
Danu benar benar pergi ke RS, ara sudah pulang seperti biasa, ia memilih untuk tidur, tubuh nya benar benar terasa lelah padahal di resto hanya duduk dan jalan jalan sebentar,.
danu pulang jam delapan, tidak menemukan ara menyambut kepulangan nya,
"bi, ara sudah pulang? "
"sudah pak, dari tadi, sekarang di kamar, kayanya kurang sehat"
danu cemas, ia buru buru ke kamar untuk melihat istri nya,
membuka pintu perlahan ara telah tidur, danu tersenyum, mendekati sang istri, mengecek suhu tubuh ara, benar, suhu tubuh nya lebih hangat dari biasa, danu mengecup kening nya, danu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri,
ara membuka matanya, ia belum tidur, namun ia sedikit malas bertemu suami nya,
air mata nya lolos begitu saja, ia ingin memeluk suami nya, mendapat usapan seperti kemarin, namun biarlah, ara akan benar benar tidur saja setelah memastikan suami nya pulang tepat waktu,
danu selesai, ia pun langsung merebahkan tubuh nya di kasur, ini masih siang masih jam 9 malam, namun biarlah, ia akan tergelap,
danu mengusap punggung ara,
ara merasa nyaman, danu seperti tau keinginan nya, sampai tak terasa ara terlelap.
**
"mah... "
ara mengigau, memanggil mama nya
danu hampir saja terlelap saat mendengar ara mengigau, bertumpu dengan satu tangan nya, danu memiringkan tubuh, ara berkeringat padahal cuaca dingin, danu menyentuh kening nya, suhu badan ara semakin tinggi dia demam
"sayang, kamu kenapa? tadi ga apa apa? "
danu mendekat, ara terus bergumam memanggil mama nya,
"mama"
danu memiringkan tubuh ara agar berhadapan dengan nya, ia memeluk nya, mengusap usap lagi punggung nya
"sayang, maafin mas, mas janji mulai sekarang, mas akan lebih baik jagain kamu, maaf ya karna hari ini sudah mendiamkan mu"
danu memeluk nya, ara sudah tak terdengar mengigau,
ara terbangun, hari menjelang pagi, ia mendapati danu memeluk nya erat,
"sejak kapan mas danu meluk? " bertanya dalam hati, ara sungguh ingin mencium suami nya, tapi ara takut mengganggu, ara memejamkan lagi mata nya, namun ia tidak bisa tidur, pelan, ara bangun ia ingat, sepulang nya dari resto ara membeli tes peck, ara gemetar, menyentuh benda itu, ia akan melakukan tes.
ara telah mencelupkan alat tes itu pada air seni nya, menunggu hasil, ia menatap diri nya melalui kaca,
"aku harap aku ga hamil, jika aku hamil aku ga tau harus gimana, keadaan ku sama mas danu lagi kurang baik"
ara menggosok gigi nya, dan membasuh muka,
mata nya membulat, saat melihat hasil tes itu, dua garis merah begitu terlihat nyata,
entah apa yang barat rasa, antara senang, bahagia, haru, tapi juga sedih, ia benar benar hamil,
"anak ku" ara mengusap alat tes itu, kini ia dan danu semakin terikat, namun akan ara rahasiakan dulu tes ini, mungkin akan ia kabarkan pada suami nya saat mereka sudah membaik,
ara keluar kamar, ia sudah mandi, bergegas untuk pergi lagi ke resto, saat hendak keluar kamar danu bangun ia memanggil nya
"sayang, mau kemana? "
__ADS_1
ara terdiam, jantungnya berpacu seolah olah ia baru saja ketauan mencuri.
berbalik perlahan, ara memaksakan senyum danu sudah berdiri di sebelah nya
"mas, ara mau ke resto"
danu melirik jam di dinding,
"ko ga bangunin mas? mas juga praktek pagi"
"ara ga tau"
danu meraih tubuh istri nya ia memeluk nya
"sayang maafin mas ya"
ara mengangguk, ia menjauhkan tubuh nya.
ara siapin sarapan dulu.
danu tersenyum,
"baiklah, mas pengen roti slai nanas ya"
"iya mas"
tanpa menatap suami nya ara berbalik, ia menutup pintu kamar nya dari luar,
danu bergegas mandi, ia sedikit telat,
mendapati roti pesanan nya sudah siap, namun ara tidak di sana,
danu tersenyum.
"iya bi ga apa apa, saya bekal roti nya buat di jalan ya"
"siap pak"
danu keluar rumah, melihat mobil ara masih di sana,
"lho kang ujang ga anter ara? "
"dari kemaren non ara pake motor nya lagi pak"
danu memejamkan matanya,
semalam ara deman, dan sekarang ia pakai motor, entah ia menggunakan jaket atau tidak,
danu bergegas, bi Nur membawa bekal untuk tuan nya
"makasih ya bi"
"sama sama pak"
danu khawatir akan istri nya, ia berniat melihat nya ke resto, sesampai nya di sana, danu tidak melihat motor ara, ia menepi, seseorang tengah membersihkan lahan parkir
"eh pa dokter" agus menyapa
" a, ara sudah datang? "
"belom pak, kemaren sih jam segini udah, tapi sekarang belom"
__ADS_1
danu semakin khawatir,
"ya sudah, makasih ya"
"iya Pak"
danu memeriksa waktu, sungguh sempit sekali rasa nya, ia sebentar lagi harus ada di RS.
"ara kamu dimana? HP mu ga aktif sayang"
danu sangat gusar, ia tak tau harus kemana,
ia menyimpan no HP rima, danu mengirim nya pesan
"rim, kalo ibu sudah sampai, kasih saya kabar ya, dan jangan bilang ibu ya"
"siap pak dokter" rima membalas pesan nya
danu melanjutkan perjalanan nya ke RS.
**
ara memilih buah, ia sedang berada di sebuah pasar, memilih bengkuang, jambu air, mangga, nanas, mentimun dan kol, ara memborong nya, ia akan membuat asinan lagi,
tapi kali ini, ia akan membuat nya di rumah saja, membayar semua nya ara terlihat bahagia, ia akan pesta asinan dengan di taburi kacang tanah goreng, air liur nya hampir menetes membayangkan itu,
ara sampai lagi di rumah, kang ujang yang melihat belanjaan nona nya cukup banyak membantu
"non dari mana? banyak. sekali belanjaan nya"
"hehee, dari pasar kang, ara mau pesta rujak, tar kang ujang ara kasih deh"
"waduh mantep non"
kang ujang membawa buah buahan ke dapur, ia lalu memberi kabar pada danu, karna tadi danu meminta kabar jika ara pulang ke rumah
"pak dokter, non ara sudah pulang, tadi ke pasar belanja buah"
danu hendak duduk di kursi kebesaran nya, saat satu pesan dari kang ujang masuk, ia bernafas lega mendengar istri nya sudah pulang.
ara mengganti pakaian nya dengan daster,
bo Nur menunggu perintah dari ara,
"bibi kupas bengkuang ya, ara cuci yang lain"
"oke non"
"tadi pak dokter ga sarapan, kemaren juga" kata bi Nur memberi info
"oya, terus? "
"tadi sih minta bibi bekal sarapan yang non siapin, katanya mau di makan di RS"
"iya ga apa apa bi, sama aja"
ara meneruskan mencuci nya,
ia mulai memotong buah, benar benar membuat asinan sangat banyak,
bi Nur sampai heran, untuk apa rujak sebanyak ini,
__ADS_1