
Setelah sekitar dua jam lamanya mereka menunggu pintu ruangan operasi itu akhrinya terbuka juga dan menampakkan wujud seorang pria berpakaian khusus operasi.
Tanpa menunggu lebih lama lagi Antoni dan juga sekertaris Kim segera mendekati dokter itu.
" Bagaimana keadaannya dokter," tanya Antoni masih dengan wibawanya.
" Sulit mengatakannya sekarang, tapi kita doakan saja semoga Tuhan dapat memberikan kita jalan," ucap dokter itu, terlihat jelas diwajahnya ada semburat rasa takut disana.
" Sudah aku katakan bukan, kau harus menyelamatkan ayahku. Jika dia sampai tidak selamat maka itu semua adalah salahmu," sekertaris Kim lagi-lagi menggenggam kerah dokter itu kuat.
" Kim tenangkan dirimu itu," ucap Antoni.
Hanya dengan ucapan dari tuan mudanya itu, Sekertaris Kim seperti sebuah mesin robot yang diatur tuannya dan langsung menuruti perintah itu.
" Dokter, tapi masih ada harapan bukan, maka kita harus tetap berjuang sekecil apapun kemungkinannya itu," ucap Kayla sambil tersenyum hangat kearah sang dokter, seolah memberikan dokter itu sebuah semangat baru untuk menyelamatkan pasiennya.
" Kami akan memindahkan pasien keruangan lain, disana dia akan dipantau terus perkembangannya," tersenyum sekilas kemudian segera masuk lagi kedalam ruangan operasi.
Sekertaris Kim langsung terduduk ditempat, seolah nyawanya beterbangan disekitarnya.
" Kayla sebaiknya kau pulang dulu, kasian Faris ditinggal sendiri dirumah," berbicara kepada Kayla yang sedang menepuk bahu sekertarisnya.
Untung aja situasinya lagi mendesak kayak gini, kalau gak manusia yang bernama Antoni ini pasti tidak akan terima jika Kayla menyentuh orang lain seperti itu terutama itu adalah seorang pria.
" Tapi mas Faris tidak sendiri, disana ada bik Sum dan juga para pelayan yang lainnya. Aku tidak mungkin membiarkan dua manusia gegabah seperti kalian ini tinggal disini. Bisa-bisa kalian menghancurkan ruang sakit ini nantinya," sempat-sempatnya dia menyampaikan sebuah kata-kata yang memang benar adanya.
Antoni tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena memang benar apa yang dikatakan oleh istri asal ceplosnya ini.
Lalu bagaimana dengan Selly?, ternyata gadis itu masih berada diposisi yang sama. Hanya menatap dengan diam dari kejauhan sambil terus meneteskan air matanya.
Bahkan sesekali Kayla melirik sahabatnya itu, tapi dia ragu apakah ini adalah saat yang tepat untuk mengurusi hal mengganjal ini. Jadi Kayla memutuskan untuk mengintrogasi suaminya nanti disaat semuanya sudah membaik.
Setelah sang ayah dipindahkan keruangan perawatan, sekertaris Kim hanya berdiam diri di depan pintu kamar. Melihat tubuh sang ayah yang sudah renta termakan usia kini hanya bisa berbaring tidak sadarkan diri.
__ADS_1
" Kim kenapa kau tidak coba masuk saja kedalam, ayahmu pasti membutuhkanmu bukan sekarang," untuk pertama kalinya Kayla memanggil nama pria itu tanpa ada embel-embel sekertarisnya.
" Nona muda, apakah anda merasa jika saya pantas ada didalam. Saya adalah putra paling tidak berguna didunia, orang yang berhati malaikat sepertimulah yang tahu segalanya," menunduk sedih.
Kayla hanya tersenyum jenaka.
" Berhati malaikat apanya, aku ini hanyalah wanita bodoh dan ceroboh yang kebetulan bernasib baik mendapatkan seorang suami seperti tuan mudamu itu," berusaha untuk mencairkan suasana saat ini.
" Nona muda, anda tau jika itu tidak akan berhasil bukan," kembali menatap kedalam ruangan yang sama tempat sang ayah terbaring.
" Cih apa salahnya mencoba sedikit," mengalihkan pandangannya kepada sang suami yang kini menatapnya dengan tatapan kecemburuan mematikan khas Antoni.
Kayla mengangkat alisnya memberi kode jika dia penasaran apa yang terjadi dengan tatapan pria itu.
Antoni ikut memainkan alisnya, diikuti juga permainan bola matanya.
Kayla yang kurang paham kembali mengangkat kedua alisnya. Dan begitu aja terus sampai ******.
" Kau kenapa mas," tanya Kayla setelah duduk disamping sang suami.
"Kim, Kim kim aku itu bukan wanita berhati malaikat tapi nyenyenyenyenyenye," seolah mengejek Kayla.
Kini Kayla kembali mengangkat alisnya, bingung dengan tingkah manusia yang satu ini.
" Emuachhhh," memberikan kecupan dipipi Antoni.
Bak seekor kucing kecil Antoni langsung tersenyum semringah ketika mendapatkan perlakuan seperti barusan. Dan meluaplah semua kedongkolannya yang tadi.
" Mas apa kau tidak lelah, sebaiknya kau pulang saja yah. Biar aku yang menemani sekertaris Kim dan juga ayahnya disini,"
" Apa kau ingin berdua dengannya disini," kan kesal lagikan.
" Unchhhhhhh suamiku ini kenapa sih pencemburuan banget, kan gak mungkin sekertaris Kim ditinggal sendirian disini, gimana nanti dia bunuh dokternya atau dia neror semua pasien pasti bakalan serem banget kan," Memainkan jarinya dileher Antoni.
__ADS_1
" Kalau begitu aku juga tidak akan pulang, aku akan tetap disini. Lagi pula jika kau dibiarkan disini bisa-bisa ada laki-laki lain yang melirikmu dan akan menculikmu dari sini,"
" Ayolah siapa juga yang mau dengan gadis sepertiku," bersandar dibahu Antoni.
" Benar juga kau itukan bodoh dan ceroboh, wajahmu juga bisa dibilang dibawah standar. Jadi mana mungkin ada yang mau menyulikmu,"
Kayla yang kesal segera mencubit perut Antoni hingga membuat pria itu meringis kesakitan.
Ini dua orang memang gak tau tempat dan situasi buat romantis-romantisan. Seperti sekarang, disaat seperti ini sempat-sempatnya mereka saling bercanda dan bermesraan dibelakang pria yang kini bersetatus jomblo abadi itu.
Kayla tertidur dibahu Antoni karena merasa lelah, semalaman berjaga diluar ruangan, sementara itu Antoni juga ikut memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya dikepala sang istri juga.
Sementara itu sekertaris Kim kini tengah duduk didepan pintu, sesekali berdiri guna memeriksa ruangan sang ayah.
" Kim," lirih Selly pelan.
Setelah memikirkannya cukup lama akhirnya wanita itu memutuskan untuk mendekati pria yang kini terlihat tidak berdaya itu.
Perlahan sekertaris Kim mengangkat kepalanya dan mendapati sosok Selly lah yang berada disana.
Dengan segera pria itu menghapus air matanya, dan kembali kemode seramnya lagi.
" Ini," memberikan sebuah saputangan.
" Untuk apa itu," bahkan suaranya saja tidak bisa berbohong. Kini suara sekertaris Kim sangat serak karena terus saja menangis.
" Anggap saja aku adalah orang asing yang kebetulan melihat seseorang yang sedang menangis dan membutuhkan bantuan. Atau anggap saja aku sebagai teman dari nona mudamu yang kebetulan berada disini," ucapannya terpotong karena terkejut ketika sekertaris Kim langsung menariknya kedalam dekapan pria itu.
" Kalau begitu biarkan ini sebentar saja, dan lupakan setelah ini," ucap sekertaris Kim dalam pelukan sang wanita.
" Baiklah, aku berjanji aku akan melupakan semuanya seperti biasanya," mengelus lembut Surai hitam sang pujaan hati dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Hanya ada keheningan dilorong itu, sepasang kekasih lainnya kini sedang terbuai dengan mimpi mereka masing-masing. Sedangkan yang lainnya sedang memainkan sebuah peran kehidupan yang mengharuskan mereka menjadi orang asing dalam cinta mereka.
__ADS_1