
kue brownies dan se cangkir kopi di suguhkan bi yuyun pada ara dan danu, mereka masih di meja makan, papa dan mama juga baru bergabung, mama membawa album surat undangan untuk mereka pilih,
_ apa ini semakin mendekati waktu nya?? ara bergumam dalam hati, membuka satu persatu album foto bersama danu, bertema elegant, kartun, romantis dan beberapa contoh lain nya,
"kamu suka warna apa ara? (tanya danu)
" ara suka warna merah, tapi buat surat undangan seperti nya lebih cocok warna kalem"
tak ada penolakan, danu merasa ara sudah mulai membuka hati nya, ara juga tak henti membolak balik album sampel undangan itu, ia seperti antusias
"ya, warna warna kalem, dan ga bnyak corak, itu lebih elegant" ( tambah danu)
"jadi kapan? " ( tanya papa aryo pada kedua anak nya?)
ara melirik danu,
"ara ikut aja pah"
mama tersenyum,
"apa ara punya referensi untuk makeup pengantin? "
"engga mah? "
"kalo gitu, boleh mama pilihkan, nanti mama kirim kontak nya ya.. dia anak temen mama, jadwal nya sudah cukup padat"
"boleh mah"
__ADS_1
"untuk Catering,? " (tanya mama lagi)
"catering biar anak anak saja mah, akan ara liburkan restoran untuk fokus ke acara nanti"
mama lagi lagi tersenyum melihat respon ara, selama ini mama memperhatikan ara, ada sedikit keraguan di hati nya, apa ara akan menerima perjodohan ini atau tidak? karna danu pernah bercerita tentang kekasih ara
ara dan danu sudah menentukan pilihan tentang model undangan, catering makeup, sudah masuk daftar, tinggal mencari wo dan fitting baju pengantin, ara menyerahkan semua pada mama, karna memang kebetulan ara kurang faham soal itu, mamah punya banyak koneksi, teman sosialita lebih luas,
ara dan danu sudah di perjalanan, ini sudah jam 8 malam ara akan pulang,
danu menyimpan tangan kirinya di samping tangan ara dengan terbuka, ara yang menyadari itu menatap danu, ia bertanya melalui matanya
"berikan tangan mu" (ucap danu)
ara menuruti nya, menyimpan tangan kanan nya di atas tangan danu, danu tersenyum, ia menggenggam jari tangan ara, ara mengikuti nya,
"terimakasih ara,
kamu tau, aku sangat senang, walau mungkin benar kita hanya akan berumah tangga selama 6 bulan"
ara terdiam, ia menatap tangan nya yang di genggam danu,
entah kenapa hati nya merasa terluka mendengar kata itu, ara merasa diri nya seperti penjahat saja.
"kamu lihat tadi? mama begitu senang, ia bangga memamerkan calon menantu nya pada teman teman nya"
"papa malah berpesan untuk memiliki anak yang banyak, lihat lah, memiliki sedikit anak rumah tampak sepi, tapi sayang aku tidak bisa punya adik, setelah melahirkan ku, ada sesuatu yang membuat rahim mama harus di angkat"
__ADS_1
ara kini mentap danu, danu menyimpan tangan nya di bibir, untuk dia kecup berkali kali, tidak mendengar respon dari ara, danu menoleh, memeriksa keadaan calon istri nya itu, ara masih di sana, hanya seperti nya pikiran nya sedang di mana.
danu menggigit tangan ara dengan sengaja, agar ara berhenti melamun,
"awww" ( tidak sakit sebenar nya, ara hanya terkejut)
danu tertawa, saat ara refleks menarik tangan nya dan memukul pundak danu pelan,
"kaget tau.. "
"abis nya, di ajak ngobrol malah ngelamun"
ara mengusap tangan nya yang tadi danu gigit,
"bagaimana dengan yona? " (ara bertanya, namun danu seperi cuek)
"sejak pertemuan kita di resto waktu itu, aku tidak pernah menghubungi nya lagi ara, ya begitu saja, untuk beberapa hari dia menelpon dan mengirim pesan, aku sudah memberi tahu nya dengan jelas tentang kita, aku harap dia ngerti"
ara membuang nafas,
"dia pasti sakit hati, apa mas ga berfikir untuk berbaikan, nanti kan setelah kita bercerai mas bisa sama yona lagi"
"aku ga ingin nyakitin dia lebih lama ara, lebih baik sekarang dari pada nanti, karna kehidupan kedepan nya kita ga akan pernah tau bagaimana"
hati ara terasa terusik dengan kata kata danu, danu lebih tegas dalam mengambil keputusan ara tau itu, tapi ga mudah juga buat ngelepas Rio.
entah lah ara merasa pusing sendiri..
__ADS_1