
Hati nya saja sakit, apa lagi hati istri nya, danu membereskan rambut ara yang berserakan, ia menggenggam nya, rambut yang sering ia belai, danu sedikit nya tau perasaan istri nya,.
ia takut, ara tak segan menggunting rambut nya yang tebal, danu takut ara nekat melakukan hal lain, ia memeriksa meja rias ara, menyembunyikan semua yang di anggap berbahaya,
danu menatap diri nya di cermin, ia membenci diri nya sendiri, bagaimana bisa ia melukai hati istri yang sangat ia sayang se dalam ini, ia bagai iblis berbentuk manusia,
danu membawa bungkusan rambut ara ke luar kamar ia membuang nya bersama benda benda berbahaya menurut nya,..
ara duduk di sofa memeluk kedua lutut nya, kepala nya bersandar di sofa, ia tampak melamun,
danu datang membawa bubur kacang ijo buatan bi Nur, ara sangat suka bubur kacang ijo.
"sayang, makan sesuatu ya? bi Nur buatin bubur kacang, kamu suka kan? "
ara diam mata nya bahkan tak berkedip, danu memperhatikan wajah istri nya yang begitu pucat, ara pun terlihat tirus dengan rambut pendek nya,
"ara" danu mendekat duduk di sebelah nya, mengusap lengan nya
"mas jangan dekat dekat" ara mengangkat tangan yang danu sentuh, ia ingin menghindar,
"aku harus ketemu pengacara, makan bubur nya ya? “
ara masih di posisi yang sama, ia tidak menjawab, atau sekedar menganggukkan kepala nya.
danu pergi, ia meminta bi Nur dan kang ujang menjaga ara lebih ketat, ara bahkan tidak boleh keluar rumah,
ara telah memutuskan,
ia meraih HP nya, menelpon seseorang
" dam, how are you? "
"wow dear I'm fine, what made you contact me?"
(wow sayang, aku baik, apa yang membuatmu menghubungi ku?)
adam menjawab di sebrang sana, ia teman kuliah ara dulu
"i need a passport, I'm flying somewhere
(aku butuh pasport aku akan terbang ke suatu tempat)
"i hope you can help me "
(aku harap kamu bisa membantuku)
"Of course dear, for when?"
(tentu sayang, untuk kapan?)
"hurry up, I don't have much time dam"
(secepatnya, aku tidak banyak waktu)
"ok, on request"
__ADS_1
(baik, sesuai permintaan)
“let me know as soon as possible, maybe I also need a ticket for my flight“
(kabari aku secepat nya, mungkin aku juga butuh tiket untuk penerbangan ku)
"anything for you dear, don't hesitate“
(apa pun untuk mu sayang, jangan sungkan)
" thanks dam"
"You're welcome dear"
tekad nya sudah bulat, ara akan pergi,
ara keluar kamar, ia merasa suntuk, mencari sesuatu di kulkas, bi Nur terkejut melihat ara karna rambut nya berubah,
"non, rambut nya kemana? "
"terbang bi"
bu Nur cemberut, ia sangat sayang pada rambut ara yang bagus itu
"kenapa pendek banget non? "
"tadi nya ara pengen botakin aja kaya upin ipin"
"jangan atuh non"
"bi maaf ara lagi ga selera sama bubur kacang, ara belum makan "
"iya non ga apa apa"
"bi," ara terdiam, ia harus katakan ini walau berat
"ara harap bibi bisa jaga rahasia, bibi mau janji sama ara? "
bi Nur mengangguk,
"apa itu non?"
"ara titip rumah, ara mau pergi sementara ya? “
" kamana non? "
"maaf bi untuk itu ara ga bisa bilang, ara harap bibi ga bilang apa pun ke danu soal kepergian ara, bibi tau kan masalah ara? ini ga mudah buat ara bi"
bi Nur menganggukkan lagi kepala nya, ia setidak nya ikut merasakan,
"kalo danu sampai tau ara mau pergi, berarti itu dari bibi, dan kalo itu terjadi, ara ga akan pernah pulang lagi"
bi Nur menangis,
gadis kecil yang ia besarkan seperti anak sendiri akan meninggalkan nya, ara menatap bi Nur dengan kesedihan,
__ADS_1
"jaga diri baik baik ya bi, bibi harus tetep sehat untuk keluarga bibi"
bi Nur tak tahan, ia memeluk ara, ara pun demikian,
"pulang cepat ya non, rumah ini pasti sangat sepi, bapak udah ga ada sekarang non mau pergi, tapi bibi ga bisa cegah non, bibi hanya berdoa yang terbaik buat non ara"..
ara mengangguk, mereka melepaskan pelukan masing masing,
" bibi harus janji apa yang ara bilang tadi'
bi Nur mengangguk lagi, ia paham,
"ara boleh minta sesuatu bi? "
"apa pun non“
" ara ga enak badan, ara pengen di balurin kayu putih"
"baik non, mau di mana? "
"di kamar bibi yu? "..
" ayo non"
ara dan bi Nur masuk ke kamar bi Nur,
ara membuka baju nya, ia tengkurap, bi Nur pelan pelan mengoleskan kayu putih di bahu ara, memijat nya perlahan, beralih pada lengan ara, bi Nur juga mengoleskan kayu putih di sana, bi Nur menagis, ara mendengar nya
"non suka banget bibi pijit gini ya dari dulu"
"ini nyaman bi, ara kalo sakit ga pernah ke dokter kan? cukup bibi pijat, ara bakal sembuh"
bi Nur menangis,
"non jangan lama lama pergi nya ya"
"iya bi, ara butuh ketenangan aja ko"
beralih ke punggung ara, bibi sangat hati hati, ia tau ara sedang hamil, namun entah mengapa bibi enggan menanyakan hal itu
ara tertidur, bi Nur terus memberikan pijatan spelan di tubuh nona kecil nya itu,
danu pulang, ia terkejut melihat kamar yang kosong, bubur kacang yang ia bawakan pun masih utuh, danu ketakutan lagi, ia takut ara pergi lagi, danu pergi ke dapur
"bi Nur.. " danu memanggil, ia menghampiri kamar bi Nur yang pintu nya terbuka,
melihat pemandangan di dalam danu langsung tenang, ara di sana, bi Nur memijat punggung nya, ara bahkan tak mengenakan baju,
"tidur pak" bi Nur berbisik
danu mengangguk, ia tersenyum melihat ara, danu akan menunggu nya di ruang TV saja.
menghempas kan tubuh nya ke sofa, danu hampir saja kehilangan istri nya lagi, ia benar benar takut.
nafas ara semakin teratur, bi Nur meninggalkan nya, menutupi tubuh atas ara dengan selimut, bi Nur tak mau mengganggu nona kecil nya
__ADS_1