
Dengan kecepatan penuh sekertaris Kim mengendarai mobilnya menuju kerumah sakit tempat ayahnya bekerja dulu.
" Dimana dia," ucapnya dengan nada yang sangat panik ketika baru saja sampai dirumah sakit.
" Beliau ada diruang operasi sekarang tuan, tapi tidak bisa kami pastikan apakah ini akan berjalan lancar atau tidak. Pasalnya dokter," ucapan dokter itu terpotong ketika sekertaris Kim tiba-tiba saja memegang kerah bajunya kasar.
" Selamatkan dia, jangan sampai terjadi apapun pada ayahku atau kalian akan tau sendiri konsekuensinya," ancamnya.
Dokter itu kembali masuk kedalam ruang operasi untuk menjalankan tugasnya.
Sementara itu sekertaris Kim masih saja terus mondar-mandir didepan ruang operasi dengan terus melafatkan doa.
***
Sementara itu Antoni yang sedang bersantai dengan keluarga kecilnya itu dikejutkan dengan suara telfon yang tiba-tiba saja sangat berisik.
" mas kenapa kau tidak mengangkatnya, siapa itu penting," ucap Kayla sambil masih terus melahap kentang gorengnya.
" emhh memangnya apa yang lebih penting dari dirimu dan Faris sayang," menerima suapan kentang goreng dari Kayla.
Satu panggilan hingga panggilan ketiga masih tidak digubris oleh Antoni, namun ketika ponselnya berbunyi untuk yang keempat kalinya Kaylalah yang merasa kesal karena dianggap berisik.
" Mas angkatlah panggilan itu, karena sangat menggangu. Dan mana ada orang yang menelfon sebanyak itu jika tidak penting," memberikan ponsel Antoni kepada pemiliknya.
Dengan raut wajah terpaksa Antoni mulai menjawab panggilan telfon itu.
" APA," Langusung berdiri dan membuat Kayla yang sedang bersender ditubuhnya itu sedikit tersingkir dan menjatuhkan makanannya.
" sisa mas pelan-pelan," ucap Kayla kesal dan mulai memungiti ketitik kentangnya yang berserakan dilantai.
" Maaf sayang," ucap Antoni dan langsung melangkah menjauh dari sana.
Kayla yang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya itu, segera mengikuti Antoni menuju kamar mereka.
" Mas ada apa, kau mau kemana malam-malam begini," ucap Kayla setelah meilihat suaminya kini berpakaian rapih dan membawa kunci mobilnya.
" Sayang aku harus segera kerumah sakit,"
__ADS_1
" Tapi siapa yang sakit mas,"
" Kau masih ingat bukan dokter yang kita temui dirumah sakit waktu itu. Dokter yang merupakan ayah dari Kim,"
Kayla yang langsung mengingat itupun kembali bertanya.
" Emhh aku ingat tapi memangnya beliau sakit apa,"
" Beliau mengalami kecelakaan dan sekarang kondisinya sedang kritis dirumah sakit. Aku harus segera kesana sekarang, pasti Kim juga sudah ada disana," mengecup kening Kayla sekilas lalu langsung ingin pergi.
" Mas tunggu aku ingin ikut yah, aku sangat khawatir dengan kondisinya. Dan aku yakin sekertaris Kim pasti juga membutuhkan dukungan kita sekarang ini," menahan tangan Antoni.
" Tapi sayang ini sudah malam, lagi pula tidak baik jika kita membawa Faris kerumah sakit,"
" Faris akan tinggal dengan bik Sum dan pengasuhnya. Tapi aku ingin ikut mas yah," memohon kepada Antoni karena dirinya juga sangat khawatir sekarang ini.
" Baiklah tapi jika aku menyuruhmu kembali nanti kau harus menurut dan tidak boleh membanta kau mengerti," tekan Antoni.
Kayla dengan pasti menganggukan kepalanya, kemudian mereka berdua segera menuju kerumah sakit dengan mobil yang dibawa pak Mut. Sementara itu Faris ditinggal dirumah dengan bik Sum dan juga para pengasuhnya.
***
Jadi ia memutuskan untuk menghubungi Kayla.
" Hai mama muda, lagi dimana nih sekarang," ucap Selly setelah panggilan terhubung dengan sahabatnya.
" Sel maaf banget yah tapi aku gak bisa bicara sekarang, karena aku lagi ada dirumah sakit," ucap Kayla dengan nada yang tidak teratur.
" Lah memang siapa yang sakit," tanya Selly penasaran.
" Kamu ingat gak sekertarisnya Antoni yang malam itu juga bantuin rencana kita. Ayahnya ngalamin kecelakaan dan sekarang lagi dirumah," ucapan Kayla terpotong karena tiba-tiba saja panggilannya terputus.
Setibanya Kayla dirumah sakit dia dibuat sangat terkejut dengan kehadiran sahabatnya itu.
" Selly," lirih Kayla pelan dan segera menghampiri wanita yang kini beridiri dilorong yang tidak jauh dari ruang operasi berada, sedang menatap kearah pria yang duduk dilantai sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sementara Kayla menghampiri Selly, Antoni lebih memilih untuk menghampiri sekertarisnya itu dan menepuk bahunya perlahan.
__ADS_1
" Sel kamu ngapain disini," memperhatikan gadis yang terus saja menatap kearah Sekertaris Kim.
Kayla tidak ingin banyak bertanya karena memang situasinya sekarang yang tidak memungkinkan.
Kaylapun perlahan meninggalkan Selly yang masih terpaku ditempatnya, dan menuju ke arah sekertaris Kim dan suaminya berada.
" Kim," lirih Antoni pelan sambil menepuk bahu sekertarisnya pelan.
Dapat terlihat jelas jika tubuh kekar itu kini sedang bergetar menandakan jika si pemilik tubuh sedang terisak dibalik tangannya itu.
" Tuan muda," luruhnya dan langsung memeluk Antoni yang ada dihadapannya.
Untuk pertama kalinya Kayla melihat sekertaris batu ini menangis seperti itu. Sepertinya benar-benar ada rasa sakit yang sangat dalam pada dirinya.
" Sudah Kim, kita tunggu saja. Aku yakin paman akan baik-baik saja," menepuk bahu sekertarisnya lembut.
" Ini semua salahku tuan muda, jika aku tidak memaksanya pergi dari sini, dan jika aku tidak pernah bersikap egois maka ini semua tidak akan pernah terjadi kepadanya," ucapnya ketika tangisnya yang kini semakin pecah.
Kayla seperti berputar kembali kemasa lalu ketika dia juga merasakan hal yang sama dengan sekertaris Kim sekarang, dimana dia kehilangan sosok ayahnya.
Antoni berusaha menguatkan sekertarisnya, namun apa daya ia juga seorang manusia yang lemah, sosok yang sedang berjuang didalam sana sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.
Antoni berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis, berusaha setegar mungkin dihadapan sekertaris Kim.
Kayla yang tahu hal tersebutpun segera mendekati Antoni dan menepuk bahunya pelan, seolah ikut menguatkan dirinya.
Antoni sangat bersyukur dia membawa Kayla kemari juga, karena jika tidak dia pasti sudah akan banjir dengan air matanya juga. Dan mungkin saja dia bisa berbuat sesuatu yang salah jika ada hal yang tidak ia inginkan terjadi.
Sementara itu Selly masih hanya terus berdiri disana, menatap sosok pria yang dulu pernah mengisi hidupnya. Ia ingin memeluk pria itu dan menguatkannya namun fikirannya bertentangan dengan hati kecilnya, fikiran dan logikanya melarang untuk mendekat kesana.
Hingga dia hanya bisa melihat dan menunggu dari jauh, berharap semua akan baik-baik saja.
Begitulah manusia sekuat dan setegar apapun mereka. Pasti akan ada disuatu titik mereka merasa lemah dan tidak bisa berbuat apapun.
Sekertaris Kim merupakan sosok pria yang dingin dan tidak punya perasaan, dia hanya hidup berdasarkan dengan kemauan tuannya, tapi manusia tetaplah manusia ia memiliki sebuah hati kecil yang bisa retak dan hancur kapanpun itu. Tidak memandang fisik, Drajat, maupun gender semuanya pasti punya rasa sakit. Entah itu seorang rakyat biasa yang makanpun hanya dengan sepiring nasi atau seorang raja yang makan denga piring emasnya.
Setiap masalah pasti akan selalu datang silih berganti dengan berjalannya waktu. Tapi selalu percaya dan yakinlah jika masalah itu pasti akan segera berlalu.
__ADS_1