
Saat ini Kayla sudah berada di depan rumahnya. Gadis itu mendapatkan telfon dari tantenya yang berada dirumah sakit.
"Apa ini, ini tidak mungkin benar-benar terjadi, apa yang sudah ibu lakukan sekarang. Dan dimana dia sekarang,"
Kayla menatap rumahnya yang kini sudah diberikan plang tanda dijual.
Kayla berusaha menelfon ibunya, namun wanita itu tidak kunjung mengangkat telfonnya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang," sangat panik karena bagaimana mungkin rumah keluarganya dijual.
Akhirnya setelah lama berfikir Kayla menelfon lgi tantenya itu
"Halo tan, apa belum ada kabar dari ibu, apa benar ibu yang sudah menjual rumah ini," ucapnya panik.
"Belum Kay, Tante masih belum dapat kabar apa-apa itupun tante tau jika rumah itu sudah dijual dari tetangga yang memberitahu tante," tak kalah paniknya.
"Baik tan kalau begitu, biarkan aku saja yang mengurus ini. Tante jaga saja ayah dengan baik,"
Kayla mengakhiri panggilannya. Dia sekali lagi menatap rumahnya itu..
Apa yang sudah dilakukan oleh ibu sebenarnya. Ucapnya lirih dalam hati. Dia sangat tidak menyangka bagaimana ibunya bisa melakukan hal ini. Dan apakah benar wanita itu yang melakukannya, jika benar kenapa dia melakukannya.
Saat Kayla sedang sibuk dengan pertanyaan yang ada difikirannya, para pengawal yang mengantarnya tadi datang menghampirinya.
"Nona, kita harus segera kembali, atau tuan Antoni akan sangat marah nantinya," ucap salah satu pengawal.
"Tidak kalian pergi lah dulu, aku memiliki urusan sekarang,"
"Tapi nona tuan," ucapannya terhenti.
"biar aku yang jelaskan padanya nanti,"
"Baik nona, kami akan menunggu anda hingga selesai,"
"Tidak, tidak perlu kalian kembali saja lebih dulu," ucapnya santai.
Nona apakah kau tidak tahu jika tuan muda marah maka dia bisa menghancurkan seluruh dunia, dia tidak akan segan-segan membunuh kami meskipun hanya dengan tatapannya saja. fikir para pengawal itu.
__ADS_1
"Kenapa kalian menatap ku begitu, sudah aku bilang bukan aku tidak papa, pergilah jika ada kalian aku merasa sangat aneh," usirnya.
"Baik nona,"
Akhirnya dengan terpaksa para pengawal itu meninggalkan Kayla sendirian.
***
Kayla kini berada di dalam taksi, dia berusaha menghubungi kenalan ibunya. Mencari tahu tentang wanita itu.
"Bagaimana ini tidak ada satupun yang tau ibu dimana,"
Kayla berusaha mengingat-ingat wajah orang-orang yang mengenal dekat ibunya itu. Tiba-tiba sebuah nama terlintas dipikiran Kayla.
"Benar paman Ji, dia pasti tau dimana keberadaan ibu sekarang," ucapnya semangat seolah telah mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya.
Jifar adalah kakak dari ibu tiri Kayla, mereka cukup dekat. Jadi Kayla berfikir jika pria itu pasti tau dimana wanita itu berada sekarang.
Kayla menekan nomor disalah satu kontaknya, Paman adalah tujuan panggilan itu.
"Halo paman," saat panggilan sudah terhubung.
"Paman, apa paman tau dimana keberadaan ibu sekarang,"
"Ibumu aku tidak tau, ya kemarin aku sempat bertemu dengannya, dia mengatakan akan segera mengakhiri ini semua, tapi aku tidak tau apa yang dimaksudkannya," jelasnya kepada Kayla.
Bahkan paman nya itu tidak tau sama sekali dimana keberadaan ibu tiri Kayla itu.
Setelah menutup telfon. Kayla menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, sekedar untuk menenangkan fikirannya.
Jika paman saja tidak tahu, maka siapa lagi yang harus aku tanya. Dan ibu mengatakan akan segera mengakhiri ini semua, apa yang ingin dia akhiri sebenarnya. Begitu banyak pertanyaan yang terlintas difikaran Kayla.
Hp Kayla berbunyi, menandakan ada telfon masuk dari nomor orang tidak dikenal.
nomor siapa ini, fikirnya. Akhirnya Kayla menjawab panggilan itu.
"Halo,"
__ADS_1
"Nona muda dimana anda sekarang," setengah berteriak, dari nada bicaranya terdengar sangat khawatir.
"Halo ini siapa," tanyanya
"Nona ini saya sekertaris Kim,"
"Ada apa sekertaris Kim," jawabnya santai.
"Nona anda dimana sekarang, tuan muda sangat marah saat ini," ucapnya panik.
"Aku ada didalam taksi, aku masih ada urusan diluar sekarang, ada apa," masih santai, belum mengerti yang dimaksudkan oleh sekertaris Kim itu.
"Nona anda harus cepat kembali, jika tidak saya tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan tuan muda," nadanya seperti memperingati.
"Baiklah aku akan pulang sekarang, aku sudah dekat jadi akan segera sampai sebentar lagi,"
Saat Kayla ingin menutup telfonnya terdengar lagi seseorang sedang menyebut namanya disebrang telfon.
"Hey gadis bodoh, jika kau belum ada dirumah dalam lima menit maka aku akan menghabisi mu beserta seluruh keluargamu," terdengar sangat murka.
Dari nada bicaranya itu bukanlah seperti sebuah gurauan tapi sebuah ancaman yang akan benar-benar terjadi jika Kayla tidak tepat waktu.
Bagaimana ini, dia sangat marah. Apa yang harus kulakukan sekarang.
Kayla menutup panggilan secara sepihak, dia tidak mau menjawab perkataan Antoni karena jika dia menjawab justru akan mendatangkan petaka baginya.
"Pak bisa lebih cepat lagi," Kayla menyuruh supir taksi itu untuk menambah kecepatan mobil nya dengan nada yang sangat panik.
Flash back.
Antoni sekarang sudah dalam perjalanan pulang, wajahnya masih penuh dengan senyuman entah apa yang membuatnya begitu bahagia hari ini.
Sepertinya tuan muda, benar-benar salah makan dari tadi dia terus tersenyum seperti itu. Entah senyuman itu bermakna apa, tapi itu sangatlah mengerikan. Hei tuan muda jangan tersenyum seperti itu, karena itu sangatlah menyeramkan, dengan senyuman itu seolah menggambarkan jika kau akan menghancurkan dunia saja saat ini. Fikir sekertaris Kim.
***
Senyuman Antoni saat ini sudah menghilang berganti dengan ekspresi wajah yang ingin menghabisi musuhnya. Dia benar-benar sangat marah saat ini. Itu semua terjadi karena laporan para pengawal yang ia tugaskan untuk menjaga istrinya. Mereka tidak bersama dengan Kayla dan itu benar-benar sudah membuat Antoni murka. Jika saja bukan sekartaris Kim yang menahannya mungkin dia sudah membu**h para pengawal itu.
__ADS_1
Dimana anda nona, kenapa anda bisa melakukan kesalahan sebesar ini. Sekarang anda sudah membuat tuan muda benar-benar marah. Hanya Tuhan sajalah yang tau apa yang akan dilakukan pria ini sekarang. Bahkan Tuhan sepertinya tidak bisa menyelamatkan Anda saat ini nona muda. Semua sekarang tergantung bagaimana cara anda menjelaskan kepada tuan Antoni.
Fikir sekertaris Kim, sambil memperhatikan tuannya yang sudah memporak porandakan seluruh isi kamarnya.