
_karna takdir tak kan pernah kita tau akan berarah ke mana, dan dengan siapa kita akan hidup_
"aduhhh" (danu memegang dada nya)
"apa ada yang sakit dok?" (ara panik, ia tak mau terjadi sesuatu karna dia)
danu menggeleng, membuat ara mengerutkan kening nya,
tidak menyadari orang orang di sekeliling nya memperhatikan,
danu malah asik menatap manik coklat ara,
merasa di perhatikan, ara bangkit, merapihkan pakaian nya,
danu mengulurkan tangan, meminta bantuan pada ara untuk nya berdiri..
bukan kah seharus nya ia bisa berdiri sendiri, dia laki laki, aku saja perempuan bisa (pikir ara)
ara mengulurkan tangan, yang di sambut senyuman oleh danu, danu bangun,
merogoh HP di saku jas nya,
"saya minta no HP kamu, jika sesuatu terjadi pada saya setelah ini, saya akan meminta tanggung jawab" (kata nya lugas)
ara ter heran heran, ia tidak mau memperpanjang masalah ini, meraih HP danu, ara mengetikkan no HP d sana, mengembalikan pada pemilik nya, danu menekan tombol panggil pada no ara.. seolah tidak percaya akan no yang ara berikan..
HP ara berdering, di dalam tas
ara mengambil nya cepat, memperhatikan no yang tertera, menoleh pada danu,
danu tersenyum,
"siapa nama mu?? "
"ara dok"
berlalu begitu saja melewati ara, setelah danu mengetikkan nama untuk no baru yang ia simpan..
ara masih mematung, memandangi punggung danu yang semakin menjauh,
"dokter aneh"
katanya menggerutu, ia bergerak juga, melanjutkan perjalanan nya, ruang rawat papa tak jauh dari kejadian ia tabrakan dengan dokter aneh itu..
mengintip di celah pintu, memastikan agar ia tak salah kamar, ara mendorong pintu perlahan,
seorang perawat tersenyum,
dr aryo juga ada di sana
"kemarilah nak, " ( sapa dr, aryo lembut pada ara)
ara mendekat, wajah nya memucat, ingin segera memastikan kondisi sang papa,
"dok papa kenapa? sudah dua kali pingsan? "
dokter mengajak ara sedikit menjauh dari ranjang papa,
"ara, kondisi papa kamu semakin lemah, dia ga bisa beraktivitas berlebihan, sopir bilang tadi papa kamu nyiram tanaman di teras belakang, buman kah taman di rumah mu banyak?? “
__ADS_1
"papa memang nakal dok, ara udah sering ingetin buat diem aja di rumah"
dokter tertawa kecil mendengar kata "nakal" yang ara ucap kan,
" papa sempat bilang kalo ia merasa suntuk di rumah"
ara mengangguk,,
setelah kepergian mamah 17 tahun silam, papa tidak pernah mau menikah lagi, padahal ara sering membujuk nya untuk menikah, agar papa memiliki teman mengobrol setidak nya,
"temui papa, saya ke ruangan saya lagi,masih ada beberapa pasien, kalo ada apa apa, panggil saja ya"
"makasih ya dok"
"sudah tugas saya"
dr. aryo dan perawat keluar ruangan,
bi Nur yang dari tadi duduk di sofa bangkit,
"bi, bibi pulang aja, istirahat,.. ara yang temenin papa ya"
"baik non, kalo non perlu sesuatu, kabarin bibi ya"
"iya bi,, tenang aja ya.. maksih banyak bi"
"sama sama non, bibi pamit ya.. "
ara mengangguk, mengantar bi Nur ke pintu,
menghirup udara se dalam dalam nya, ara menghembuskan nya dengan kasar,
papa tertidur, mungkin pengaruh obat, ara duduk di kursi sebelah nya..
menekan tombol hijau untuk memanggil si pengirim pesan, ara bangun dari duduk nya, takut suara nya mengganggu tidur papa,
"sayang, kamu ke RS? siapa yang sakit?? (rentetan pertanyaan ara Terima, dari rio , Rio bisa di bilang pacar dari ara, ia panik)
" papa pingsan yo, sekarang udh di RS, "
"RS mana? aku ke sana ya? "
"ga usah buru buru, kamu kan lagi kerja" (ara memeriksa jam di pergelangan tangan kanan nya, ini masih jam 3 sore, jam kantor belum lah usai)
"baik lah, nanti pulang kerja aku ke sana ya"
"oke, jangan khawatir. i'm fine"
"oke sayang, by"
menyimpan HP di meja, ara memandangi sang papa, meraih tangan papa nya, membawa nya ke pipi, ara bersandar pada pipi sang papa, seolah itu tempat ternyaman untuk nya,
"pah.. jangan tinggalin ara, jujur ara ga akan pernah siap, ini yang ara takutin,
hanya papa yang ara punya, papa harus sehat, ara yakin papa kuat, papa slalu ada buat ara, kini ara yang akan selalu ada buat papa, buat papa bahagia,. ara udah janji sama mama,.. "
papa terusik, ara buru buru menghapus air mata yang tanpa permisi telah meluncur begitu saja
"hey cengeng" (papa tersenyum. ia melihat putri nya mengusap air mata)
__ADS_1
"papa nakal, ara bilang kan jangan banyak kegiatan, papa lagi kurang sehat"
papa terkekeh,,
"papa ga apa apa,
ara... (ucap nya pelan memanggil putri semata wayang nya, yang begitu mirip dengan sang istri)
" hmmm? "
"selama ini papa ga pernah minta sesuatu dari kamu, iya kan?? "
ara tanpa ragu mengangguk, memang begitu kenyataan nya,
"papa sudah semakin tua ara, papa sudah melemah"
ara menunduk, iya itu kenyataan nya.
"papa punya permintaan, untuk yang pertama, dan mungkin yang terakhir"
"pah, jangan bilang begitu"
"syuuutttt" papa menempelkan jari di bibir nya, memberi tanda kalau ara tidak boleh bicara
"menikah lah nak, kamu sudah dewasa, sudah berkecukupan, papa ingin melihat kamu menikah, memiliki keluarga, dengan itu papa ga khawatir lagi"
ara terdiam,
hubungan nya dengan Rio memang lah sudah lumayan lama, tapi untuk menikah ara belum terpikirkan walaupun Rio beberapa kali ingin membahas itu.
"papa sudah memilih jodoh untuk kamu" (ucap papa kemudian, membuat ara tersentak, ara menatap nanar mata papa nya, lidah nya kelu, ini sungguh permintaan yang berat)
"papa yakin dia yang terbaik buat kamu nak"
ara memaksakan senyum.
membawa lagi tangan papa ke dalam pipi nya, menciumi itu beberapa kali, ara memejamkan mata di sana,
"ya, papa tidak pernah meminta apa pun selain aku menjaga diri dan selalu sehat, tapi permintaan papa ini begitu berat, terlebih papa sudah menentukan jodoh ku, Tuhan bagaimana ini?? “ (kata nya dalam hati)
ara menarik nafas lagi,
mencoba bernegosiasi dengan sang papa
" pah, ara punya pacar" (katanya, takut takut)
"lalu.. ?" (tanya papa, dengan suara datar nya)
"apa ara bisa menikah dengan pacar ara saja?? “
tak berfikir terlebih dulu, papa menggeleng,
" ini bukan pasar yang bisa tawar menawar ara" (ucap nya lirih)
setidak nya ara sudah berusaha, walau hanya segitu yang ia bisa lakukan,
ara tersenyum lagi,
ia mengangguk, yang berarti menyetujui permintaan sang papa
__ADS_1
papa tersenyum,
"anak baik, ara memang putri kebanggaan papa" ( katanya tanpa ragu)