Cinta Tak Di Sangka

Cinta Tak Di Sangka
bersiteru


__ADS_3

Ara memiliki janji dengan rio sore ini, mereka akan bertemu di taman kota,


rio sudah datang lebih dulu, kebetulan ini hari libur, rio tampak menggunakan kaus berwarna biru terang dan jeans hitam, ia sangat santai,


ara mendekati nya, berjalan mengendap endap, rio sedang menatap HP nya, ketika mata nya tertutup oleh dua buah tangan,


rio tersenyum, siapa lagi yang bisa melakukan itu selain ara, wangi parfume yang ara pakai sudah sangat ia hafal,


rio menggenggam pergelangan tangan ara, menjauhkan tangan agar tidak menutupi mata,


"hallo sayang, nunggu lama ya" (sapa ara, menempelkan pipi nya dengan pipi rio)


"hmmmm, lama banget, hampir aku mau pulang lagi"


"maaf ya... " ( ara berdiri, memutari kursi, ia duduk di sebelah rio, ara memeluk nya, bersandar di dada nya)


"jelasin sesuatu ke aku? "


"hmm., apa? (ara mengangkat wajah nya)


" siapa yang lamaran kemaren di restoran? “


deg, ara terdiam, namun ia tetap memandang pada rio,


"maaf yo.. "


"untuk apa? "


"ya kemaren dr danu ngelamar aku, sumpah aku ga tau itu, karena yg booking bukan dia, ternyata temen nya"


"kamu senang? "


ara menggeleng cepat,


"aku kan udah bilang aku sayang nya sama kamu yo, terus aku harus gimana?, aku juga udah bicarain kepengen aku sama danu"


rio membetulkan duduk nya, membuat ara melepaskan pelukan nya,.


"bicarain apa?? "


"emhhh yang 6 bulan itu.. " (jawab ara ragu)


"terus"??


" danu setuju yo"


rio nyengir, membuang wajah nya ke lain arah, tangan nya bertumpu pada lutut, rio menatap lurus ke arah depan,


"pernikahan itu sakral tiara, kamu ga akan bisa mempermainkan nya"


"maksud kamu apa yo? "


"aku ga yakin kamu akan dengan mudah lepas dari danu, (rio berbalik menatap ara, ia mendekat) ikatan pernikahan itu kuat ara"


"tapi aku ga sayang sama dia yo, terus aku harus gmn? “


" aku ga tau ra, ya kita coba saja, jika kamu bisa melakukan itu berarti kamu kuat,


tapi.... "


"tapi apa? (ara sungguh penasaran)


" enam bulan itu cukup lama ara, bukan seperti 6 hari atau 6 minggu, aku ga yakin bisa bertahan nunggu kamu"

__ADS_1


kini ara yang membuang muka,


"bawa aku pergi yo, aku udah ga peduli sama orang lain, aku pengen aku jadi apa yang aku mau"


rio menggenggam jari tangan ara,


"kamu tau konsekuensi nya kalo kamu pergi?? kamu mungkin akan dapat yang kamu mau, tapi kamu kehilangan papa kamu"


ara menarik tangan nya, diam sejenak mengumpulkan keberanian nya untuk bicara,


"ya, di sini aku yang jadi masalah nya,


jadi yang harus berkorban aku,. (rio membelai rambut ara, namun ia menepis nya)


aku mikirin kamu yo, aku puter otak gimana cara nya kabulin permintaan papa tapi aku ga pisah sama kamu"


"ya ara, tapi aku ga bisa janji buat bertahan, kamu tau.?? liat kamu lamaran aja hati aku udah kebakar, gimana aku bisa liat kamu menikah dan hidup bersama laki laki lain selama enam bulan...


bunuh aja aku ara"


ara terpaku, jujur ia terkejut atas ucapan rio tadi,


"aku udah minta kamu buat bawa aku pergi,


aku juga udah nyari jalan keluar yang lain,


kamu bilang aku akan kehilangan papa kalo aku pergi,


kamu ga bisa janji buat bertahan,


terus aku harus gimana yo?? bilang sama aku aku harus gmn?? (ara menangis, nada bicara nya meninggi, ia kalut)


ara bangun dari duduk nya, ia pergi begitu saja meninggalkan rio,.


" ara, dengerin aku... (rio meraih tangan ara, ara melepaskan nya dengan paksa)


"kamu ga tau rasa nya jadi aku yo,


di sisi lain aku punya mimpi, tapi kenyataan bawa aku ke arah yang lain,


ke dua nya bukan pilihan yang tepat buat aku, kamu tau yo aku hilang arah,


aku berharap aku dapet jalan dari masalah ini, dan kamu malah memperumit keadaan..


(rio meraih lagi tangan ara)


" tenang ara ayo kita duduk lagi"


"lepas yo, (ara mendorong sebelah bahu rio, membuat rio mundur beberapa langkah, ara maju, menunjuk nujuk dada rio


" kalo kamu ga bisa bertahan, ok i'm fine, makasih udah jadi temen deket aku selama dua tahun ini,


ternyata kamu ga bisa bertahan, jadi untuk apa aku coba bertahan, kalo kamu ga mau perjuangin cinta kita"


"ara dengerin aku"


rio lagi lagi memegang tangan ara, kini sedikit keras, ara mencoba melepaskan nya,


"yo lepasin ini sakit"


sebuah tangan memegang tangan rio, ara dan rio terdiam, secara bersama an menatap siapa pemilik tangan itu,


"lepasin, dia calon istri aku"

__ADS_1


danu melayangkan mata dingin nya, sedangkan rio menatap nya dengan mata tak suka.


Rio melepaskan genggaman tangan ara, begitu juga danu, melepaskan tangan rio,


"sudah selesai?? (tanya danu pada ara)


ara mengangguk, mata nya menatap rio, ara berbalik badan, mulai meninggalkan mereka


" ara... (panggil rio, refleks danu mencengkram kerah kaus yang rio pakai)


"aku bilang dia calon istri aku,


kamu ga bisa bertahan kan?


kalau begitu jangan harap aku lepasin ara"


danu melepaskan cengkraman tangan nya, lalu berbalik menyusul ara,


ara terdiam, mengumpulkan nafas dalam dalam, mengisi rongga dada nya yang terasa sesak,


danu datang dan memeluk nya, ara menangis di sana, menenggelamkan wajah nya si dada danu,


ketika ara mulai mereda, ara menjauhkan tubuh nya,


"aku mau ke resto"


"dengan keadaan gini??, mata kamu sembab ara,


ayo masuk mobil... (danu menuntun ara, membukakan pintu mobil untuk nya)


memberi waktu untuk ara menenangkan diri, danu memberi nya se kotak tisu,


"aku ga apa apa" (kata ara)


danu mendesah, ia tidak suka melihat ara menangis..


danu berinisiatif membawa ara ke suatu tempat,


ara tidak berkomentar,


"mas... (suara ara memecah keheningan)


" hmmmm (danu menengok nya sekilas, dan fokus lagi ke jalan raya)


"ara lapar... " (danu hampir saja menginjak rem secara tiba tiba, namun refleks nya masih baik, ia memelankan mobil nya, mencari tempat untuk berhenti)


"apa kamu bilang? laparr? "


ara mengerucutkan bibir nya dan mengangguk,


"ara belom makan dari pagi"


ya Tuhan ara,.. bagaimana bisa dalam situasi kayak gini kamu bilang lapar, dan apa itu bibir kamu manyun begitu, kamu tau itu sangat lucu. danu menggerutu dalam hati nya. ia tertawa


"oke, mau makan apa? dan di mana?? "


"ara mau bakso aja, makan yang pedes pedes enak kayanya"


danu tertawa lagi,


dasar wanita, bagaimana se cepat itu mood nya berubah,


"baiklah kita cari warung bakso terdekat"..

__ADS_1


__ADS_2