Cinta Tak Di Sangka

Cinta Tak Di Sangka
aborsi


__ADS_3

Ara menyebrang jalan dengan motor nya,


ia akan pulang, ingin mandi dan tidur, sudah berniat akan me_non aktifkan HP nya, ia cukup lelah, di tambah kejadian baru saja di resto,


badan nya sungguh tidak nyaman, lengket, jus mangga itu lumayan banyak mengenai baju atas nya,.


Danu akan membelokan mobil nya, ketika melihat dari jarak lumayan jauh ara keluar dari arah resto, danu pun akan ke sana, menemui yona mereka memiliki janji bertemu,


entah mengapa jadi banyak kebetulan bertemu dengan ara,


"sayang, tadi minuman ku tumpah" (yona mengadu pada danu, dengan manja nya, menggoyangkan pelan lengan kekasih nya itu)


"ya tinggal pesan lagi saja sayang" (jawab danu mengusap tangan kekasih nya)


"bukan soal minuman nya, tapi ada gadis nyenggol aku, mana ga minta maaf, se enak nya aja pergi"


danu tersenyum,


" udah ko jadi bete gitu sih, sekarang kita pesan lagi saja, aku mau makan tadi pagi ga sarapan, aku lapar,


(danu membuka buku menu, ini kedatangan ke dua nya ke restoran,


beberapa rekan dokter nya merekomendasikan resto ini,


yuli yang bertugas pagi ini melayani mereka menggerutu dalam hati "kalo gue managernya di sini, ni cewe udah gue jambak, enak aja ngaduin bos kita yang engga engga, udah tau dia yang salah")


danu memberikan daftar pesanan nya,


" di tunggu ya pak" (yuli mengangguk sopan)


"jangan lama lama ya mbak" (tambah yona)


yuli tidak menjawab, pura pura tidak mendengar, mulut nya memeragakan bagaimana yona berbicara


"sayang, jangan lama lama ya, cepet buatin pesenan meja 9“ (kata nya sambil mendelik pada jhony)


jhony heran


" kesambet lo yul????? "


"kesel gue tuh sama pelanggan"


"yeee, tapi jangan marah ama gue dong gais",


**


ara sampai di rumah nya,


sebelum masuk ke kamar ia mampir ke kamar papa, mendorong pelan pintu berwarna coklat itu, ara melihat papa nya sedang membaca buku di sofa, kacamata baca nya bertengger di hidung,


menyadari kedatangan putri nya papa menoleh, ara tersenyum,

__ADS_1


" sudah pulang nak? “


ara mendekat, duduk di pegangan sofa samping papa ya,


"papa ga istirahat?? “


" ini papa lagi istirahat"


papa mencium wangi mangga dari tubuh putri nya,


"kamu bawa mangga??" (tanya papa)


ara mendesah,


"bukan bawa mangga, ara buru buru sampe tabrakan sama pelanggan, minuman nya tumpah ke baju ara" ( nada nya terdengar kesal, papa tertawa kecil)


"papa tau? waktu bi Nur telpon nyuruh ara jangan pulang siang siang, ara baru beberapa suap makan nasi goreng"


wajah papa berubah, ada penyesalan di sana


"maaf kan papa oke"


mau tidak mau ara mengangguk,


"ayo bersihkan badan, dan istirahat lah, kamu kusut kesali,


papa juga mau tidur"


"apa sudah makan?? "


bagai anak kecil, ara memiringkan kepalanya bertanya pada sang papa,


"sudah dong, papa makan banyak" (jawab nya sambil tersenyum lebar)


"sudah minum obat?? " (tanya ara lagi, papa semakin tertawa)


"sudah nyonya, sana pergi, papa mau tidur"


ara menegakkan tubuh nya,


"tadi di suruh pulang, sekarang di usir..... ( kata ara sambil membalikka badan)


baik lah, aku pun akan pergi ke pulau kapuk saja"


"hmmmm, selamat bersenang senang di sana"


(jawab papa sambil tertawa)


mereka tertawa, ara menutup pintu kamar papa pelan, berjalan lurus menuju kamar nya


"ma, dia sangat mirip dengan mu, mata nya, bibir nya, bawel nya, tapi entah kenapa, walau menatap nya lama, rasa rindu ku pada mu tak pernah ter puaskan"

__ADS_1


papa memandang pintu yang baru saja di tutup ara, lalu memandang ke arah dinding yang terpajang photo nya dengan mendiang sang istri,


papa larut lagi dalam kesedihan..


ara merebahkan tubuh nya,


ia bahkan masih menggunakan jubah mandi dan rambut yang tergulung, ia sangat lelah, berat sekali rasanya untuk sekedar mengambil baju untuk ia kenakan,..


jam menunjukan pukul 12 kurang,


ya ini momen langka, ia akan menghabiskan siang hari nya dengan tertidur hari ini,


jika biasa nya dia sudah di sibukkan di restoran dengan pelanggan yang akan makan siang,


kini ara telah siap terbuai mimpi, walau ia masih menggunakan jubah mandi nya, ia benar benar tak memiliki tenaga lagi.


Danu sudah kembali ke RS, ia masih memiliki beberapa pasien setelah jam makan siang nya,


menjadi dokter kandungan ia begitu banyak menerima berbagai macam ekspresi ketika pasien nya di nyatakan hamil,


dan seperti nya, semakin hari semakin meningkat pasien nya itu,


danu cukup di puja oleh para suster,


wajah nya yang tampan, ia juga memiliki kulit yang putih bersih, hidung yang mancung, dan garis wajah yang hampir di bilang sempurna, para suster memanggil nya oppa jika bergunjing di belakang nya,


menggerakkan alat di atas perut pasien nya, danu sedang menatap layar, mencari letak keberadaan janin dalam perut sang pasien,


"ya, usia nya baru saja 6 minggu, masih berukuran kecil sekali bu"


(matanya masih awas menatap layar, danu tidak mendengar jawaban atau reaksi dari sang pasien, yang biasa nya pasien akan antusias bertanya ini itu, bahkan para suami nya pun demikian, si pasien kali ini memang datang sendiri)


danu menoleh pada suster,


mengangguk memberi isyarat bahwa pemeriksaan sudah selesai,


danu duduk lagi di kursi nya, mengisi buku periksa yang akan menjadi milik si pasien,


melirik sekilas pada perempuan yang ada di depan nya, ia masih sangat muda,


membuka lembaran buku untuk mengintip usia si pasien, danu sedikit kaget, usia nya baru 19 tahun,


namun ini bukan urusan nya, bisa saja si pasien memang menikah dini,


"dok... " ( tiba tiba pasien memanggil nya, membuat danu menoleh, ia menggigit bibir bawah nya, matanya terlihat seperti ketakutan)


"apa ada yang mau di tanyakan bu?? " (tanya danu, ia belum selesai mengisi buku periksa, hendak menempelkan hasil USG di lembaran berikut nya


"dok, saya mau tanya,


apa belum terlambat jika saya melakukan aborsi? "

__ADS_1


__ADS_2