
Tidak sulit mencari ojek di sini, sore hari terlihat sangat ramai, banyak anak anak bermain di jalan ara menyukai lingkungan ini,
menjelang malam di pinggiran jalan sudah banyak penjual aneka makanan, mata ara terpusat ke sebuah warung pecel ayam, ia sejenak berpikir tentang nasi uduk nya,
"kang berenti di sini aja ya"
ara meminta tukang ojek nya menepi,
membayar ongkos nya, ara menyebrang jalan, menghampiri warung itu, tempat nya masih sepi karna baru buka,
"teh, mau pecel ayam ya se porsi"
"siap teh, tunggu ya"
"iya teh"
ara duduk di ujung bangku lesahan, tempat nya sungguh nyaman, harum ayam goreng langsung ara nikmati, perut nya keroncongan, ia tentu malu saat teh Rahma tadi meminta nya makan.
**
Rio datang menggunakan motor trail nya, baju nya lumayan kotor, karna kemarin sore hujan,
dari dalam teh Rahma mendengar suara motor keponakan nya itu, ia bergegas ke luar
Rio hendak memarkirkan motor nya
"aa itu teh ara... "
Rio mengerut kan wajah nya, apa ia tidak salah dengar?
"siapa teh? "
"itu teh ara tadi dateng, baru aja pulang ayo susul, belom jauh deh"
"ara.. "
Rio menyalakan motor nya lagi, tas nya ia geletakkan begitu saja,
Rio mencari ara, mata nya bergerak ke sana sini, ia tidak tau ara sudah sejauh mana, Rio sampai depan jalan, ia menunggu, siapa tau ara belum sampai di sini,
ia baru ingat HP nya tertinggal di tas nya, Rio
menunggu, di pinggir jalan
**
danu menghubungi lagi kang ujang di rumah, berharap ara telah pulang, danu sedang mencari nya di taman, tempat ia berseteru dengan rio, ara biasa nya suka datang ke sini.
__ADS_1
"kang gimana udah pulang belom? "
"belom pak, "
danu mendesah, ini sudah lewat magrib, HP ara belum aktif, danu belum bisa tenang
"ara aktifkan HP mu, seenggaknya aku tenang jika tau kamu dimana"
danu meremas HP nya, ia memandang jalanan yang mulai macet, hujan turun, membuat nya tambah gelisah,
"ara maaf.. "
danu terus bergumam, ia melihat berita menayangkan kejadian ara di resto yang tidak mau di wawancara,
"kamu pasti kesal sampai kamu pergi, ini salah ku ara, aku ga berpikir jernih kemarin, jika tau se fatal ini, aku akan memilih yona membakar resto mu, aku mampu mengganti nya dengan yang lebih baik, tapi ternyata pilihan ku salah total"
**
hujan pun turun, ara memandangi langit malam dari tempat nya duduk,
makanan nya datang, ara tersenyum, menciumi aroma bawang goreng dan nasi uduk di depan nya, ara mulai makan,
merasa rasa nasi uduk yang terlihat enak itu, entah memang nasi uduk nya tidak memakai bumbu, atau lidah ara yang tidak berasa, sekejap ia tidak berselera, memandangi menu di hadapan nya, ara melirik sambal dan tahu, biasa nya ia suka itu, namun entah mengapa semua terlihat hambar.
"kamu menyulitkan ku, ara meremas baju di perut nya, ia sadar ini efek dari ngidam nya"
si penjual melihat ara yang melamun menatap makanan nya, ia penasaran apa ada yang kurang dalam masakan nya
ara terlihat bersedih,
"ga tau teh, tiba tiba ga selera aja, saya lagi ngidam"
"owh, pantes" ai penjual tersenyum
"memang begitu kalo ngidam, angin anginan, teteh mau apa atuh? biar saya siap kan? "
"engga teh, lagi ga pengen apa apa saya ikut neduh dulu ya"
"iya teh mangga"
ara meraih HP nya, berpikir apa ia akan mengaktifkan HP nya, ara takut danu akan tau keberadaan nya,
namun ara perlu jasa mobil lagi untuk pulang,
tidak ada pilihan, ara hanya punya 1hp,
ara mengaktifkan nya, ia cepat memesan kendaraan nya untuk pulang,
__ADS_1
**
Rio menunggu, sampai kini jam 7malam ia belum menemukan ara,
Rio meremas rambut nya,
ini sudah satu jam Rio menunggu ara, mungkin ara sudah pulang,
Rio menyalakan lagi motor nya menembus hujan, ia akan pulang saja mengaktifkan HP nya.
sesampai nya di rumah, teh Rahma menunggu nya di luar, ia terlihat sedih karna melihat Rio datang sendiri
"apa ga ketemu a? "
Rio menggeleng lemah,
ia masuk ke rumah, teh Rahma mengikuti nya,
"neng ara keliatan sedih, bibi liat mata nya sembab kaya abis nangis, tapi teh ara masih cantik aja"
apa terjadi sesuatu? mata ara sembab? dari mana dia tau alamat baru ku, jarak kami cukup jauh, ara datang ke sini.. danu bergumam dalam hati nya.
"sama siapa ara teh?"
"sendiri a, teteh coba tawarin dia buat nginep karna mau magrib, tapi ara nolak"
Rio mengaktifkan HP nya,
ia menelpon ara, nihil, no nya tidak aktif,
Rio mendapat beberapa notifikasi di HP nya, beberapa panggilan dari ara, dan juga beberapa pesan
"yo, kamu dimana? aku dapet alamat kamu dari mba anggi"
"yo, aku mau cerita, aku ga punya temen curhat, kamu tau sendiri aku cuma cerita apa apa sama kamu, aku bilang kan jangan tinggalin aku, papa udah ga ada yo, dan kamu juga pergi"
mata nya memanas membaca pesan ara,
"boleh aku datang? aku cuma mau curhat"
"yo, danu dan yona terlibat masalah, yona hamil dia bilang itu anak danu, aku sakit hati yo, kalo aku tau papa bakal ninggalin aku secepet ini, aku ga mau nikah sama danu, kamu kenapa ga mau nunggu aku yo? aku kan bilang tunggu aku"
Rio menangis, teh Rahma mengusap punggung keponakan nya itu.
"harus nya rio ga ninggalin ara teh, dia ada masalah" ucap Rio menghapus air mata nya
"wajah nya keliatan sedih walaupun senyum a.. "
__ADS_1
Rio mengangguk,
"no HP nya ga aktif, Rio ga tau dia dimana" a