
Ara menunggu mobil pesanan nya di depan minimarket, di tempat tadi Rio menunggu nya,
sebuah mobil menepi, ara langsung masuk ke mobil itu, ia akan menempuh dua jam lagi perjalanan, itu pun jika tidak macet, dan seharusnya tidak kalau malam hari,.
ara menonaktifkan lagi HP nya banyak sekali pesan WA masuk dan telpon, entah lah ia tidak mau di ganggu, ara pun sedang berpikir kemana ia akan pulang, danu pasti sudah ada di rumah, ia masih cuti,
**
Danu menyandarkan kepala nya di sofa, ia pulang ke rumah mama nya, HP nya menyala di meja, ia meraih nya, melihat pesan nya pada ara berubah jadi centang dua, HP ara aktif, danu langsung menelpon nya,
"ah... " hampir saja ia melemparkan HP nya, no ara sudah tidak aktif lagi,
"kamu berhasil buat aku khawatir ara, apa kamu ga mau ketemu aku lagi?? “
papa melihat anak nya itu sangat berantakan, danu menutup wajah nya dengan bantal sofa,
aryo berpikir tidak akan membantu danu dalam masalah nya dengan ara, biar mereka yang menyelesaikan nya secara pribadi, biar mereka berjauhan agar terukur rasa cinta nya pada hati masing masing, untuk putranya aryo tidak meragukan perasaan nya, namun untuk ara, aryo masih belum bisa meraba nya.
jam menunjukan pukul 10 malam,
resto pasti sudah tutup, setelah menyelesaikan pembayaran, ara turun dari mobil yang mengantar nya di depan resto,
hufttt, ia menghembus kan nafas berat nya, malam ini ia akan tidur di sini saja.
ara membuka gembok pitu samping resto nya, ia punya cadangan, menyalakan lampu satu persatu, matanya berputar melihat restoran nya dari sudut ke sudut, ini impian nya, ini ambisi nya, ini hidup nya, berlinang air mata nya mengenang perjuangan nya, ara berbelok masuk ke ruangan nya, ia akan tidur di sofa, tubuh nya sangat lelah, tidak ada sedikit pun makanan yang masuk dalam tubuh nya, ara lapar, namun ia tidak memiliki selera sama sekali,
__ADS_1
merebahkan tubuh nya di sofa, pikiran nya melayang tentang malam malam yang ia habiskan bersama danu, padahal ara mulai membuka hati pada suami nya, tapi ara memiliki keputusan kini, jika danu tidak mau perceraian, dia tidak mau pergi dari hidup nya, maka ara lah yang akan pergi, Rio tak lagi dapat di temukan,
ara pun tak mungkin memelas minta belas kasih nya,. ia mengusap perut nya yang rata, ara bahkan tidak tau usia kandungan nya,
sempat memikirkan betapa lucu nya saat ia memeriksa kehamilan, dan sang suami yang memeriksa nya,
tapi itu sirna, ara bahkan akan merahasiakan kehamilan nya, ia akan memulai hidup nya dengan anak nya kelak,
ara tertidur,
agus masuk ke resto karna kunci rumah nya tertinggal di loker, ia merasa heran gembok luar tidak ada, beberapa lampu menyala, seingat nya, agus mematikan semua lampu sebelum mengunci nya,
ia menuju loker, namun lagi lagi heran karna pintu ruangan bos nya terbuka sedikit,
agus takut ada maling,
"bu ara? " ia melihat bos nya tertidur,
agus keluar, ia meraih HP nya,
menghubungi danu segera.
danu terperanjak saat HP nya bergetar,
telpon masuk dari "agus resto "
__ADS_1
dengan suara serak nya danu menerima panggilan itu,
"ya gus"
"pak, ibu ara ada di resto, ibu tidur di ruangan nya"
seketika danu merasa segar, rasa ngantuk nya menguap entah kemana,
"yang bener kamu gus? "
"sumpah pa' ini agus depan ruangan nya ibu"
"baik saya ke sana"
danu langsung keluar rumah dan pergi dengan mobil nya, mama merasa heran, kenapa anak nya itu, apa ara sudah pulang ke rumah nya??
mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, danu tidak mau menyia nyiakan waktu nya, ia rindu istri nya, hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai resto, jika siang hari mungkin ia perlu 30 menit perjalanan,
danu berjalan cepat, agus menunggu nya di pintu samping,
"makasih ya gus
" sama sama pak, agus pamit pulang ya"
danu mengangguk, cepat cepat ia menuju ruangan ara, benar istri nya di sana, tertidur dengan pulas, seketika rasa khawatir nya runtuh, melihat bagaimana sang istri tidur dengan nyaman di sofa ruangan nya
__ADS_1
"kamu dari mana sayang? aku hampir putus asa nyari kamu" danu berbisik, ia duduk di depan istri nya, danu tidak mau mengganggu ara, danu melipat tangan, menyandarkan kepalanya di samping tubuh ara, ia menatap istri nya dari dekat, sampai tak terasa ia pun terlelap.