Cinta Tak Di Sangka

Cinta Tak Di Sangka
merindu


__ADS_3

"aborsi??? (danu bertanya pada pasien nya. ia jelas kaget, jantung nya tiba tiba terpacu hanya mendengar kata itu saja)


si pasien mengangguk,


" iya dok, saya hamil, dan pacar saya ga mau tanggung jawab, orang tua saya belum tau kalo saya hamil"


danu melirik sekilas pada suster yang bertugas membantu nya, menimbang apa yang akan ia katakan,


"mbak, maaf sebelum nya. apa mbak tau konsekuensi nya dari aborsi?,


selain itu di larang, nyawa mbak juga jadi taruhan nya, "


"saya tau dok" perempuan itu menunduk


"maaf saya sudah lancang, saya akan pamit.. "


"tunggu mbak, ini buku periksa nya, dan ada obat yang harus di tebus, itu vitamin untuk kehamilan " (danu menerangkan, si pasien menatap nanar buku yang di sodorkan danu)


"terimakasih dok"


danu mengangguk,


"sama sama, jaga asupan makanan nya ya mba"


si pasien tidak menjawab,


dia berlalu begitu saja.. membuat danu heran...


sebuah pesan masuk ke HP nya


"jangan lupa malam, papa tidak menerima penolakan"


hufttttt


danu mendesah,


"perjodohan?? lucu sekali pap"


danu kesal, meletakan dengan kasar HP nya sehingga membuat bunyi sedikit nyaring...


**


ara mengeliat,


ia terbangun, entah berapa lama ia tidur, menyentuh kepala nya yang masih terbalut handuk, ara langsung bangun, duduk di tepian ranjang nya,


ia menggaruk kepala nya.. menertawakan diri nya sendiri, bagaimana bisa tidur senyenyak itu dengan keadaan dia seperti ini..


ini jam 2:27 siang, yang brarti ia tidur sekitar 2 jam, bukan malah nyaman, ara merasa tubuh nya pegal pegal..


bergegas memakai pakaian nya.. ara keluar kamar, ia lapar..


bi Nur sedang menyapu teras belakang, saat melihat ara berjalan ke dapur.. membuka tudung saji di meja makan..


bi Nur mendekat


"non mau makan?? "

__ADS_1


"iya bi ara lapar"


"mau di buatkan apa? "


ara berpikir sejenak,


"kayanya makan bakso enak bi'


" mau bibi belikan non? "


"boleh bi, ara tunggu di belakang ya"


"baik non, tunggu ya non"


"beli dua ya bi, kita makan bareng"


ara beranjak ke teras belakang rumah nya, bi asih sangat lah apik, rumah mereka terawat sangat, pasti ia sangat bekerja keras..


tidak mudah bekerja dengan usia yang sudah tidak muda lagi,


bi asih juga beberapa kali sakit,


ara memandangi tanaman hias peninggalan sang mama,


ketika suara khas papa terdengar dari arah dapur,


"sejak kapan kamu suka tanaman nak? "


ara menoleh, tersenyum pada papa nya


"ara suka tanaman pah, se perti, daun bawang, sledri, fokcoy, selada"


"itu bukan tanaman hias bocah"


ara ikut tersenyum.,


"sama saja, mereka juga tanaman"


papa duduk di kursi, bersandar pada dinding rumah mereka,


ara mengikuti, duduk di sebelah nya


"mamah mu sangat suka tanaman hias"


kata papa


ara mengangguk, ia tau itu,


"papa harap papa cepat cepat bertemu dengan mama mu ara"


ara menoleh, ia tidak Terima atas perkataan papa nya,


"ish, sembarangan aja pah"


"setiap waktu papa rindu mama mu, tapi tak pernah se kali pun dia datang, walau dalam mimpi.


papa ingin bertemu, papa ingin bercerita, bagaimana kamu sudah tumbuh sebesar ini, tumbuh tanpa dampingan seorang ibu,

__ADS_1


jadi wanita tangguh dan mandiri,.


papa rindu mamah mu ara.. "


ara diam, ingin sekali ia menutup mulut papa nya agar tidak mengatakan hal seperti itu lagi,


"papa akan tenang jika kamu sudah menikah, ga ada yang harus papa khawatirkan lagi"


"kamu janji, akan bahagia setelah menikah ara?? “


papa memandangi putri sulung nya itu, ara tampak menatap lantai, namun ia terlihat sedang tidak melamun,


ara menegak kan kepala nya, menahan rasa panas yang mulai menjalar di mata nya, ia tidak mau menangis, terlebih di hadapan papa nya.


ara Berdehem, memblaikan wajah nya menghadap papa,


"ehmmm, ara bisa jaga diri ara sendiri pah, menikah bukan satu satu nya solusi"


"oya?? " (jawab papa enteng) apa pendapat mu tentang menikah?? "


"ara memang ingin menikah pah,


tapi entah untuk saat ini ara belum memikirkan nya, menikah menurut ara hanya menambah masalah, bagaimana nanti ada konflik dengan mertua, dengan ipar, pertengkaran antara suami istri walaupun karna masalah sepele,


bagaimana mereka bercerai, padahal usia pernikahan baru se umur jagung,


ara banyak mendengar teman teman ara cerita pah"


papa mendesah,


"baiklah, jika itu mau kamu, papa tidak bisa memaksa"


papa bangun dari duduk nya,


ini kali pertama mereka membicarakan kan hal serius.. biasa nya jika ara meminta pendapat tentang segala hal, obrolan itu tetap akan terasa ringan,


"papa kecewa ara, kamu tau papa tidak pernah meminta sesuatu pada mu"


papa pergi, masuk kembali ke rumah,


meninggalkan ara yang terpaku,


air mata nya menetes begitu saja walaupun mata nya tak berkedip, mungkin karna sudah tak terbendung,


ara bersiap, seperti nya si kepala butuh penyegaran, ara memutuskan untuk pergi,


ia memutuskan untuk pergi ke taman kota saja,


menenteng helm, ara merekatkan resleting jaket yang ia kenakan,


"non, mau kemana? ini bakso nya?? "


"simpen aja dulu bi,, bibi makan sendiri ya, ara ada perlu"


"iya non, hati hati ya"


ara memakai kacamata nya,

__ADS_1


tersenyum pada bi nur,


"duh, non mau kemana ya?? kata tuan mau ada tamu nanti malam, non lama ga ya keluar nya?? " bertanya pada diri sendiri, bi nur sedikit pusing, ia sudah memesan makanan di restoran ara untuk jamuan nanti malam, atas permintaan papa, lalu bagaimana ara pergi begitu saja???


__ADS_2