Cinta Tak Di Sangka

Cinta Tak Di Sangka
mengandung anak ku


__ADS_3

Ara pulang, ini sudah jam 8 lewat, danu belum menghubungi nya, mungkin masih sibuk,


ara memutuskan untuk mandi,.


memikirkan kepergian Rio sungguh membuat hati nya sedih, duka untuk sang papa belum juga hilang, ara harus kehilangan lagi seseorang yang dia sayang,


ara selesai, ia pergi ke ruang tamu, bi Nur menyuguhkan potongan buah segar pada nona nya itu,


ara melahap nya, beberapa saat ia mendengar suara mobil mendekat, danu pulang, ara bangkit, ia menyambut suami nya,


danu turun dari mobil dengan wajah yang lesu tak se ceria biasa nya,


ara tersenyum, "massss"


danu mendekat, ia tersenyum juga


"kamu belom tidur sayang?"


ara menggeleng,


danu memeluk istri nya, ara heran dengan apa yang danu lakukan, danu mengusap belakang kepala nya, mencium rambut ara, menghirup wangi shampo dari rambut sang istri,


"aku gagal ara"


"gagal apa nya mas? "


mereka ga selamat, ibu dan bayi nya,. ara memejamkan mata, ia merasakan bagaimana rasanya kehilangan,


ara memeluk suami nya, mengusap punggung danu,


"itu sudah ketetapan Allah mas dengan cara apa mereka meninggal"


"aku hanya merasa tidak berguna menjadi seorang dokter"


ara merenggangkan pelukan nya, menatap mata suami nya,


"kalian orang orang hebat, aku menyebut kalian tanggan ke dua Allah, memang semua keputusan nya di tangan Allah, tapi melalui kalian kita melakukan syareat"


danu tersenyum,


"makasih sayang"


"ayo kita masuk, mas udah makan? " ara membawa tas suami nya, mereka berjalan masuk


"mas ga selera"

__ADS_1


baiklah, ara tidak memaksa,


"mau mandi? " tawar nya lagi


"iya sayang, mas mau mandi aja"


kedua nya sudah di dalam kamar, ara membantu suami nya melepaskan jas khas dokter berwarna putih itu, bahkan nametag danu masih tersampir di sana,


"mas mandi dulu ya"


"iya mas, ini handuk nya"


berinisiatif membuatkan susu hangat untuk danu, ara baru tau kalo kegagalan seorang dokter bisa mempengaruhi kehidupan nya, danu terlihat sangat sedih.


danu keluar dari kamar mandi, ara pun baru masuk ke kamar,


"susu hangat mas" ara mengocek nya,


danu duduk bersandar di sofa, tubuh nya merosot,


itu bukan danu yang biasa nya, ara mendekat, duduk di samping suami nya,


memberikan susu untuk danu minum,


"makasih ya"


ara bersandar di dada nya,


danu terdengar menarik nafas, dan menghembuskan nya,


"apa yang terjadi mas? "


"pasien datang dengan kondisi yang sudah lemah, pembukaan jalan lahir sudah sempurna, namun bayi tidak keluar karna terlilit ari,


ibu nya ga pernah datang untuk USG, periksa hanya ke klinik terdekat,


itu juga saat kontraksi pasien datang ke klinik, akan melahirkan di sana“


ara mengangkat kepala nya, menatap sang suami.


"bidan ga sanggup, karna pasien sudah kontraksi sejak 5jam yang lalu,


ketuban sudah pecah, mereka baru datang ke RS,


kami akan melakukan oprasi darurat, melihat kondisi pasien sudah sangat lemah, karna kehabisan tenaga,

__ADS_1


namun saat d periksa detak jantung bayi udah ga ada, ga lama ibu nya menyusul, ia meninggal"


mata danu terlihat menerawang, ara memeluk nya erat.


" biasa nya kelahiran anak itu jadi momen bahagia untuk keluarga, tapi ini tidak, banyak keluarga yang ikut menemani di luar,


suami nya histeris saat di beri kabar itu, aku gagal"


ara bangun, duduk lebih tegak


mengusap pipi suami nya pelan,


"mas dan para perawat di RS sudah berusaha, menurut ara itu bukan kesalahan mas"


danu mengangguk, menggenggam jari tangan ara,. "entah sudah berapa ratus kali aku menyaksikan kelahiran ara, dengan berbagai macam cara dan kasus, kalian para wanita sangat luar biasa, masuk ke ruangan dengan kesakitan, tapi setelah melihat bayi kalian tersenyum, seolah sebelum nya tidak merasa sakit"


ara tersenyum, danu membawanya lagi untuk ia peluk,


"itu alasan ku menyayangi mama, aku tau bagaimana perjuangan mereka, tapi aku jadi takut, jika suatu saat nanti kamu hamil, aku ga tau siap atau tidak melakukan penanganan"


ara merasa detak jantung suami nya sangat cepat saat mengatakan semua itu,


"jangan kan kamu mas, aku pun jadi takut untuk hamil"


danu tersenyum,


"siap tidak siap, wanita akan mengalami nya sayang"


ara mengangguk,


"kamu mau ara, mengandung anak ku? "


ara menatap lagi mata suami nya,


"InsyaAllah mas, mas bilang siap ga siap harus siap kan? “


danu tertawa,


" ya kamu benar,


makasih sayang, kini aku punya teman untuk cerita, maaf ya, aku terlihat cengeng "


"ini baru aku lihat dari dirimu mas"


"aku menunjukan nya hanya padamu ara, biasa nya aku akan diam termenung berlama lama di balkon kamar ku, terimakasih ya"

__ADS_1


danu mengecup lagi kening ara,


"sama sama mas"


__ADS_2