku meninggal.
Dasar biadab, manusia terkutuk. enyah lah kau neraka jahanam."
Ucap pria tua itu, yang merupakan ayah dari almarhumah Dinda.
Kemudian Reza di bawa kembali ke dalam sel, dan bapak ibu mertuaku masih menangis di ruang khusus tersebut setelah di tinggalkan oleh Reza.
__ADS_1
Masih bersifat tahanan sementara, Reza merenungi nasibnya di balik jeruji besi yang mengurung kebebasan nya.
Air matanya yang mengalir di pipinya dan penyesalan yang sudah mulai menghampiri Nya, dia teringat dengan nasihat almarhumah mama Nya.
'hendaklah kamu rendah hati, jangan menyia-nyiakan apa yang sudah kamu miliki. selalu bersyukur atas apa yang telah ada padamu.
jika kamu sombong, angkuh dan egois. Tuhan akan mengambil titipan Nya darimu."
Kalimat itu terngiang di telinga sehingga Reza menutup kedua telinganya dengan tangannya.
"ini semua gara-gara Ririn, dasar anak saiko. biang kerok, iblis, anak tidak tahu diri."
Reza bicara sendiri seperti orang gila, dan itu menjadi perhatian sesama tahanan sementara yang ada dalam sel tersebut.
"eh dodol, ngak usah pura-pura gila. kami disini ikut-ikutan gila karena melihat seperti orang gila."
Salah satu dari tahanan sementara itu menegur Reza, dan sepertinya Reza tidak terima kalau dirinya ditegur.
"ngak usah ikut campur urusan orang, dasar melarat."
plak... plak.... bram.... plak....
Reza di hajar oleh tahanan yang menegurnya dan hal itu memancing amarah yang lainnya, alhasil Reza babak belur.
Akhirnya Reza dipindahkan ke sel lain, yang merupakan sel tunggal untuk tahanan yang bermasalah.
"makanya jangan buat onar, dasar bajingan."
Ucap petugas tersebut ke arah Reza dan memasukkan Reza ke sel berukuran empat kali enam tersebut.
Pengap dan panas karena sirkulasi udara tidak terlalu baik, sebab hanya satu lubang kecil dibawah.
"anak saiko, anak gila. anak kurang aja kau Ririn, tega-teganya kamu mengirimkan Papa mu ke neraka ini."
Lagi-lagi Reza bicara sendiri di sel yang pengap itu, penyesalan yang tidak berguna.
Keluarga yang ditelantarkan demi kepuasan diri nya sendiri, kini dia tuai akibatnya. janjinya kepada Mira untuk membawa bukti karena dijebak tidak kunjung di bawa nya.
Anaknya yang bernama Jack, yang sekarang berada di panti asuhan dibawah naungan dinas sosial, tidak bisa dibawa nya pulang karena Reza tidak bisa membuktikan kalau Jack adalah anaknya.
Bayi laki-laki yang dilahirkan oleh almarhumah Dinda istrinya, disangkal oleh Reza karena terprovokasi oleh tes DNA yang palsu.
__ADS_1
Dirinya di laporkan oleh tiga orang sekaligus, dan itu tentunya akan menambah hukum baginya.
Penyesalan selalu datang di akhir, Reza yang kelelahan di dalam sel yang pengap itu hanya bisa berbaring lemah dan penyesalan nya yang tiada berguna.