
Danu masuk ke ruangan nya, mengusap wajah nya dengan kasar, bagaimana kata kata ara terus terngiang di kepalanya
"ara tidak menginginkan kan perjodohan ini, dia hanya terpaksa, aku saja mungkin yang terlalu berharap atas perjodohan ini,
dia meminta waktu 6 bulan, lalu kita akan bercerai? apa maksud nya begitu??? dan dia akan kembali pada Rio??
danu menengadahkan wajah, ia begitu hancur, bagaimana ara telah berhasil mencuri hati nya, dan dengan mematahkan hati nya pula secara bersamaan,
"aku ga bisa liat kamu terluka ara, jadi jika ini membuat mu bahagia, ayo kita lakukan, tapi maaf, jika nananti keputusan mu akan berubah, bagaimana pun kamu istri ku, cinta harus di datangkan bukan begitu??? "
danu tidak akan mudah melepaskan yang sudah menjadi milik nya, dia yakin, akan memenangkan hati ara, ini akan mudah kan? apa lagi setelah menjadi suami istri,
pagi datang, ara belum bangun,.. ia baru saja setengah jam tertidur, danu mengintip nya di luar pintu, danu akan pergi, ia menugaskan beberapa perawat menjaga ara dan menelpon Siska untuk mengganti perban di lengan dan kepala ara.
dr Siska masuk, dan ara masih tertidur, ia melihat mata calon istri dari teman nya itu sedikit membengkak, (danu pergi dan kondisi ara begini? apa mereka bertengkar?? pertanyaan nya ia simpan di dalam hati, bagaimana pun itu sangat lah privasi)
"mba'.. perawat membangun kan ara, ini sudah melewati waktu sarapan, ara harus minum obat dan mengganti perban nya.
ara membuka mata,
melihat se orang dokter perempuan tersenyum pada nya,
" selamat pagi bu, maaf kami membangunkan, sudah waktu nya sarapan... "
ara mengangguk, ia memijat keningnya yang terasa sakit,
"aku susah tidur semalam dok" (kata ara)
"ada keluhan lain bu?? "
ara menggeleng,
"tidak ada dok" (ara memperhatikan sekitar, danu tidak si sana, melihat nametag yang terpasang di dada kakan sang dokter, ara ingat dr Siska yang membantu danu menangani nya)
"di mana dokter danu dok? "
dr Siska tersenyum,
" ada jadwal oprasi cecar siang ini, dokter danu sedang bersiap "
ara mengangguk lagi,
Siska dengan hati hati, mengganti perban di lengan dan kepala ara,
"ibu sudah boleh pulang, syukur lah tidak ada luka serius"
"akhir nya, aku bosan dokter, terimakasih"
"sama sama bu, administrasi nya sudah dr danu selesaikan, tinggal lah di sini se nyaman ibi, dan jangan lupa sarapan nya ya"
"terimakasih dok"
"sama sama"
__ADS_1
Siska menyelesaikan tugas nya,
memberi waktu untuk ara me makan sarapan nya,
ara menghubungi bi nur, ia minta di jemput untuk pulang,
danu tidak datang ke ruangan ara,
entah mengapa ara merasa bersalah, dan berharap danu datang, tapi mustahil, ia ada oprasi hari ini,
ara bersiap di bantu bi Nur, ara bisa berjalan sendiri, ia menolak untuk memakai kursi roda,
ara berjalan keluar rumah sakit, kang ujang sudah ada di sana, membantu bi Nur membawa bawaan nya,
mata nya menangkap sosok danu baru keluar dari mobil putih nya, entah lah, ara merasa senang melihat danu, danu pun berjalan ke arah nya, ara tersenyum, ia ingin mengatakan bahwa ia akan pulang,
namun tak ara duga, danu berbelok di persimpangan di depan ara, mengambil jalan lain, jelas jelas danu melihat nya di sini,
hati ara mencelos, ia tidak suka dengan ini, bukan kah seharus nya ara senang? dengan begini bahkan mereka mungkin batal untuk perjodohan,.
ara pulang tanpa ia tau, danu melihat nya dari jauh, "maaf ara, aku sedang ingin marah, semoga cepat sembuh"
memandangi jalan yang ia lalui, hati ara berkecamuk, ada menyesali ucapan nya,
mengapa rencana nya itu tidak ia pendam sendiri saja, berpura pura membesarkan masalah nanti nya agar mereka bercerai misal nya,
mengapa ara harus membicarakan nya dengan danu?? ia telah melukai hati orang lain,
bagaimana jika rencana nya terdengar oleh orang tua mereka? ara mengutuki diri nya sendiri, ia sungguh merasa bodoh kali ini,.
hari begitu cepat berganti, 10hari sudah setelah ara pulang ke rumah, tak ada komunikasi antar dia dan danu, bahkan juga keluarga nya, papa pun tidak pernah membahas soal pernikahan,.
luka yang ara miliki sudah mengering, kondisi nya pun sudah baik baik saja, ara sudah sibuk lagi di resto, malam ini akan ada acara lamaran di restoran nya, bagaimana seseorang memboking untuk acara romantis ini,
resto sudah tutup dari sore hari, gorden di bentangkan, mereka memulai dekor, menyiapkan bucket bunga raksasa, ara tersenyum memandang nya,
meletakan dua kursi berhadapan, ini nanti nya untuk calon pengantin,
dan beberapa kursi di belakang nya untuk keluarga,
ara menyimpulkan pita, dan menjepit kan setangkai bunga putih si simpul pita nya,.
"bukan kah ini sangat romantis bu? beruntung sekali wanita yang akan di lamar nya ya? (seru rima, ia terlihat sangat senang)
" iya rim, pasti laki laki itu sangat mencintai wanita nya"
"rima mau rekam ah acara ini, boleh bu?? "
"ga boleh, kita ga dapet ijin untuk itu"
rima manyun mendengar kata kata bos nya,
dekorasi hampir selesai,
__ADS_1
ara pergi ke dapur, melihat apa semua berjalan dengan baik di sana.
setelah semua di pastikan sempurna, ara kembali ke ruangan nya, menunggu kabar dari pak andre selaku pemilik acara,
rima datang dengan seseorang yang tidak ara duga sebelum nya,
"bu.. ada tuan berkunjung.. (kata rima, ara bangkit dari duduk nya, menghampiri papa yang ada di samping rima)
" lho, ko ke sini, ini sudah malam pah, mana rapih banget lagi.. "
hehee papa tertawa
"papa kesal di rumah sayang"
"baik lah, ayo duduk, tapi ara mau ada acara sebentar, ada yang booking buat lamaran pah"
"oya?? wah, luar biasa, papa akan di sini saja nak"
ara mengangguk, meminta rima membawakan minuman untuk papa nya,
lima menit berlalu, ara mendapat kabar bahwa keluarga andre sudah datang,
"pah, ga apa apa nunggu di dalam? "
"kamu tenang saja nak, sana bekerja lah"
ara tersenyum. mengecup pipi papa nya se kilas.
ia pergi, merapihkan lagi penampilan nya, ara malah yang merasa deg degan,
ara sudah berdiri siap menyambut tamu nya,
andre maju pertama, ara merasa heran, kenapa pak andre hanya sendiri,
ara dan andre berjabat tangan,
"lho, bapak ko sendiri?? " (tanya ara bingung)
andre menunjuk ke arah belakang ara, di mana di sana sudah ada mama retno, papa aryo, dan papa nya,
ara belum menemukan titik terang, ia masih tertegun, sambil tersenyum ke arah mereka,
melihat mama memberikan kode pada ara, agar ia membalikkan badan, ara sempat loading, dengan perasaan bingung, ia menolehkan kepala nya ke samping, andre tersenyum, menunjuk ke arah belakang ara, ara refleks berbalik mendapati danu di belakang nya dengan menggenggam nampan kecil ditangan nya yang penuh kelopak bunga, ada sebuah kotak, yang ara tau itu kotak cincin..
ara membelalakan mata nya, iya tersenyum lebar melihat danu, bagaimana lelaki itu lebih tampan kelihatan nya setelah hampir 2minggu mereka tidak bertemu, namun ara melihat perbedaan pada danu, senyumnya tak seperti biasa, ini terlihat seperti di paksakan,
danu membungkukkan punggung nya, menyerahkan nampan kecil yang ia bawa,
ara menatap lagi ke dalam mata danu,
"Terima dong Terima... (suara rima di belakang mendominasi, semua nya ikut bersorak meminta ara secepat nya menerima cincin pemberian danu, ara menerima nya, yang sontak membuat riuh restoran malam itu, siapa sangka, acara lamaran yang ia siapkan adalah lamaran untuk diri nya sendiri)
mama membawa ara duduk di bangku, berhadapan dengan danu,
__ADS_1
ara melihat kedatangan dr Siska di sana, ara tersenyum