Cinta Untuk Gadis Penebus Hutang 2

Cinta Untuk Gadis Penebus Hutang 2
Tingkah laku aneh Kayla


__ADS_3

Antoni kini membawa Kayla yang terus merengek untuk diturunkan dari gendongannya.


" Mass... turunkan aku, aku sungguh tidak apa," rengek Kayla.


" Diam atau kau ingin aku menjatuhkan mu ditangga ini," Mengancam Kayla.


Walaupun Kayla tau jika Antoni hanya mengancam dirinya, namun kata-kata itu berhasil membuatnya bungkam.


Antoni meletakkan istrinya dikasurnya.


" Mas... kau ini berlebihan sekali sih," protes Kayla.


" Dimana pak Mut kenapa dia tidak membawakan kotak obatnya," tidak memperdulikan Kayla.


" Mass apa kau mendengarkanku," mulai kesal dengan Antoni.


" Ehh apakah aku sebaiknya memanggil dokter," bergumam sendiri sambil terus memerhatikan jari Kayla yang tertusuk duri.


" Aku sungguh tidak apa mas, tidak perlu sampai memanggil dokter segala. Bahkan jika tidak diobati tetap akan baik-baik saja. Lagipula sudah tidak sakit lagi, rasanya itu hanya seperti digigit semut saja," terus berbicara kepada Antoni.


" Ehh dimana aku meletakkan itu," masih tidak menghiraukan Kayla yang terus saja berbicara.


Antoni sibuk mencari sesuatu.


" Apa yang kau cari mas," tanya Kayla yang memperhatikan pria itu.


" ahh aku menemukannya," menunjukkan sebuah kaca pembesar kepada Kayla.


" Kaca pembesar," sangat bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh pria itu.


Antoni kembali mendekati Kayla dan mengecek jari istrinya lagi.


" Mas apa yang kau lakukan sebenarnya," ingin menarik tangannya dari genggaman Antoni.


" Diamlah, aku tidak bisa melihat lukanya karena terlalu kecil," menggunakan kaca pembesar untuk melihat jari Kayla.


" Kau tidak akan bisa melihatnya karena memang lukanya tidak ada mas," sangat kesal.


" Jika tidak ada luka kau fikir darah bisa keluar begitu saja hah," ucapnya masih terus memperhatikan jari itu.


Antoni sangat fokus seperti mencari sebuah berlian di tengah sambudra.


Pak Mut masuk membawakan kotak obat yang diminta oleh Antoni tadi.


" Tuan muda ini kotak obatnya," meletakkan dimeja dekat kasur.


Pak Mut memperhatikan tuan mudanya.


" Tuan muda apa yang anda lakukan," tanya Pak Mut yang memperhatikan Antoni sedang sibuk mengamati tangan Kayla menggunakan kaca pembesar.


Orang normal pasti akan langsung bertanya hal itu. Ucap Kayla dalam hati.


" Aku sedang memperhatikan lukanya apakah sangat parah atau tidak,"


Pak Mut dan Kayla saling menatap tidak percaya, mereka sama-sama saling mengangkat bahu tidak tahu.


" Mut apakah sangking parahnya hingga lukanya tidak terlihat seperti ini," tanya Antoni kepada pak Mut.


" Saya rasa tidak tuan muda, nona muda baik-baik saja dan sekarang lukanya sudah tertutup karena itu hanya tertusuk duri saja," jelas Pak Mut.


Yah pak Mut jelaskan kepada tuanmu ini. Dia bersikap seolah aku tertusuk duri semua bunga yang ada disana. Kayla masih bergumam didalam hatinya.


" Kita tidak boleh menyepelekan hal sekecil apapun Mut, cepat panggil dokter dan katakan lukanya sangat parah bahkan sampai tidak terlihat meskipun aku sudah menggunakan kaca pembesar,"

__ADS_1


" Mas sebenarnya berapa IQ mu hah, apakah kau tidak pernah mempelajari hal ini," ucap Kayla.


" 180," jawabnya singkat.


Kayla tersenyum paksa. Untuk apa juga dia menanyakan hal yang sudah jelas itu.


" Kau itu bukankah seharusnya sangat cerdas, tapi kenapa kau tidak bisa mengerti hal ini. Kenapa tidak sekalian saja kau gunakan mikroskop untuk melihat lukanya,"


" Benar juga, Mut Carikan aku mikroskop sekarang," hanya menangkap kata-kata terakhir Kayla.


Ahhh aku pasti akan gila jika hidup dengan pria ini.... Kayla berteriak didalam hatinya.


" Masss bagaimana sebenarnya cara agar kau bisa mengerti hah. Jika kau bersikap seperti ini mengatakan jika lukaku sangat parah aku merasa kau berharap itu terjadi,"


" Kau tau betul aku tidak ingin kau terluka sedikitpun," menatap Kayla serius.


" Mas kau tau apa obat yang paling baik bagi luka ini," ucap Kayla serius.


" Apa," tanyanya penasaran sambil mendekatkan wajahnya kearah Kayla.


Pak Mut yang tidak ingin melihat tingkah aneh dari kedua majikannya ini segera angkat kaki dari tempat itu.


" Begini," meletakkan jari yang tertusuk duri tadi kebibir Antoni.


Wajah Antoni memerah.


Aku terpaksa menggunakan cara terakhir untuk membuat pria ini diam. Lirih Kayla dalam hati sambil menarik kembali jarinya dari bibir Antoni.


" Apa yang kau lakukan," ucap Antoni pelan.


" Lukaku ini tidak membutuhkan obat ataupun dokter tapi hanya dengan kecupanmu disana saja sudah membuatnya jauh lebih baik," tersenyum lebar.


Antoni tersenyum mendengar kata-kata manis dari istrinya itu.


" Baiklah berikan, aku akan menciumnya lagi biar cepat sembuh," meletakkan jari Kayla dibibirnya lagi.


" Mas aku lapar," ucap Kayla yang berada didada Antoni.


" Kau ingin makan apa sekarang," tanya Antoni yang masih sibuk mengecup jari Kayla.


" Bagaimana dengan makanan yang pedas," ucapnya semangat.


" Tidak boleh bagaimana jika penyakit lambung mu kambuh," dengan tegas menolak.


" Lalu kita makan apa dong," tanya Kayla lagi.


"Terserah kau saja," jawabnya singkat.


" Terserah aku tapi kau tidak menerima dengan saranku," bangun dari dada Antoni dan menarik tangannya menjauh dari bibir Antoni.


" Baiklah aku yang akan memilihnya, kita akan memakan sayuran hijau,"


" Tidak mau," jawab Kayla cepat.


" Kenapa," ikut bangun juga.


" Rasanya tidak enak, aku tidak suka makan sayur," menutup mulutnya membayangkan sayuran hijau.


" Bukankah kau biasanya makan itu,"


" Aku bilang tidak suka yah tidak suka," cemberut.


" Baiklah kau ingin makan apa sekarang," tanyanya lagi.

__ADS_1


" Jika makanan pedas tidak boleh maka makanan manis saja yah," menatap Antoni.


" Tidak makanan manis tidak baik untuk gigimu,"


" Aku bukan anak kecil mas,"


" Memangnya hanya anak kecil yang giginya bisa copot," jawabnya telak.


" Ya sudah tidak usah makan," langsung berbaring membelakangi Antoni.


" Jika hari ini kau menurut maka besok kita akan pergi berkencan,"


Kayla langsung bangun dan menatap Antoni dengan penuh senyum.


" Kau janji tidak bohongkan," ucapnya semangat.


Antoni mengangguk memberikan sebuah kepastian kepada Kayla.


" Baiklah kita deal, aku akan makan apapun juga sekarang. Ayo," mengajak Antoni untuk turun kebawah.


Antoni hanya tersenyum melihat tingkah Kayla yang seprti ini.


Antoni merasa jika sifat gadis ini sedikit berbeda beberapa waktu belakangan ini. Ia terkesan lebih manja kepada Antoni, dan juga yang biasanya dia tidak berani menentang Antoni secara terang-terangan kini dia mengungkapkan semua yang ada di otaknya itu tanpa difikirkan terlebih dahulu. Sifatnya lebih terkesan seperti seorang bocah bagi Antoni.


Kayla akhirnya bisa makan dengan lahap semua makanan yang diberikan Antoni.


Sementara Antoni hanya melihat makanannya.


" Tuan muda ada apa," tanya bik Sum.


" Ntahlah bau makanan nya tidak enak,"


" Tapi ini baik-baik saja tuan bahkan nona makan dengan sangat lahap," menunjuk kearah Kayla yang makan dengan sangat lahap.


Akhirnya Antoni mencoba menyuap makanan itu tapi dia merasa sangat mual dan ingin muntah.


" Mas kau kenapa," tanya Kayla yang berhenti makan dan memperhatikan Antoni yang masih merasa mual.


" Entahlah aku sangat ingin muntah jika memakan ini,"


"Bukankah kau sendiri yang ingin makan sayur tadi," ucap Kayla kepada Antoni.


" Entahlah aku tidak nafsu sekarang," ucapnya lesu.


" Kalau begitu minumlah susu ini dulu," memberikan segelas susu kepada Antoni.


Antoni mencoba meminum susu itu, tapi begitu menghirup aroma susu itu dia langsung merasa sangat mual dan bergegas ke kamar mandi dilantai bawah.


Kayla yang melihat Antoni langsung mengikutinya kerana sangat merasa khawatir.


" Mas apakah kau sedang sakit, tapi bukankah tadi pagi kau baik-baik saja," Sambil memijat bahu Antoni.


" Entahlah aku merasa tidak enak badan sekarang," ucapnya lesu dan segera memeluk Kayla.


" Baiklah ayo aku antar kekamar, kita akan panggil dokter yah," ucapnya kepada Antoni.


"Tidak mau," ucapnya menggelengkan kepalanya dibahu Kayla.


" Tapi kenapa, tadi kau yang ngotot memanggil dokter tapi kini kau malah tidak mau dipanggilkan dokter," mengelus punggung Antoni.


" Tadi berbeda sayang," ucapnya pelan.


" Apa bedanya,"

__ADS_1


" Tadi kau yang sakit dan sekarang adalah aku,"


" Tidak perduli siapa yang sakit sekarang, kita harus memanggil dokter kemari atau sekalian saja kerumah sakit,"


__ADS_2