
Ada raut wajah bahagia dari orang tua mereka, terutama melihat respon dari danu, papa samsul pun memperhatikan danu dari tadi, bagaimana dia mencuri curi pandang pada putri nya,
ara duduk di kursi, di mana tadi sore ia duduk dengan papa nya,
danu masib berdiri, melihat lihat tanaman hias yang indah, segar dan terawat..
"kamu suka tanaman ara? " (tanya danu, mata nya masih menatap tanaman itu, tidak mendapat jawaban dari ara, danu melirik nya)
ara menggeleng,
"engga dok, itu punya mama, sekarang bi asih yang rawat"
danu mengangguk,
puas berkeliling ia duduk di kursi bersebelahan dengan ara,
"kamu tau mereka menjodohkan kita? " (tanya danu to the point )
ara menoleh, ia sungguh belum tau kalau danu yang akan di jodohkan dengan nya,
"aku belum tau... (jawab ara jujur)
danu tersenyum,
" mungkin papa aku yang terlalu ambisi menjodohkan kita“ (kata nya lagi)
entah apa yang harus ara katakan pada danu, ara diam,
"apa kamu tau ara, kamu punya mata yang indah"
sontak membuat ara menoleh lagi,
tatapan mata mereka bertemu,
"aku bukan gombal ara, cuma bilang apa yang aku nilai saja"
"terimakasih dok" (jawab ara..)
"papa memang bilang kalo akan menjodohkan ku dengan pilihan nya, tapi ara ga tau kalo yang papa maksud adalah dokter"
"ya, papa ku pun begitu, aku di minta nemenin mereka menjenguk teman nya yang sakit, tapi papa sempat bilang yang akan di jenguk nya adalah calon mertua ku, aku ga menduga kalo kamu calon nya"
ara tersenyum kecil, mendengar kata "mertua" yang ia dengar,
"jadi dokter danu calon mertua ku?? siapa sangka ya? dan aku akan menikah dengan se orang dokter??? "
"apa pendapat mu ara? " (lagi lagi mata mereka bertemu)
"entah lah, belum ter pikirkan sama sekali tentang pernikahan, biarkan saja mengalir,. "
danu mengangguk,
entah mengapa jantung nya sedikit deg degan menatap mata ara, danu tidak mengerti, bahkan memandang mata yona tidak merasa seperti ini.
"kamu punya pacar ara? "
telak, pertanyaan itu membuat ara mengerutkan kening nya. apa ia harus jujur??
"apa itu akan mempengaruhi perjodohan kita? " ( ara malah balik bertanya membuat danu tertawa kecil)
"entah lah, kita harus mempersiapkan mental yang tebal seperti nya di banding kesehatan kita"
"seperti nya dokter juga punya pacar?? "
danu kini tertawa,
bersamaan dengan bunyi di HP nya, panggilan dari yona,.
danu menimbang nimbang haruskah ia angkat telpon dari yona,
"silahkan dia angkat dok, saya mau buat kopi dulu"
seperti mengerti tentang privasi, ara beranjak bangun, melangkah masuk ke rumah nya.
danu mengangkat telpon nya
"sayang kamu di mana sih?? WA aku ga di baca" (nada manja yona terdengar di sebrang sana)
"maaf, aku lagi temenin papa jenguk temen nya"
__ADS_1
"apa akan lama? aku baru selesai pemotretan, ayo kita ke kafe"
"seperti nya mereka belum berniat pulang cepat sayang, maaf ya"
"baik lah, kali ini aku maklumi, tapi besok besok awas ya'
" oke".
"by sayang" (yona mengakhiri panggilan nya)
"by, hati hati ya... "
danu menatap HP yang ada di genggamannya,
dia tadi mendengar ara akan membuat kopi, jadi dia menyimpulkan tidak akan cepat pulang kan??
ara datang, membawa dia cangkir kopi, sebenar nya danu jarang sekali minum kopi, tapi tidak akan masalah untuk kali ini,
ara tidak bertanya tentang siapa yang menelpon, tapi danu menjadi salah tingkah, entah kenapa danu merasa seperti sedang berselingkuh, merasa tidak enak hati pada ara,
**
ara menerima laporan dari restoran yang ia tinggalkan dua hari ini,
ara sudah ada di resto nya, menyalin laporan dari rima ke laptop nya,
tokk tokk tokk
"bu... " (panggil rima di balik pintu)
"ya rim, masuk... "
rima membuka pintu, menyembul kan kepala nya untuk melihat ara..
"bu ada tamu... "
"siapa?? "
"pa Rio.. "
ara tersenyum.,
"bawa dia masuk rim"
"oke bu... "
ara bangkit, berjalan ke arah pintu, membuka pintu nya sedikit lebar,
rio tersenyum, melihat pacar nya itu
"hey kamu ga kerja?? " (tanya ara)
rio menggeleng,
mengusap kepala ara, lalu mencium pipi nya,
ara tertawa,
"ada apa ini?? "
"ayo kita ngopi, aku kangen aja sama kamu" (kata rio, tanpa ara suruh, ia sudah duduk di sofa tunggal)
"tunggu ya.. "
ara keluar ruangan, menuju meja kerja rima
"rim tolong minta kopi dua ya, sama cemilan, apa aja"
"siap Buu"
"makasih ya"
ara beranjak lagi ke ruangan nya,
duduk di sebelah rio,
"gimana papa? "
"papa sehat, (ara jadi ingat, se malam rio mengantar nya pulang buru buru, yang ternyata papa baik baik saja, )
__ADS_1
" lalu dokter nya papa nelpon kenapa? "
"emhhh itu.. (ara terlihat kikuk)
rio membelai rambut nya, menunggu jawaban
" dokter aryo datang berkunjung sama keluarga nya, mereka nengokin papa, istri nya dr aryo temen deket mamah aku dulu"
rio mengangguk,
"syukur kalo papa baik baik aja, tadi aku ke rumah kamu"
ara sontak membelalakkan mata nya
"bohong.. " (kata ara cepat)
"aku tadi nya mau jemput kamu, eh kamu udah berangkat"
"kenapa ga telpon aku? "
"aku mau bikin kejutan... "
rima datang, membawakan pesanan ara,
membuat obrolan mereka terhenti
"makasih ya rim"
"sama sama bu, kalo perlu sesuatu bilang aja ya"
"oke rim"
"apa ketemu papa? “
rio mengangguk,
mata nya menerawang, tangan nya saling bertaut
" yo... " (ara memanggil nya, rio belum juga menoleh, ara menggenggam jari tangan rio)
"papa bilang apa?? "
rio mendesah, kini menatap kekasih nya
"papa bilang kamu akan menikah dalam waktu dekat"
ara tersenyum getir, papa nya pasti sudah tau kalo rio pacar nya ara,
ara memeluk rio,
"aku belum setuju" (bisik ara)
"tapi ga ada pilihan lain kan?? "
rio benar, tidak ada pilihan untuk ara,
ara memejamkan mata, menghirup oksigen banyak banyak, mengisi rongga dada nya yang terasa begitu sesak,
rio menatap mata ara,
"jadi kita harus pisah?? " (tanya rio lagi yang sontak membuat ara menggeleng)
"aku ga mau yo"
"kamu pikir aku mau?? "
"kasih tau aku, aku harus gimana?? " (tanya ara)
mereka saling tatap, mata ara kini mulai berlinang, rio jelas tak tega melihat kekasih nya tertekan begini, rio beberapa kali melamar ara, namun ara menolak nya secara halus, kini semua nya begini, entah harus bagaimana,
rio membelai rambut kekasih nya,
mereka berdekatan, biarlah untuk saat ini mungkin belum ada solusi untuk masalah mereka,
rio mencium bibir tipis ara, ara tidak menolak, untuk beberapa menit mereka berciuman,
membiarkan kopi yang panas berubah menjadi dingin.....
*tinggal tambah es batu ya ra, jd es kopi😄😄😄*
__ADS_1