
* jika takdir ku harus seperti ini, aku hanya ingin kau mudahkan segala urusan ku Tuhan*
Melangkah memasuki rumah nya,
ara mendengar suara beberapa orang sedang berbicara,
masih dengan helm ditangan nya, ara melihat beberapa orang di ruang tamu itu sedang asik berbincang, salah satu nya dr aryo,...
"tuan, non ara pulang"
bi asih memberitahu papa, ara berdiri tak jauh dari pintu, memandang ke arah ruang tamu mereka,
papa menoleh,
tersenyum melihat putri nya telah datang,
"sini nak.. " (ucap papa lembut)
sontak membuat para tamu nya menoleh,
sebelum ara melangkah menemui papa nya, ara melihat seorang laki laki yang seperti nya ia kenal, memakai kemeja tangan panjang berwarna merah hati, danu pun langsung berdiri dari duduk nya,
"ara..??? “ (tanpa sadar mengudarakan kata itu, papa, dr aryo dan Retno (mamah danu) langsung menatap danu, sama sama berfikir ternyata anak mereka saling kenal,
ara teringat, ya laki laki itu danu, dokter yang pernah ia tabrak tempo hari,
ara tersenyum.,
masih menggunakan jaket, dan sarung tangan nya, ia melangkah maju menghampiri papa dan para tamu nya,
" pah, ( ara menyapa papa nya, ke khawatiran nya menguap sudah, melihat papa dengan keadaan sehat)
beralih pada tamu mereka, ara memberikan salam,
tersenyum pada danu yang masih menatap nya.
"sayang kamu cantik sekali" (kata mamah danu, membuat senyuman ara semakin melebar)
"terimakasih bu"
"sini sayang duduk sama mamah"
ara melepaskan jaket dan sarung tangan nya,
meminta bi Nur untuk menyimpan nya di kamar ara,
mamah Retno, memegangi tangan ara, melirik suami nya, Retno menganggukkan kepala nya, tanda ia menyukai ara,
aryo tersenyum.
__ADS_1
giliran ia yang melirik samsul (papa)
mereka saling melempar senyum.
"ara sayang, kenalin ini danu, anak mamah" (Retno berkata dengan penuh senyuman di bibir nya, dalam hati nya berkata, "sayang, mamah ingin cepat cepat menikah kan kalian mamah suka ara")
ara melirik danu,
" hay dok"
danu tersenyum mendengar sapaan ara
"hay ara"
"kalian saling kenal?? " (tanya papa)
" iya om, kita beberapa kali ketemu di RS, saya ga nyangka kalo yang ara bicarakan kemarin ternyata om samsul"
"wah, kalo begitu kita tidak usah mengenalkan lagi mereka," tambah aryo yang di jawab samsul dengan anggukan senang,
"ayo ara, kita makan malam, kami nunggu kam dari tadi, papa sudah pesan menu di restoran"
ara mengangguk, ia ingin menolak, karna baru saja ia makan dengan Rio,
"ayo pah"
bi Nur sudah rapi menyiapkan hidangan di meja,
ara menarik kursi untuk sang papa,
aryo, danu dan Retno juga sudah duduk,
ara terbiasa melayani papa nya,
ia tetap berdiri, menyiapkan piring, menuang nasi,
"papa mau makan sama apa? " (tanya ara sedikit berbisik, semua gerakan yang ia lakukan tak luput dari tatapan para tamu nya)
"teriyaki, sama capcay aja, nanti pake kerupuk"
ara mengangguk, menyendok menu pilihan papa nya
danu memperhatikan ara, bagaimana ia memperlakukan papa nya dengan manis, Retno melihat putra nya sedang menatap ara, membuat ia menyikut tangan suami nya, aryo ikut tersenyum.
"dok, bu Retno, ayo silahkan, dokter danu juga, maaf udah nunggu ara lama"
"ga masalah ara" jawab aryo
ara mempersilahkan tamu nya untuk menikmati hidangan, memastikan para tamu mencicipi semua menu yang di sajika,
__ADS_1
ara duduk di kursi, bersebelahan dengan danu,
namun ara tidak mengambil makanan nya, membuat danu refleks bertanya,
"kamu ga makan ara? "
"maaf, kebetulan ara tadi makan di luar, ara makan buah aja"
danu mengangguk,
mulai menyendok makanan nya,
mereka makan dalam hening, namun saling pandang dan tersenyum.
"bu, tambah lagi makan nya" (kata ara pada Retno)
"ya ampun ara, mamah udah kenyang" ( Retno tersenyum)
"dokter mau tambah lagi makan nya?" (tawar ara pada danu)
"cukup ara terimakasih" (tanpa sadar danu tak henti henti nya tersenyum)
ara bangkit, hendak menyiapkan obat papa,
Retno mengagumi ara sungguh, ara cantik, dengan rambut yang sedikit ikal, Retno ingat, itu rambut milik teman nya alm puspa,
" papa udah selesai?"
papa mengangguk,
"ini obat nya" ( ara menyodorkan obat untuk papa nya minum, dan papa menuruti nya)
"makasih sayang" (kata papa, memberikan lagi gelas pada ara, padahal bisa saja ia meletakan nya di meja)
bi Nur datang, membawa sebuah kue, setelah ara membantu nya membereskan meja makan,
tidak terlihat kecanggungan dari ara saat melakukan semua nya,
"ara, ajak danu ke belakang, ayo kalian bersantai lah" (ucap papa)
ara sempat terdiam, tidak ada penolakan dari danu walau sekedar basa basi,
ara melirik nya,
" dokter mau ke belakang?" (tanya ara sopan)
" boleh, ayo kita cari angin"
ara pamit pada papa dan yang lain nya, menuntun danu berjalan ke teras belakang rumah,
__ADS_1