
hari ini sudah kurang lebih satu bulan setelah kejadian itu, yona tidak menghubungi lagi danu, namun danu masih merasa bersalah,
ara sering menanyakan apa kah ada masalah yang ia miliki, mungkin ara memperhatikan perubahan sikap danu,
malah semenjak itu mereka tak pernah melakukan hubungan suami istri, danu merasa bahwa ia tak pantas untuk ara, bagaimana ia bisa tidur di ranjang orang lain selain ranjang istri nya, rencana bulan madu pun sirna, danu menyibukkan diri di RS, ia sering pulang larut, seperti malam ini, ara menunggu nya sambil menonton TV, ini sedah jam sembilan kurang, ara pulang dari resto jam tujuh,
mobil danu datang, seperti biasa ara menyambut nya, menyiapkan handuk untuk suami nya mandi, dan menyiapkan makan untuk nya, ara menunggu di ruang TV,
danu memeluk pundak nya dari balik sofa, ara tersenyum,
"mau makan mas? "
"manti saja ya? "
danu duduk di sebelah ara, ara begitu saja bersandar di dada nya, danu memeluk nya, mengusap usap punggung nya,
"nyaman sekali mas, ara ngerasa ga enak badan udah dua hari ini"
danu mengecup puncak kepala istri nya,
"kamu kecapean sayang"
"padahal di resto ga ngapa ngapain " danu terus mengusap punggung ara, ara mendongkakkan wajah nya, mengusap pipi suami nya, ara mencium bibir danu, danu menyambut nya, jujur dia rindu istri nya, namun bayangan kejadian dengan yona entah mengapa selalu melintas setiap mereka bermesraan, mungkin itu rasa bersalah, danu melepaskan bibir nya, ara merengut, ia masih mau melakukan itu sudah lama rasa nya mereka tak melakukan nya, ara pun entah mengapa jadi ingin bermanja
"nanti bi Nur lewat" bisik danu,
"biarin" ara bangkit, bertumpu di sofa dengan lutut nya, ia mencumbu lagi danu, mengalihkan ciuman pada pipi, lalu telinga suami nya, ara berbisik
"ara mau mass"
danu memejamkan mata nya,
"ya Allah, aku harus bagaimana? aku merasa bersalah pada istri ku" hati nya bergejolak, ia pun sama menginginkan kenikmatan itu
danu, bergeser, melepaskan pangutan istri nya, ia menggendong ara menuju kamar,
lampu sudah di matikan, danu pun sudah melepas kaus rumahan nya,
ia melepas kancing piyama ara, bermain di sana,
"ara kangen mas, udah lama ya? “ kata kata ara mengingatkan nya lagi atas rasa bersalah nya,
danu menatap mata nya, ada tatapan mendamba di mata ara,
" maafin mas ya? “
ara tersenyum. ia berpikir danu meminta maaf karna mungkin telah lama mereka tak bersatu
"iya mas.. "
ara memposisikan diri nya di atas sang suami, danu menikmati momen itu, ara sungguh agresif malam ini, mereka sudah sama sama siap, ara sungguh menginginkan nya,
namun lagi lagi rasa bersalah nya memuncak, mengalahkan hasrat nya
danu mengusap pipi istri nya, mengecup kening nya "ara maafin mas ya, mas ga bisa lanjut"
ara terperangah, ara tak percaya atas ucapan danu, mereka sudah siap, baju mereka entah di mana,
ara tak bertanya lagi hal ini sudah beberapa kali terjadi, ia bangun, meraih baju nya, dan langsung memakai nya, ara keluar kamar,
danu sungguh merasa frustasi,
__ADS_1
"ya Allah, aku harus bagaimana?? "
ara pergi ke kamar papa, ia menangis di sana, danu sangat berbeda akhir akhir ini, di saat dia sudah membuka lebar hati nya untuk danu, danu malah begitu, ara tidak tau apa kah ia memiliki kesalahan pada suami nya, mereka tidak pernah bertengkar se ingat ara, malah sedang hangat hangat nya, ara tak pernah menuntut danu tentang janji nya bulan madu, ara tau suami nya sibuk
**
pagi datang, ara belum keluar dari kamar papa,
ini sudah jam tujuh, danu sudah berada di meja makan, hanya bi Nur yang terlihat sibuk di dapur
"bi, ara dimana? "
" bukan nya non ara sudah berangkat tadi pagi pagi pak dokter, katanya mau ketemu kliennya "
danu terdiam, rasa bersalah nya semakin dalam, ara jarang sekali marah, ini pertama kalinya ara menghindar,
danu bangun dari duduk nya
"bapak mau kemana? “
" saya lupa ada janji bi, saya berangkat ya"
"ga sarapan pak? "
"nanti saja bi"
bi Nur merasa heran dengan ke dua nya, ara pun berangkat sedikit tergesa bahkan bi Nur sempat melihat nona nya itu memiliki mata yang sembab,
ara di taman, ia menunggu seseorang, seseorang yang selalu ia tinggu kabar nya,
"bu ara?"
ara menoleh, orang yang di tunggu nya datang, dia anggi, pelantara penjualan rumah Rio
"engga mba, aku baru dateng"
"ah kebetulan kalo gitu, ini bu, anggi mendapat kabar alamat pak Rio yang baru lengkap dengan no HP nya"
ara meraih kertas yang anggi berikan,
" jauh sekali dia pindah"
"iya bu, pak Rio membangun rumah di desa orang tua nya, di sana harga tanah masih lumayan murah"
ara mengangguk,
"aku berterimakasih mba anggi udah mau bantu"
"sama sama bu, tapi saya harus buru buru bu, ada survey tempat lagi"
"kapan kapan main ke resto ya, aku kasih mba makan gratis sepuas nya"
"wah.. mantap bu, InsyaAllah nanti saya mampir"
"tapi kabarin saya dulu kalo mau ke resto ya"
"siap bu.. "
anggi pergi, ara masih ingin berlama lama di sana, anggi se malam tiba tiba memberi kabar tentang keberadaan Rio, entah kapan ara akan bertemu dengan Rio, tapi setidaknya ia tau keberadaan Rio, walau kini ia tak tau perasaan pada nya seperti apa,.
ara membeli bubur untuk sarapan nya, berencana memakan nya di warung pinggir jalan, ara menggunakan motor nya lagi, sudah begitu lama sejak ia kecelakaan,
__ADS_1
bubur pesanan nya datang, ara mulai menyendok nya, namun melihat bubur di hadapan nya, entah mengapa ia merasa mual, kepala nya terasa berat, aroma bubur itu menyengat di hidung nya.
ara bangun, meninggalkan bubur nya, ia tak berselera, membayar bubur itu lalu pergi,
selera makan nya entah hilang begitu saja,
ara akan pergi ke restoran saja, agus pasti sudah di sana membersihkan kan resto se pagi ini,
"lho ibu udah datang? "
"hehee udah dong"
"pake motor lagi bu? "
"iya gus kangen"
"ruangan ibu udah agus bersihin, tapi hati hati mungkin lantai nya masih basah"
"oke deh, makasih ya.. "
ara masuk, ruangan masih gelap karna tirai belum terbuka, ara merasa lapar, namun bukan nasi yang ia mau, ara pergi ke dapur, mencari sesuatu di kulkas, menemukan buah buahan untuk rujak, ara meraih nya, ia membuat asinan, entah mengapa sepagi ini ia menginginkan nya,
aroma cuka membuat ara segar, ia tambah semangat membuat nya
jhony datang ia terkejut melihat bos nya sedang berkutat di dapur sepagi ini, ini masih jam delapan kurang, biasa nya sang bos jam sepuluh baru datang.
"bu... ? "
ara menoleh ia tersenyum
"hallo"
jhony mencium wangi asinan di pagi hari,
"ibu nge rujak pagi pagi? "
"hehee lagi pengen jhon"
ara sangat lahap memakan asinan buatan nya, jhony sampai menahan air liur nya, merasa ngilu..
"bu... "
jhony memanggil bos nya lagi
"hmmm apa sih ah ganggu aja" ara menggerutu
"ibu lagi ngidam ya? pagi pagi udah asinan"
ara terdiam, menghentikan gerakan sendok nya, ia ingat ia belum datang bulan, terakhir waktu ia menikah dan itu sudah sebulan lebih.
"nah,, lagi mikir mikir tuh kapan haid terakhir" jhony bicara lagi
"iya bener jhon" jawab ara
"aduhhh selamat bu bos, saya turut bahagia ya"
ara melirik pada koki andalan nya itu,
ia tak menjawab, ara membawa asinan nya ke ruangan nya.
"apa bener aku hamil??" ara bergumam, mengingat ia beberapa kali berhubungan dengan danu,
__ADS_1
ara melanjutkan lagi makan asinan nya, nanti pulang kerja ia akan membeli alat itu..