
Papa di bawa ke UGD, danu sudah menelpon papa nya untuk datang, dan kini dr Aryo sudah di dalam,
danu mendekat pada istri nya, ara memeluk pinggang danu, menenggelamkan wajah nya di perut suami nya, beberapa dokter ikut menunggu, karna mereka mengetahui papa mertua dari dr danu di sini,
saling memberi dukungan, danu bahkan masih menggunakan baju santai nya, ia tidak sempat mengganti baju nya,
mengusap lembut rambut istri nya, danu memberikan dukungan,
"papa seperti nya mau ngasih kita hadiah pernikahan mas, karna papa janji mau kasih ara coklat yang banyak, di kamar papa tadi banyak coklat"
"iya sayang" danu mengangguk "kamu yang tenang, semoga papa ga apa apa"
dr Aryo melepas masker nya, ia mengusap wajah nya, merasa telah gagal, teman nya samsul, dan juga besan nya tidak dapat ia selamat kan, papa ara telah meninggal,
mata nya memanas seketika, ketika dokter jaga menggelengkan kepala, tanda sudah tidak ada nyawa lagi di tubuh besan nya itu,
dr aryo meneteskan air mata, memeluk samsul, ia membisikan kata
"innalillahiwainnailaihi rodjiun" papa tak kuasa, ia menangis, ia juga berfikir bagaimana akan ia beritahu ara, menantu nya itu pasti sangat terpukul, tapi bagaimana lagi, ia harus tau,
dr aryo keluar dari ruang UGD, ara langsung bangun dari duduk nya, ia curiga sangat, melihat dr aryo, mertua nya itu begitu tak bersemangat,
"sayang... " dr aryo memanggil ara, namun firasat nya begitu kuat, ara merasakan sesuatu yang tak baik
"engga pah, papa ara sehat kan?? " ara menggelengkan kepala nya,
dr aryo menunduk,
"papa udah ga ada nak"
bagaikan petir di siang hari, hati ara hancur seketika mendengar itu, ara terdiam, namun mata nya menangis,
dr aryo memeluk ara, seketika tangis nya pecah
"engga mungkin pah, papa ara baik baik aja kan?? “
dr aryo mengusap punggung ara, mengeratkan pelukan nya, mata nya menatap putra nya, danu tertunduk,
__ADS_1
ia ingat betul, bagai mana papa bilang untuk tinggal di rumah setelah menikah, karna kasihan ara sendiri, ini kah maksud nya? papa akan meninggalkan nya??
"ara mau ke dalam pah"
dr aryo melepas pelukan nya, memandang sejenak wajah menantu nya yang tampak begitu sedih,
"ayo sayang.. "
danu juga ikut masuk, siaga di samping ara.
ambruk, ara memeluk papa yang sudah terbujur kaku itu,
"papa,..
papa bilang sesuatu sama ara, papa ga boleh pergi kaya gini, papa ga bilang apa pun, papa ga bilang papa sakit, papa tinggalin ara, kita masih sarapan sama sama tadi kenapa papa gini??“
danu tak tahan, ia mencoba menahan pundak ara, tapi ara kekeuh di posisi nya,
" sayang, jangan gini, kasian papa"
tangis ara memelan, danu memeluk nya,
"sayang, papa udah ga ada, kita harus ikhlas"
"gimana aku ikhlas mas, papa baik baik aja kan tadi di rumah"
"kita ga tau umur seseorang sayang" ara menenggelamkan wajah nya di dada danu,
danu membawa nya keluar, papa akan di urus oleh pihak RS, dr Siska dan andre sudah ada di luar, mereka melihat bagaimana ara sangat terpukul
"ara... " panggil dr Siska, ia memeluk ara, menyampaikan duka cita nya, memberi ara kekuatan,
mama Retno datang tergesa, ia di beritau papa kabar kurang baik ini,
melihat menantu nya sedang di peluk dr Siska, mama mendekat
"ara sayang... "
__ADS_1
ara menoleh, mama juga menangis
merentangkan tangan nya, ia memeluk menantu nya dengan erat, ara lagi lagi menangis,
"papa ninggalin ara mah, ara sekarang sendirian "
"syuttttt sayang, ara ga sendiri, ara punya papa sama mama, ada danu juga"
mama menemani ara, danu dan dr aryo mengurusi jenazah papa, hingga semua telah selesai, papa sudah di bawa oleh ambulan ara menemani nya di dalam, rumah sudah penuh oleh pelayat,
jenazah papa di turunkan,
bi Nur tak kuasa menahan sedih, ia memeluk ara, mereka berpelukan,
"maafin papa ya bi, kalo selama ini papa ada salah"
"InsyaAllah ga ada non, tuan orang baik, non yang sabar ya"
ara mengangguk, mereka masuk ke rumah, bi jur sudah mengosongkan ruang tamu yang kemarin di pakai ara untuk akad nikah nya,
ara melamun, memandang janazah papa yang sudah rapi di bungkus kain kafan nya,
anak anak resto pun datang, ini hari libur mereka, ara memberikan nya libur karna sudah bekerja keras untuk pernikahan nya.
mereka saling menguatkan,
rima tampak sedih, baru saja kemarin bos nya ini menikah, kini harus kehilangan papa nya,
pemakaman telah siap, papa di bawa lagi dengan ambulan ke peristirahatan terakhir nya,
semua pelayat tidak ada yang tak memperhatikan ara, mereka melihat ara sangat terpukul, wajah nya sangat pucat, ia bahkan enggan untuk bicara, ara hanya membalas dengan senyuman doa doa dri pelayat, danu lah yang lebih aktif, dia tau istri nya sangat berduka,
ara mengusap nisan papa yang masih menggunakan kayu itu,
"papa senang? papa akan bertemu sama mama kan? papa bilang papa kangen mama kan?, ara akan ikhlas jika papa bahagia, kini papa bisa cerita sama mama, mama pasti bangga sama papa"
hari beranjak sore, cuaca pun mendadak mendung, danu membantu ara berdiri, mereka akan pulang, sungguh berat ara melangkahkan kaki nya, meninggalkan pemakaman,
__ADS_1
"sayang, ikhlaskan... " danu mengusap lembut pipi istri nya, ara menghirup udara banyak banyak, mengisi rongga dada nya yang begitu sesak, ia patah hati, cinta pertama nya telah pergi untuk selama lama nya.