Cinta Tak Di Sangka

Cinta Tak Di Sangka
mencari


__ADS_3

bi Nur mengganti sprei di kamar Ara, ia terkejut, menemukan alat tes kehamilan di bawah bantal,


"non ara hamil?? "


bi Nur menyimpan nya,


"seperti nya pak dokter belum tau, pantes aja non mau nya asinan terus, ya Allah, kasih kemudahan non ara hadapi semua nya, semoga masalah nya cepat selesai,


bi Nur akan menyimpan nya saja, ia tidak mau lancang, biar ara sendiri yang memberitahu suami ny,


**


Ara ingin pergi, ia tak tahan melihat berita di HP dan TV, semua mengabarkan yona dan suami nya, lebih parah lagi, yona memberikan bukti foto vulgar nya dengan sang suami ke media, ara tambah meradang, ia sedih, juga kesal, ara ingin sekali memaki ke dua nya, kenapa danu milih nya jika sudah berhubungan dengan yona, wanita mana yang mau di tinggalkan begitu saja.


berbekal alamat yang di berikan mba anggi, ara akan pergi menemui Rio, ia hanya ingin bercerita, walaupun mungkin itu salah karena status ara yang sudah menikah,


tapi terserah orang akan berkata apa, hanya Rio yang ara anggap bisa mengerti diri nya,


ara memesan jasa antar, mobil yang ia pesan sudah datang pukul 2siang tadi, ara tak mau berlama lama, ia harus pergi, sebelum semua menjadi runyam, pikiran nya harus di tenangkan.


menempuh waktu sekitar dua jam, ara sampai di pusat kota, ia bertanya pada tukang ojek yang mangkal di pinggir jalan,


beruntung nya, tukang ojek itu tau alamat yang ara tuju, ara langsung menuju ke rumah Rio, di bonceng dengan memandang pemandangan di sekitar yang masih asri, kebun dan sawah terhampar luas, ara sampai di desa tujuan nya, tukang ojek itu membantu nya mencari rumah Rio, seseorang menunjukan nya ke sebuah rumah,


ara sungguh bersyukur di kelilingi orang orang baik walaupun mereka belum saling kenal,


ara telah sampai di depan rumah yang sederhana, berwarna hijau cerah, ara melangkah ia mengetuk pintu,


"assalamu'alaikum" tokk tokk tokk


"ya, waalaikumsalam.. " yang punya rumah menyahut, ia membuka pintu, seorang wanita sudah berumur memandang ara.


ara tersenyum,


"iya neng, cari siapa? "


"emh, bu maaf apa benar ini rumah Rio? "


"iya benar, neng siapa? "


"saya tiara bu, teman Rio dari bandung"


"ara? " Wanita itu memanggil ara

__ADS_1


ara tersenyum, wanita di hadapan nya ini tau nama panggilan nya


"iya bu saya ara"


"masuk neng, datang sama siapa? "


"sendiri bu"


ara duduk di sofa, ruangan itu tidak terlalu besar, namun cukup nyaman,


"jangan panggil ibu, panggil teteh aja ya, kenalin saya Rahma, bibi nya Rio"


"ah iya teh"


"neng pasti cape, sebentar saya bawa air dulu ya"


ara mengangguk, ia memang sedikit lelah, ditambah rasa mual nya masih ada dari sepanjang jalan.


teh Rahma datang,


ia membawa air teh yang masih mengepul, mata ara berbinar melihat nya,


"teteh ga tau ara suka manis apa engga, tapi ini ga terlalu manis"


"ga apa apa teh, makasih ya" ara menerima cangkir yang teh Rahma berikan, teh Rahma senyum senyum melihat ara,


"Rio ceritain ke teteh, dia juga liatin foto ara, tapi teteh pelupa, di tambah ara lebih cantik kalo ketemu langsung"


ara tersipu,


"makasih teh, Rio pergi ga pamit sama ara, ara tau alamat ini dari pelantara yang jual rumah Rio di bandung"


"iya neng, Rio mau pulang, dan pengen punya rumah di sini, tuh rumah nya masih di bangun di belakang" teh Rahma menunjuk arah belakang rumah nya walaupun bangunan itu tak terlihat,


"tapi Rio lagi ga di rumah, dia lagi naik gunung, kangen sama temen temen nya di sini, baru aja berangkat kemaren dua harian, teteh ga tau dia pulang kapan"


"owh, iya ga apa apa teh, yang penting ara udah tau rumah nya di sini"


teh rahma memperhatikan ara, mata nya seperti sembab,


"apa ada masalah neng? ah maaf teteh kepo nih, Rio ga cerita kenapa dia pulang, dan mau pindah ke sini"


"iya kita ada masalah teh, tepat nya itu kesalahan ara, Rio pergi gitu aja, maksud nya ara hanya ingin meluruskan masalah ini walaupun kita udah ga deket lagi"

__ADS_1


teh Rahma mengangguk,


ai menyukai ara, selain cantik dan ayu, ara juga sangat sopan.


"teh, maaf ara boleh ikut ke toilet"


"ah iya neng, silahkan"


teh Rahma bangun, ia menunjukan kamar mandi yang terletak di belakang sana, ara ingin sekali muntah, ia tak tahan dengan mual nya ini, namun ia malu, ara membasuh wajah nya agar tampak segar, ara akan pulang saja, percuma berada di sini tapi Rio tidak ada, Rio memang suka naik gunung, ia sering bercerita pengalaman nya, mungkin akan memakan waktu 5hari untuk naik gunung,


ara selesai, ia kembali ke ruang tamu


"neng teteh siapin makan ya, neng pasti laper"


"ah engga teh, kebetulan ara udah makan tadi di jalan beneran deh"


"neng tenang aja di sini mah anggap rumah sendiri"


"teteh, ara mau pulang aja ya? "


"neng sebentar banget, perjalanan kan jauh sekarang juga mau magrib"


"ga apa apa teh, ara harus pulang, besok kan harus kerja lagi"


teh Rahma merasa tidak enak,


"neng pulang besok pagi aja ya, nginep di sini, kebetulan suami teteh juga lagi tugas ga pulang"


ara tersenyum.


"maaf ya teh, ara pulang aja ya? "


"ya udah, padahal teteh pengen ngobrol banyak sama ara"


"InsyaAllah nanti ara main lagi ya teh? "


teh Rahma mengangguk pasrah, no HP Rio memang tidak bisa di hubungi,


"nanti teteh kasih tau Rio suruh hubungi ara ya? "


"makasih ya teh"


"sama sama neng, salam buat orang tua ara ya? "

__ADS_1


ara tersenyum, ia mengangguk saja teh Rahma pasti belum tau,


"waalaikumsalam teh"


__ADS_2