Cinta Tak Di Sangka

Cinta Tak Di Sangka
4 bulan kemudian


__ADS_3

Ara menggeliat, merasa ada seseorang yang memperhatikan nya, ara membuka mata, ia tersenyum,


bagaimana tidak wajah lucu anak bungsu bu nina ada di hadapan wajah nya,


"tante lama bobo nya"


"oya? apa sudah malam? "


"belum.. " Riko menggelengkan kepala


"kata ibu iko disuruh bangunin tante, tante belom makan, nanti dede bayi nya nangis"


ara tak tahan melihat bibir riko yang manyun manyun saat bicara, ara memeluk nya,


"lucu banget sih kamu sayang"


"tante, memang dede bayi nya mana? "


ara berpikir sejenak, kata kata bagaimana yang bisa membuat riko mengerti, dia tidak berpengalaman dalam mengendalikan anak anak,


"emh,, dede bayi nya di perut tante, masih kecil"


"sekecil apa? "


"emh apa ya, mungkin sekecil ini" ara menunjukan mobil Hotwill mainan riko


"ko kecil banget? "


"ahahaa"


ara gemas sekali, ia unyel unyel pipi bocah itu,


"iya sayang, nanti dede nya juga besar, perut tante juga besar"


"ooowhh"


"tante ke kamar mandi dulu ya, nanti kita sama sama ke luar ya"


"oke tante"


riko menunggu ara di tempat tidur nya sambil. memainkan mobil nya,


bu nina sangat senang dengan kedatangan ara di rumah nya, ia jadi memiliki teman, selama satu tahun bu nina menetap di Paris, ia belum memiliki teman,

__ADS_1


ara sangat menikmati peran nya di sini, ia sedikit melupakan masalah dalam hidup nya,


jika bertanya apa ara rindu? jelas ara rindu pada rumah nya, pada kehidupan nya, resto nya, dan pada suami nya, walaupun pertemuan mereka bisa terbilang singkat, bagaimana pun danu suami nya, ayah dari janin yang ia kandung kini.


Hari semakin cepat berlalu,


tak terasa, ara sudah 4 bulan menetap di Paris,


bu nina mengajak nya keliling kota Paris yang terkenal dengan icon menara Eiffel itu,


cita cita nya untuk datang ke sini terwujud, namun ia hanya sendiri, padahal ara ingin pergi berbulan madu dengan suami nya ke sini, dulu saat dengan Rio pun ara menginginkan datang kesini, ya takdir membawa nya pada danu.


ara memeriksakan kandungan nya, ini sudah kali ke tiga pemeriksaan nya, tercatat 24 minggu/ 6 bulan, yang berarti perkiraan kelahiran anak nya sekitar 3bulan lagi,


syukur, semua nampak normal, calon anak nya di ketahui berjenis kelamin perempuan,


"kamu akan jadi teman mamah sayang, akan mamah ajarkan kamu menjadi seorang pebisnis seperti mamah"


ara mengusap perut nya yang mulai membesar, berat badan nya semakin bertambah, nafsu makan nya kembali normal, ia sudah tidak merasa mual atau pusing, ia sangat sehat.


...****************...


Danu memandang kalender kecil di meja nya, hari ini tepat 4bulan kepergian ara dan ia masih dalam keadaan sama seperti 4bulan lalu,


danu akan datang ke rumah ara, ketika rasa kesepian mengikat diri nya, ia akan tidur, dan berlama lama di kamar, membuka baju lemari ara, memandang semua barang barang istri nya di meja rias.


kasus nya telah selesai,


yona di penjara dalam keadaan hamil dengan banyak pasal, entah berapa tahun ia di sana, danu tidak ingin memikirkan nya.


danu tak se ceria biasa nya selama ara pergi, hati nya semakin hari semakin sakit, setiap waktu memeriksa kehamilan orang lain, sedangkan istri nya di sana entah siapa yang memeriksa nya,


danu membayangkan, akan begitu seru saat mereka melakukan USG anak mereka, ara sebagai pasien nya, dan danu dokter nya, taruhan tentang apa jenis kelamin anak mereka,.


**


danu bersiap, jam praktek nya sudah selesai, ia akan pulang ke rumah ara, danu sangat rindu istri nya, jika sudah kembali dari rumah ara, ia akan lebih bersemangat menjalani hari nya


***


"apa hasil nya?" tanya bu nina


"semua tampak sehat bu, usia nya 6bulan lebih "

__ADS_1


bu nina memandang ara penuh harus


"dia aktif sekali" tambah ara sambil mengusap perut nya.


"ara... " bu nina memanggil


"maaf bukan ibu bermaksud yang tidak tidak, kamu tau sifat ibu dari dulu" ara menyimak penuturan bu nina


"apa kamu belum mau pulang? maksud nya ibu hanya..... "


ara tersenyum. ia tau maksud bu nina, dia menghawatirkan ara,


"entah lah bu, ara belum kepikiran untuk pulang"


bu nina menggenggam tangan ara,


"danu ga tau kamu hamil ara, apa suatu saat nanti jika kalian bertemu, dia akan mempertanyakan anak mu? "


ara menunduk,


"anak mu punya hak untuk tau ayah nya, apa kamu siap membesarkan anak mu sendiri? bagaimana orang tentang nya yang tak memiliki ayah?


dan suatu saat anak mu akan menanyakan ayah nya"


"akan ara pikirkan bu"


bu nina menggenggam tangan nya semakin erat,


"ara, ibu bukan menggurui, cuma kamu harus tau, saat kamu melahirkan nanti, sosok suami akan sangat kamu butuhkan, bagaimana ia sabar menerima rengekan mu, bagaimana kamu dapat menggenggam tangan nya,


kamu butuh suami mu, apa lagi danu dokter kandungan, ia pasti akan bisa tau cara memperlakukan wanita nya saat momen itu"


ara menangis,


dia memang rindu, tapi entah bagaimana otak memerintahkan tubuh nya untuk bertahan begini saja, sedangkan hati nya meronta,


"Terima kasih bu, ara beruntung punya ibu "


bu nina tersenyum,


"aku ga akan bicara seperti ini kalo bukan pada anak ku ara"


ara menyeka air mata nya, dan berhambur memeluk bu nina,

__ADS_1


__ADS_2