
karena melahirkan dengan normal, Ara di perbolehkan pulang setelah nya, Danu menyelesaikan administrasi, dan membawa istri dan anak nya pulang,
saat sampai di depan rumah bu Nina, Danu bingung, kemana ia harus membawa istri dan anak nya, bu Nina tertawa, ia mengijinkan Ara pulang ke rumah yang Danu tempati,
bu Nur berdiri di depan pintu dengan wajah yang sulit di artikan, ke dua tangan nya menagkup di bibir ia tak kuasa sedih bercampur hari bertemu lagi dengan nona kecilnya
"non... " bi Nur mendekat, Ara yang berada di kursi roda memandang wanita paruh baya pengganti mamah nya itu,
"bi.. ? “
bi Nur mendekat, ia tak dapat menahan kerinduan nya, memeluk ara dengan erat mereka menangis,
Riko pun yang masih kecil sampai terdiam melihat mereka berdua,
" ya Allah non, bibi kangen"
"Ara juga bi, bibi terlihat sangat sehat"
"alhamdulillah non"
pelukan mereka terlepas, bi Nur memandang bayi yang Danu gendong ia ingin sekali menggendong nya, Danu tersenyum, menyerahkan bayi nya untuk bi Nur gendong
tangan bi Nur bergetar, ia sungguh tak percaya, cucunya telah hadir di dunia ini
"bawa putri ku masuk bi, di luar dingin, aku akan bawa Ara"
"baik Pak"
Danu mendorong kursi roda Ara,
bu Nina dan pak Brata mengikuti mereka,
suasana rumah seketika menjadi hangat,
pelayan di rumah bu Nina membawa kasur bayi yang telah Ara beli sebelum nya,
putri mereka di baringkan, namun baru saja turun ia menangis dengan kencang membuat semua terpesona dengan jeritan nya
"uhhh sayang seperti nya dia haus Ara" ucap bu Nina, bi Nur menggendong nya lagi, memberikan pada Ara untuk Ara susui,
bu Nina dan pak Brata memberi ruang untuk Ara menyusui, Ara sangat merasa malu saat Danu menemani nya di kamar
"mas keluar dulu lah, Ara mau mimiin dede"
__ADS_1
"emang kenapa kalo aku di sini? “
" Ara malu mas"
"sayang, aku rindu kalian" Danu nampak sedih Ara meminta nya keluar,
dan akhirnya Ara kalah, Danu tetap di kamar ia mulai menyusui putri nya,
Danu tidak mengalihkan pandangan mata nya dari dua wanita yang ada di hadapan nya ini,
dalam hati ia terus bersyukur bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan sang istri, ia malah bisa menemani istri nya melahirkan,
"mas" Ara memanggil Danu
"iya sayang" Danu memandang nya dengan penuh cinta,
"maafin Ara mas, Ara pergi ninggalin mas begitu lama"
Danu terdiam, memberi kesempatan pada Ara mengutarakan isi hati nya
"Ara ga mikir panjang waktu itu, Ara udah ga tau apa yang harus Ara lakukan, Ara merasa sendirian"
Danu mendekat, dengan posisi sujud ia berdiri di depan Ara,
"sayang, mas yang minta maaf, mas ga mampu bahagiain kamu, mas ga bisa penuhin janji mas sama alm papah, mas pantas dapet hukuman dari kamu"
" Ara jangan bertanya begitu, kamu masih ragu? “ Ara tersenyum mendengar jawaban Danu
"kamu tau, saat kamu pergi, aku lagi ngejelasin semua permasalahan aku, aku dapet kabar dari bi Nur kamu pergi, aku kejar kamu ke bandara tapi aku terlambat
dan yang paling menyakitkan, mas pulang ke rumah dan mengetahui kamu sedang hamil, mas semakin marah sama diri mas sendiri,
setiap hari berharap kamu akan pulang, mas terus nelpon bi Nur setiap hari menanyakan apa kamu pulang? “
"mas ga tinggal di rumah? “
Danu menggeleng,
" aku pulang, berada di rumah mu hanya menambah rasa bersalah ku Ara "
"mas, Ara sudah tau ke adaan di Indonesia, ara pernah menelpon Rima, Rima memberitahu semua nya, dan saat itu mas sedang kecelakaan"
Danu tersenyum, ia mengangguk, meraih tangan Sang istri, Danu menggenggam nya
__ADS_1
"Ara, setelah semua yang terjadi selama ini, mau kah kamu hidup lagi sama aku? "
Ara tidak mampu menjawab, mata nya memanas,
"begitu banyak pelajaran yang aku dapat dari semua ini Ara, kita belum lama kenal waktu itu, tapi kamu begitu melekat dalam hati mas,
kamu bukan pergi sendiri Ara kamu bawa hati aku sama kamu, kamu bawa buah hati kita, sampai aku ngerasa ga bisa hidup,
aku terus bertanya bagaimana kamu hidup, dimana sedang apa?
kamu tau? aku bahkan mau menyerah dengan apa yang aku kerjakan, setiap aku praktek aku ngerasa ga mampu melakukan itu, aku selalu terbayang bagaimana kamu melewati kehamilan kamu?“
Ara mengangguk,
" maafin Ara mas,
kita pisah selama 8 bulan, apa kita harus menikah lagi? “
danu tersenyum,
"aku ga pernah menceraikan kamu Ara kita belum cerai untuk apa kita menikah lagi? “
"tapi mas, bagaimana pun Ara tau, jika 3 bulan suami istri pisah tidak ada kebutuhan lahir batin itu sudah jatuh talak"
Danu mengangguk,
"kita harus banyak bertanya pada ahli nya,
jadi kamu Terima mas lagi Ara? “
Ara tersenyum, ia mengangguk yakin,
" Ara yang harus nya nanya. apa mas masih mau sama Ara, dengan sifat Ara begini, Ara ninggalin mas lama, apa mas ga marah? “
"mas yakin kamu ga akan begini kalo ga ada kejadian itu"
Ara lagi lagi mengangguk, mereka saling melempar senyum,
putri nya telah terlelap lagi setelah mimi pada mamah nya, Danu dengan hati hati menyimpan nya di kasur bayi,
"boleh kita ambil foto, mas mau kirim foto ke mamah sama papah"
"mas Ara berdosa sama mereka"
__ADS_1
"syuuttt, biarlah yang lalu berlalu, kita buka lembaran baru untuk kehidupan kita sayang"
Danu membelai rambut istri nya, membawa nya untuk Danu peluk, ia menghembuskan nafas nya merasa lega, Ara mau menerimanya lagi menjadi suami itu suatu keberuntungan untuk nya,