Cinta Tak Di Sangka

Cinta Tak Di Sangka
permintaan yang sulit


__ADS_3

* akun ingin mengadu, tapi pada siapa?? aku terbiasa sendiri *


Ara menarik resleting nya lagi, membuat jaket nya menutupi tubuh bagian atas.


sore ini cukup dingin, matahari sudah tak nampak, mungkin sebentar lagi hujan akan turun,


Rio mengusap lengan nya,


merasa sedikit heran dengan kekasih nya ini, tidak biasa nya ia murung,


ara menelpon nya tadi, meminta Rio untuk datang,


"mau aku belikan cemilan?, mungkin menatap danau sambil mengunyah akan sedikit memberi kesan"


Rio memang senang bercanda,


ara menoleh ke samping, untuk menatap kekasih nya itu,


"aku lagi ga nafsu makan" (jawab ara, wajah nya masih di Teluk, membuat Rio salah tingkah, ia takut akan salah ucap dan membuat ke kasih nya itu tambah BT)


"baik lah, aku juga mau ikut melamun saja" (melepaskan usapan tangan nya dari tangan ara)


ara mengubah duduk nya menjadi menghadap Rio, Rio pura pura acuh,


ara mendekat, mendorong sedikit pundak Rio, hingga Rio bersandar pada bangku yang mereka duduki,


dengan gerakan cepat ara memeluk nya, bersandar di dada Rio dengan nyaman,


yang di peluk malah heran, mendapatkan perlakuan mendadak seperti itu,


namun Rio hanya diam, memeluk tubuh ara, mungkin ara belum siap untuk cerita, dan ia tidak akan bertanya,


Rio mengusap rambut panjang se punggung ara, menempelkan bibir nya pada kening ara, hingga beberapa menit berlalu, menyelami perasaan masing masing,


"yo... " (suara ara memecah keheningan di antara mereka)


"apa sayang"


ara menarik nafas, dan menghembuskan nya perlahan, dada nya sesak,


"aku punya permintaan.. "


"katakan...


ara mengusap dada kekasih nya, mendongakkan sedikit wajah nya,


" menikah lah dengan orang lain"


Rio mengerutkan kening nya, mencerna kata demi kata yang baru saja ara ucapkan,


"kenapa dengan orang lain? aku sudah lama nunggu kamu"


"karena aku pun harus menikah dengan orang lain yo"


mereka masih di posisi yang sama,


terdiam lagi untuk beberapa menit,..

__ADS_1


"papa jodohin aku sama anak temen nya"


Rio kini terusik dengan kata kata itu,


ia membetulkan duduk nya, menjadi lebih tegak, ara pun menjauh, mereka duduk berhadapan,


" aku lagi ga ulangtahun ara, jangan prank aku"


ara membuang wajah nya ke lain arah, merasa bukan saat nya mereka untuk bercanda.


"aku serius yo"


Rio menatap lekat mata kekasih nya,


"papa jarang sekali, bahkan ga pernah minta sesuatu, tapi kini dia meminta nya"


"kamu setuju??" (tanya Rio)


"kalo kamu jadi aku, apa kamu akan setuju?? “ (ara malah balik bertanya)


kini Rio yang membuang wajah nya, tangan nya tak terasa sudah mengepal,


apa hubungan dekat yang mereka sudah bangun dua tahun belakangan ini harus kandas begitu saja???


" aku udah bilang sama papa kalo aku punya pacar, dan ingin menikah dengan pacar ku saja,


tapi papa bilang, ini bukan di pasar, bisa tawar menawar"


nada suara ara bergetar, Rio dapat mendengar nya, menarik sebelah tangan ara, Rio kembali memeluk nya, membuat ara kini menangis,


jika orang tua sudah meminta sesuatu, Rio pun sulit untuk menolak nya, ia bahkan sering berhadapan dengan hal seperti itu,


memeluk kekasih nya semakin erat, ara mulai tenang, suara tangisan nya tidak lagi menguat seperti tadi,


"kamu ga akan nikah besok kan??


apa aku harus ketemu sama papa kamu??


selama ini kamu selalu cegah aku buat datang ke rumah"


ara menggeleng pelan,


membuat Rio semakin prustasi,


**


sore beranjak pergi,


ara menikmati makanan nya, jujur ia lapar..


mendapatkan beberapa lirikan dari Rio, ara merasa bersalah pada kekasih nya itu,


"jangan liat aku kaya gitu" (kata ara)


"aku harus apa ra? " (tanya Rio, tidak melepaskan tatapan nya pada mata ara)


lagi lagi ara hanya bisa menggeleng,

__ADS_1


membuat Rio menghembuskan nafas nya kasar,


tak terasa waktu Menunjukkan pukul 7,


ara melirik HP nya yang berbunyi, telpon dari dokter Aryo,


ara sedikit khawatir, jarang jarang dr aryo menelpon nya,


memberikan kode pada Rio untuk mengangkat telpon, Rio mengangguk


"hallo dok"


"tiara, kamu dimana nak? "


"ara lagi di luar dok, ada apa dok? “


“saya lagi di rumah papa, bisa ara pulang dulu? "


"ada apa dok, apa terjadi sesuatu sama papa? "


"kita bicarakan di rumah oke"


"baik dok"


ara merasa bersalah, walaupun bi Nur pasti memberi tau papa ara pergi, namun ara tetap merasa tak enak hati,


"aku yang boncengin kamu ya? " (kata Rio)


"kamu kan bawa motor juga??"


"itu mah gampang, ayo, kamu khawatir kan sama papa?? "


ara mengangguk,


tak berlama lama, Rio dan ara pergi,


ara memeluk erat Rio sepanjang jalan, sungguh ia merasa bersalah pada lelaki yang 2tahun ini menemani nya,


sesampai nya di rumah ara,


Rio melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah,


"apa itu mobil dokter? “


ara mengangguk, menerima helm dari Rio,


" masuk lah, aku nunggu jemputan dari temen"


ara masih memandang mata kekasih nya itu,


ara mendekat, rasa nya masih belum mau untuk berpisah..


"kamu sayang sama aku yo?? " (tanya ara)


"sangat tiara, ( Rio tersenyum, membelai rambut ara pelan, ara mendekat, memberikan satu kecupan beberapa detik di pipi Rio,


lalu ara melepaskan nya, membisikan kata terimakasih pada Rio sebelum akhirnya ia berbalik untuk masuk ke dalam rumah nya.

__ADS_1


Rio masih mematung, menatap kepergian ara, hingga ara menutup pintu rumah nya,


merasakan denyutan di kepala nya, terlebih di hati nya, Rio pergi, menunggu teman nya di depan jalan.


__ADS_2