
Danu mengantar ara ke resto nya, ini sudah siang, sebentar lagi jam praktek danu,
danu mengantar nya sampai pintu resto,
"udah sampai sini aja mas, tar kesiangan lho"
danu tersenyum,.
"baiklah, jangan nakal oke"
ara tertawa,.
"ya paling ngacak ngacak dapur"
"jangan terlalu dekat sama jhony" ucap danu serius
"lho kenapa? "
"mas cemburu"
ara tersenyum, menggulum bibir nya,
"dia udh punya buntut dua mas"
"oya, syukurlah"
danu juga tertawa,.
"baiklah, mas brangkat"
"hati hati ya"
danu seperti berat membalikan badan nya, ara masih di sana memperhatikan nya,
"emh sayang... "
ara menaikan alis nya, danu memanggil nya,
"iya mas"
danu berjalan mendekati ara, ara bingung,
"apa ada yang ketinggalan mas? "
cupp
danu mencium kening istri nya,
"itu yang ketinggalan"
dia berbalik menuju mobil ny,
ara geleng geleng kepala atas tingkah laku suami nya itu, ara melambaikan tangan pada danu, mobil nya sudah masuk ke jalan raya.
hari ini berjalan seperti biasa, ara menelpon toko untuk mengirim kebutuhan nya,
melihat keadaan resto yang ramai di jam makan siang, ara sedang menikmati kopi nya bersama rima,
"ibu ga liburan? bulan madu gitu bu? "
ara menoleh, ia tertawa
"entahlah rim, aku masih berduka, mas danu juga sibuk di RS"
rima manggut,
"tapi walaupun ga bulan madu, semoga cepat punya momongan ya bu"
ara terdiam mendengar itu, ia ingat bagaimana terjadi semalam kebersamaan dengan suami nya begitu saja, tapi ia juga jadi ingat pada Rio,
"emh, rim.. apa selama aku libur, Rio datang ke sini? "
rima menggeleng,
"saya rasa engga bu, klien juga hanya mengabari menu catering lewat telpon"
"dia menghilang rim, sejak aku menikah, Rio ga pernah hubungin aku, padahal kita belum putus"
rima terdiam, sungguh rumit percintaan bos nya itu,
"mungkin Rio merasa, takut mengganggu bu"
ara kini yang terdiam.
__ADS_1
ia ingat betul surat yang Rio kirim, apa dia ingin mengatakan sesuatu sampai harus bertemu, kenapa ga lewat telpon saja.
ara menyesap kopi yang masih panas itu, ia tak pernah suka minum kopi yang sudah dingin..
"dokter danu tau ibu belum putus sama Rio? " tanya rima,
"seperti nya dia tau, Rio datang ke rumah waktu aku mau pergi resepsi"
"wah lalu gimana bu? apa pa dokter bertengkar sama Rio? "
"engga, mas danu malah ngasih waktu buat kita ngobrol walaupun 5 menit, Rio ngasih aku kado, aku baru buka tadi kado nya, soal nya keburu kejadian papa"
"apa isi nya bu? "
"barang barang kita, Rio kayanya udah ga mau nyimpen barang apa pun yang bersangkutan sama aku" huftttttt ara menghembuskan nafas nya
rima terdiam,
HP ara bergetar, panggilan dari danu,
"aku angkat telpon dulu ya? "
"iya bu, rima ke depan ya"
ara. mengangguk
"hallo mas"
"sayang, maaf kayanya mas ga bisa jemput, ada oprasi mendadak, lahiran"
"iya mas ga apa apa, tenang aja, nanti ara minta mang ujang jemput pulang"
"huhh, maaf ya "
"ga apa apa mas, mas tenang aja ya, semoga berhasil oprasi nya"
"makasih ya, nanti pulang hati hati, jangan terlalu. malam"
"iya mas"
ara langsung berpikiran untuk menemui Rio, danu akan pulang terlambat,
mengirimkan pesan pada kang ujang, ara minta untuk di jemput.
menitipkan resto pada pegawai nya, ara berjalan melewati lorong, untuk sampai di pakiran,
"kang, anter ara ke alamat ini ya, nanti ara kasih tau arah nya"
"baik non"
kang ujang menjalankan mobil,
ara mengarahkan jalan, kang ujang tak pernah kepo dengan urusan ara, tapi mungkin ia memperhatikan,.
sesampai nya di depan rumah Rio, mobil ara berhenti, rumah tampak gelap dari dalam,
"kang tunggu sebntar ya"
"baik non, perlu di temenin ga?"
"ga usah kang"
ara membuka pintu mobil, ia melihat sebuah kertas besar terpasang di pintu rumah Rio, ara mendekat,
DIJUAL HUBUNGI 0857xxxxxxxx
ara mengerutkan alis nya, "di jual?? berarti Rio udah ga di sini? dia pergi? "
ara mengeluarkan HP nya, mencoba menghubungi no Rio,
tidak aktif,
ara mengetikkan no HP yang tertera di pintu
beberapa detik ia menunggu
"hallo" suara di sebrang sana, menerima panggilan ara, suara perempuan
"hallo mba, maaf saya mau tanya, ini rumah atas nama Rio alamat di xxxx benar di jual? "
"ah iya mba, klien kami menjual nya, apa anda berminat? "
"emh bukan begitu mba, saya ada perlu dengan Rio, apa mba punya no HP nya yang aktif"
__ADS_1
"oiya mba, memang sudah beberapa hari pak Rio susah untuk di hubungi, kami juga perlu tandatangan nya, untuk surat jual beli"
ara terdiam,
"baiklah mba, terimakasih ya, boleh saya minta tolong, kalo ada kabar dari Rio, mba bisa kabarin saya? "
"oiya boleh mba, maaf dengn mba siapa ya? "
"saya ara, tiara mba"
"ok mba, semoga secepat nya pak Rio menghubungi ya"
"iya, makasih banyak ya mba" ara menutup telpon nya"
memandangi lagi pintu rumah Rio, ara menangis
"jadi kamu ga mau ketemu aku lagi yo?
aku kan bilang jangan tinggalin aku, aku ga bisa dateng ke taman karna papa udah ga ada yo, dan kamu sekarang ngilang gitu aja?? "
ara menunduk, mengusap air mata dengan punggung tangan nya,
ara membalikan badan, ia akan pulang saja,
"apa mau ke tempat lain non? " tanya kang ujang
"engga kang, kita pulang aja"
"baik non"..
tanpa ara sadari, Rio bersembunyi di balik tembok rumah nya,
ia selalu menunggu kedatangan ara semenjak pernikahan nya, Rio memberikan no ara pada teman nya yang jadi pelantara jual beli rumah nya, agar semakin menjanjikan, betul saja ara menghubungi nya.
" apa yang aku denger tadi ara? papa meninggal? sungguh aku ga tau, aku kira kamu sengaja tidak datang,. tapi tekad ku sudah bulat, aku akan pergi ara, semoga kepergian ku bisa membuat mu bahagia dengan suami mu"
Jangan kau obati luka ini,
biarkan mengalir darah tak henti,
kua tau,
kau hanya membuat luka ku semakin perih,
kini kau datang, esok kau pergi,
seakan aku tak punya hati..
terlalu aku mencintai mu,
rupanya kesempatan bagi mu..
maaf ku, untuk mu berulang kali namun tiada arti
kini dengan ku, esok dengan nya
aku tak sanggup lagi,
sakit nya,
perih nya,
melihat, kau bercumbu dengan nya...
kau tega,
menyiksa,
aku yang, selalu setia..
andai rasa di hati, tak sedalam ini,
dari dahulu engkau tlah ku tinggal kan,
cinta yang ku miliki, tak bisa kau bandingkan,
rugilah engkau, karna memilih dia....
bang Rio bersedih,
lirik lagu arif_Malaysia.
tak sedalam ini..
__ADS_1